AGAMA YANG HIDUP DALAM LAKU
Dari Keyakinan Menuju Perbuatan
Oleh: Thonang Effendi
Pada tulisan sebelumnya, Agama Ageming Aji, agama direnungkan bukan sekadar sebagai sesuatu yang diyakini, diketahui, atau diucapkan, melainkan sebagai ageman—sesuatu yang dikenakan dan dihayati dalam kehidupan.
Namun, ketika agama telah menjadi ageman, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana keyakinan yang bersemayam di dalam dada dapat menemukan bentuknya dalam laku—dalam pekerjaan, tutur kata, keputusan, dan cara manusia memperlakukan sesamanya?
Sebab keyakinan yang hanya tinggal dalam pikiran akan berhenti sebagai pengetahuan. Nilai yang hanya berhenti di lisan akan menjadi kata-kata. Bahkan pemahaman agama yang luas pun belum tentu membuat seseorang mampu menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah laku mengambil tempat.
Ngelmu Iku Kalakone Kanthi Laku
Dalam Serat Wedhatama, terdapat ungkapan yang sangat kuat: Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Ilmu itu terlaksana melalui laku.
Kalimat pendek tersebut menyimpan renungan panjang. Pengetahuan tidak menemukan maknanya hanya karena seseorang mampu mengingat dan menjelaskannya. Pengetahuan menjadi berarti ketika ia memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan.
Demikian pula dengan agama. Mengetahui ajaran agama belum tentu membuat seseorang menjalankannya. Memahami nilai kebaikan belum tentu membuat seseorang memilih kebaikan ketika berhadapan dengan kepentingan dirinya sendiri. Ngerti belum tentu nglakoni.
Karena itu, antara keyakinan dan perbuatan terdapat sebuah perjalanan. Keyakinan perlu menemukan keteguhan hati. Keteguhan hati melahirkan pilihan. Pilihan yang terus dilakukan menjadi laku. Laku yang diulang menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ditempa perlahan membentuk budi.
Maka, perjalanan itu dapat diringkas: Keyakinan → Pilihan → Laku → Kebiasaan → Budi → Manfaat. Di situlah agama mulai bergerak dari sesuatu yang diyakini menuju sesuatu yang dihidupkan.
Dari Percaya Menuju Memilih
Keyakinan pada akhirnya selalu berhadapan dengan pilihan. Seseorang boleh meyakini kejujuran sebagai nilai yang baik. Tetapi ketika kejujuran berhadapan dengan keuntungan, apakah ia tetap memilih jujur? Seseorang dapat memahami pentingnya amanah. Tetapi ketika tidak ada yang melihat, apakah amanah itu tetap dijaga? Seseorang dapat berbicara tentang kesabaran. Tetapi ketika menghadapi orang yang berbeda pendapat, apakah kesabaran itu hadir dalam tutur katanya? Di situlah keyakinan menemukan medan pengujiannya.
Ujian terbesar sebuah keyakinan bukanlah seberapa fasih seseorang menjelaskan apa yang dipercayainya, melainkan seberapa jauh keyakinan itu memengaruhi pilihan ketika tidak ada manusia yang menyaksikan.
Dalam Islam, hubungan antara iman dan amal memiliki kedudukan yang sangat erat. Keyakinan tidak berhenti di dalam hati, tetapi menemukan konsekuensinya dalam amal saleh dan perilaku kehidupan.
Karena itu, agama tidak semestinya hanya membentuk apa yang seseorang yakini tentang Tuhan, tetapi juga membentuk bagaimana ia memperlakukan manusia, menjalankan amanah, mencari rezeki, menggunakan kekuasaan, dan mengambil keputusan.
Tentu, setiap agama memiliki kerangka teologis, istilah, dan ajarannya sendiri. Tidak tepat menjadikan semuanya seolah-olah sama. Namun, ada satu wilayah dialog yang menarik: keyakinan yang sungguh-sungguh dihayati memiliki konsekuensi terhadap cara manusia menjalani kehidupan. Di sinilah perjumpaan agama dengan kehidupan menjadi penting.
Ketika Agama Masuk ke Meja Kerja
Agama sering kali dibicarakan dalam ruang ibadah. Padahal kehidupan manusia jauh lebih luas daripada ruang ibadah. Sebagian besar waktu manusia justru dihabiskan di rumah, tempat kerja, perjalanan, ruang publik, dan kini juga di ruang digital. Karena itu, agama yang hidup semestinya ikut hadir di sana.
Meja kerja pun dapat menjadi tempat seseorang menjalankan agamanya. Ketika seorang karyawan memilih tidak memanipulasi data meskipun memiliki kesempatan, di sana ada nilai yang sedang dijalankan. Ketika seorang pemimpin memberikan penilaian secara adil meskipun orang yang dinilainya bukan orang yang dekat dengannya, di sana ada nilai yang sedang dijalankan.
Ketika seorang pedagang memilih tidak mengurangi timbangan, seorang profesional menjaga integritas pekerjaannya, seorang pejabat menggunakan kewenangan dengan penuh tanggung jawab, atau seorang pekerja mengakui kesalahan tanpa mencari kambing hitam, agama menemukan bentuknya dalam laku.
Tidak selalu ada ayat yang disebut. Tidak selalu ada simbol keagamaan yang terlihat. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui. Tetapi nilai agama sedang bekerja. Agama yang hidup bekerja dalam sunyi.
Ia hadir ketika seseorang mengembalikan sesuatu yang bukan haknya. Ia hadir ketika seseorang menahan ucapan yang dapat melukai. Ia hadir ketika seseorang memilih menyelesaikan pekerjaan dengan sungguh-sungguh meskipun tidak sedang diawasi. Di situlah keyakinan menjadi nyata.
Iman yang Memiliki Jejak
Agama tidak berhenti pada hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Keyakinan kepada Tuhan semestinya memberikan warna pada hubungan horizontal dengan sesama. Sebab kehidupan manusia selalu berada dalam jaringan hubungan.
Ada hubungan antara atasan dan bawahan. Antara penjual dan pembeli. Antara guru dan murid. Antara orang tua dan anak. Antara pemimpin dan masyarakat. Antara sesama warga yang berbeda latar belakang.
Di setiap hubungan itu, ada ruang untuk menghidupkan nilai agama. Kejujuran menjadi nyata ketika ada kesempatan untuk berbohong. Amanah menjadi nyata ketika ada sesuatu yang dapat disalahgunakan. Kesabaran menjadi nyata ketika berhadapan dengan orang yang menjengkelkan. Welas asih menjadi nyata ketika bertemu orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Kerendahan hati menjadi nyata ketika seseorang memiliki kelebihan tetapi tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.
Dengan demikian, ukuran nilai bukan hanya apa yang dikatakan seseorang ketika berbicara tentang kebaikan, tetapi juga apa yang dilakukan ketika berhadapan dengan kenyataan. Laku adalah jejak yang ditinggalkan keyakinan.
Ketika Laku Menjadi Kesalehan Sosial
Ada bentuk kesalehan yang mudah terlihat. Ada pula kesalehan yang justru bekerja dalam diam. Seseorang dapat terlihat baik ketika berada di hadapan banyak orang. Namun kehidupan akan memperlihatkan kualitas yang sesungguhnya ketika tidak ada panggung.
Bagaimana seseorang memperlakukan keluarga setelah seharian bekerja? Bagaimana ia berbicara kepada orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya? Bagaimana ia bersikap kepada orang yang tidak dapat memberikan keuntungan kepadanya? Bagaimana ia menggunakan media sosial ketika berhadapan dengan perbedaan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sesungguhnya membawa agama ke wilayah yang sangat konkret.
Kesalehan bukan hanya persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana hubungan itu melahirkan kebaikan dalam kehidupan bersama. Sebab seseorang tidak hidup sendirian.
Apa yang diyakini akan memengaruhi apa yang dipilih. Apa yang dipilih akan memengaruhi apa yang dilakukan. Apa yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan pada akhirnya ikut membentuk karakter.
Karakter seseorang kemudian tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya. Di situlah kesalehan pribadi menemukan dimensi sosialnya.
Agama Diuji dalam Perkara Biasa
Sering kali manusia membayangkan bahwa mengamalkan agama selalu berkaitan dengan perkara-perkara besar. Padahal karakter justru lebih sering dibentuk oleh perkara kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Mengembalikan barang pada tempatnya. Datang tepat waktu. Menepati janji. Mengakui kesalahan. Tidak mengambil hak orang lain. Mendengarkan sebelum menjawab. Menghargai orang yang berbeda pendapat. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik meskipun tidak ada yang memeriksa. Meminta maaf ketika bersalah. Berterima kasih ketika menerima kebaikan.
Perkara-perkara itu mungkin tampak sederhana. Tetapi dari sanalah kebiasaan terbentuk. Laku yang terus dilakukan akan menjadi bagian dari diri. Karena itu, pembentukan karakter tidak selalu membutuhkan peristiwa besar. Sering kali ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
Hari ini memilih jujur. Besok memilih jujur lagi. Lusa kembali memilih jujur. Pada suatu titik, kejujuran tidak lagi terasa sebagai pilihan yang berat. Ia telah menjadi kebiasaan. Dan ketika kebiasaan itu mengakar, ia mulai menjadi bagian dari budi.
Dari Laku Menuju Budi
Di sinilah hubungan antara tulisan ini dengan Agama Ageming Aji menjadi semakin jelas.
Pada tulisan pertama, agama ditempatkan sebagai ageman—sesuatu yang dihayati dalam kehidupan. Pada tulisan kedua, pertanyaannya adalah bagaimana ageman itu terlihat. Jawabannya: melalui laku. Namun laku tidak berhenti pada tindakan.
Laku yang dilakukan terus-menerus membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang dipelihara membentuk watak. Watak kemudian memengaruhi bagaimana seseorang hadir di tengah kehidupan. Dari sinilah budi terbentuk.
Agama memberi nilai. Laku memberi bentuk. Kebiasaan memberi keteguhan. Budi memberi arah pada kehidupan. Karena itu, laku nyata adalah jembatan yang menghubungkan agama sebagai sumber nilai menuju pembentukan budi sebagai watak luhur. Dan budi yang luhur pada akhirnya tidak hanya membuat seseorang menjadi baik bagi dirinya sendiri. Ia membuat keberadaannya memberi manfaat bagi orang lain.
Kesalehan yang Dibawa Pulang
Ada satu ruang yang sering menjadi ujian paling nyata: kehidupan setelah seseorang meninggalkan tempat ibadah. Ketika sholat selesai, ketika pengajian usai, ketika buku agama ditutup, ketika pakaian terbaik dilepas, nilai apa yang ikut dibawa pulang?
Apakah kesabaran ikut masuk ke dalam rumah? Apakah kejujuran ikut masuk ke tempat kerja?
Apakah kasih sayang hadir dalam hubungan dengan keluarga? Apakah amanah tetap dijaga ketika tidak ada yang melihat? Apakah kerendahan hati tetap hidup ketika seseorang memperoleh kedudukan? Di situlah agama benar-benar diuji.
Sebab kesalehan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan tempat ibadah. Ia dibawa pulang ke rumah, dibawa ke tempat kerja, dibawa ke ruang publik, dan dibawa ke tengah kehidupan bersama.
Dengan demikian, ritual dan laku bukanlah dua hal yang perlu dipertentangkan. Ritual memberikan ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan meneguhkan nilai. Laku menjadi ruang tempat nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan. Keduanya semestinya saling menguatkan.
Dari Keyakinan Menuju Perbuatan
Pada akhirnya, agama yang hidup bukanlah agama yang hanya ramai dibicarakan. Ia hidup ketika keyakinan memengaruhi pilihan. Ia hidup ketika pilihan menjadi laku. Ia hidup ketika laku dilakukan dengan konsisten. Ia hidup ketika kebiasaan membentuk budi. Dan ia menemukan maknanya ketika budi menghadirkan manfaat.
Ujian terberat dari sebuah keyakinan bukanlah seberapa fasih kita memperdebatkan doktrinnya, melainkan seberapa jujur kita menghidupkannya saat memegang amanah yang tak terlihat mata manusia.
Sebab kemuliaan agama tidak sedang dipertaruhkan di atas mimbar-mimbar khotbah semata, melainkan juga diuji dalam sunyinya kejujuran di meja kerja, kelembutan tutur kata saat menghadapi perbedaan, dan ketulusan tangan saat menolong sesama.
Dari sanalah agama turun dari gagasan menjadi tindakan. Dari keyakinan menjadi pilihan. Dari pilihan menjadi laku. Dari laku menjadi budi. Dan dari budi lahirlah manfaat.
Di sanalah keyakinan mulai menjadi laku. Di sanalah laku perlahan membentuk budi. Dan di sanalah agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini, tetapi menjadi nilai yang benar-benar dihidupkan.
Sebab pada akhirnya, agama yang hidup bukan hanya terdengar dalam ucapan dan terlihat dalam identitas. Ia terasa dalam kehidupan—dalam cara manusia bekerja, menjaga amanah, memperlakukan sesama, dan menghadirkan kebaikan di mana pun ia berada.
Biografi Singkat Penulis
Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.
