Menjaga Bumi, Merawat Toleransi: Menyemaikan Nilai Khonghucu dari Dapur hingga Meja Makan.

Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag. (Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Lintas Agama MATAKIN Pusat)
1. Pembuka (Masalah yang Kita Hadapi Sehari-hari)
Di hampir setiap rumah, ada satu sudut tersembunyi, entah di dalam laci dapur atau gantung pintu, yang menjadi “museum” kecil bagi kantong-kantong kresek bekas belanjaan. Kita mengumpulkannya dengan niat baik, merasa telah bijak mengelola sampah atau berniat mendaur ulang (recycle) kelak. Namun, benarkah kebiasaan menyimpan plastik tersebut sudah cukup untuk menyelamatkan bumi kita?
Mari kita lihat fakta mengerikannya. Plastik membutuhkan waktu hingga seribu tahun untuk bisa terurai secara alami. Penimbunan plastik dalam jumlah masif ini menjadi bom waktu yang sangat berbahaya bagi ekosistem kita. Ketika sampah plastik ini tidak terkelola, mereka akan terbawa oleh air sungai hingga akhirnya bermuara di lautan.
Di laut, plastik-plastik ini pecah menjadi partikel microplastic kecil yang tak sengaja termakan oleh ikan-ikan. Tragisnya, ikan-ikan yang telah terkontaminasi plastik tersebut nantinya ditangkap dan dikonsumsi oleh manusia. Ini adalah lingkaran setan: racun kimia dari plastik yang kita buang akan kembali ke meja makan kita sendiri, memicu berbagai penyakit mematikan seperti kanker. Data global bahkan menunjukkan bahwa dari semua plastik yang kita buang dengan harapan bisa didaur ulang, hanya sekitar 9% yang benar-benar menjelma menjadi barang baru. Mengandalkan daur ulang itu seperti mencoba menguras air banjir di rumah pakai sendok teh; telat dan tidak sebanding.
2. Ekoteologi Khonghucu: Menghadirkan Ayat Suci dalam Laku Sehari-hari
Di sinilah ajaran Khonghucu sebenarnya memberikan solusi yang sangat praktis dan membumi lewat pengendalian diri. Merawat bumi bukan soal teori besar, tapi soal apa yang kita lakukan saat di kasir minimarket atau saat hendak membeli makan siang.
Nabi Kongzi pernah bersabda dalam Kitab Lunyu XII: 1:
“Mengendalikan diri pulang kepada Kesusilaan (Li), itulah Cinta Kasih (Ren). Bila suatu hari dapat mengendalikan diri pulang kepada kesusilaan, dunia akan kembali kepada Cinta Kasih. Cinta Kasih itu bergantung kepada usaha diri sendiri, dapatkah bergantung kepada orang lain?”
Konsep Li (Kesusilaan/Keharmonisan) di sini jangan hanya dibayangkan sebagai tata cara ibadah di Litang. Li adalah cara kita hidup harmonis dengan sekeliling kita, termasuk dengan alam. Ketika kita dengan sadar menerima kantong plastik sekali pakai yang ujung-ujungnya meracuni tanah dan rantai makanan kita, kita sedang egois. Kita gagal “mengendalikan diri.”
Menolak (Refuse) kantong plastik di kasir adalah bentuk paling nyata dari mengendalikan diri demi menjaga keharmonisan alam. Langkah ini harus dibarengi dengan kesiapan diri dan perubahan perilaku yang konsisten: selalu membawa kantong belanja sendiri dari rumah, membawa botol minum sendiri kemana-mana agar bisa isi ulang (refill), serta membawa wadah makan sendiri saat membeli makanan di luar. Ini adalah aksi nyata untuk memotong produksi sampah langsung dari sumbernya.
Lalu, bagaimana dengan kebiasaan kita yang suka lapar mata dan konsumtif? Dalam Mencius VIIA: 45 dikatakan:
“Seorang Junzi (Insan Berbudi Luhur) cinta kepada barang-barang tetapi tidak menaruh Ren (Cinta Kasih) seperti kepada manusia… Ia mengasihi rakyat, maka ia cinta (merawat) kepada barang-barang.”
Mencintai barang dalam ayat ini artinya menghargai fungsinya dan tidak mengeksploitasinya, bukan menimbunnya sampai jadi sampah. Mengurangi belanjaan yang tidak perlu (Reduce) serta menghemat pemakaian listrik dan energi di rumah bukan berarti kita pelit, melainkan kita sedang mempraktikkan sifat Ren (Cinta Kasih). Kita sedang menghemat sumber daya bumi agar anak cucu kita nanti masih bisa kebagian air bersih, udara segar, dan lingkungan yang sehat.
3. Merawat Toleransi dan Ekoteologi: Bergandengan Tangan Lintas Agama
Gagasan ekoteologi ini bukanlah wacana di atas kertas semata. Momen berharga ini makin diperkuat ketika saya berkesempatan menjadi salah satu narasumber mewakili umat Khonghucu dalam acara Bedah Buku “Tuhan Kita Esa” dan Dialog Antar Agama bertema “Bumi Rumah Bersama: Moderasi Beragama dan Tanggung Jawab Ekoteologis” yang diselenggarakan oleh Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN KHAS Jember.
Dalam forum tersebut, Ketua LP2M, Dr. Zainal Abidin, S.Pd.I., M.Si., menegaskan bahwa krisis ekologis saat ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis moral, spiritual, bahkan teologis. Pada ruang dialog ini, para tokoh dan perwakilan dari tiap-tiap agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Khonghucu, masing-masing memaparkan perspektif dan ajaran sucinya mengenai tanggung jawab menjaga alam. Dari seluruh pandangan yang disampaikan, kami menyadari satu hal krusial: kerusakan lingkungan adalah ancaman nyata yang melampaui batas-batas sekat iman, dan setiap tradisi keagamaan sejatinya memanggil pemeluknya untuk menjadi pelindung bumi.
Melalui kegiatan ini, Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN KHAS Jember menargetkan keluaran berupa rumusan rekomendasi lintas iman yang menautkan moderasi beragama dengan tanggung jawab ekologis. Rekomendasi ini mencakup edukasi komunitas, penguatan jejaring lintas agama, hingga aksi kolaboratif merawat lingkungan di tingkat lokal sebagai rumah bersama.
Meskipun kita berkeyakinan dan beribadah dengan cara yang berbeda, kita semua bertetangga di atas tanah yang sama dan menghirup udara dari langit yang sama. Bumi adalah Rumah Bersama. Memelihara kerukunan antarumat beragama dan merawat alam adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Toleransi sejati tidak hanya berhenti pada sikap saling menghormati dogma, tetapi terwujud dalam aksi nyata merawat lingkungan secara kolaboratif. Beriman berarti bertanggung jawab atas masa depan kehidupan di bumi.
4. Penutup (Langkah Kecil yang Bisa Diukur)
Jika kita menerapkan prinsip Zhong Yong (Tengah Sempurna/Keseimbangan), kita tahu bahwa keseimbangan bumi yang rusak akibat jutaan ton sampah ini hanya bisa disembuhkan jika kita mengembalikan keseimbangan gaya hidup kita sendiri.
Mari kita mulai dari hal yang paling bisa kita kendalikan minggu ini melalui aksi nyata:
Tantangan Menolak & Membawa Sendiri (Refuse): Dalam 7 hari ke depan, jadikan kantong belanja kain, wadah makan, dan botol minum sebagai barang wajib di dalam tas sebelum keluar rumah. Targetkan untuk mengucapkan, “Terima kasih, tidak usah pakai plastik, saya bawa kantong belanja dan wadah sendiri,” minimal 5 kali. Secara matematis, Anda sudah memotong rantai sampah sebelum ia sempat tercipta dan meracuni lautan.
Gaya Hidup Hemat Energi (Reduce): Di saat yang sama, mari kita latih kebiasaan mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan untuk menghemat energi di rumah.
Merawat bumi dan merawat toleransi ternyata tidak butuh formula rumit. Cukup dimulai dari persiapan kantong belanja kita, isi tumbler kita, melatih rem pada ego dan dompet kita, serta membuka hati untuk terus bergandengan tangan menjaga bumi sebagai rumah bersama.*
