Muhammadiyah Mendunia: Siapa Merawat Benih Dakwahnya?
Oleh Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag.
Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik
Refleksi dari ceramah Dr. Drs. H. Hajriyanto Y. Tohari, M.A., tokoh Muhammadiyah dan politisi, di Masjid Raya Muhammadiyah Uswatun Hasanah, Jakarta Barat, pada 10 Oktober 2026, dalam rangkaian Milad ke-114 Muhammadiyah di Jakarta Barat. Pengembangan gagasan merupakan refleksi penulis.
Benih Tersebar, Siapa yang Merawat?
Sebuah gerakan dapat kehilangan kehidupan jauh sebelum papan namanya diturunkan. Kepengurusannya masih tercatat, tetapi kaderisasinya berhenti. Gedungnya berdiri, tetapi pelayanannya kehilangan kehangatan. Kegiatannya berlangsung, tetapi semakin jauh dari persoalan masyarakat.
Kemungkinan itulah yang perlu diperiksa ketika Muhammadiyah memperingati miladnya. Usia panjang membawa warisan pengabdian sekaligus kewajiban memastikan bahwa warisan tersebut terus hidup.
Ceramah Hajriyanto Y. Tohari menjadi titik berangkat untuk merenungkan Surah Al-Fath ayat 29. Perumpamaan tanaman dalam ayat tersebut mengajak kita membaca pertumbuhan gerakan dengan jujur.
Muhammadiyah dapat dibayangkan sebagai kebun pengabdian yang membentang ke seluruh pelosok negeri, bahkan menjangkau berbagai sudut belahan bumi. Benih dakwahnya berupa iman, ilmu, kader, serta kepedulian yang diwujudkan melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan pelayanan kemanusiaan.
Sebagian tumbuh kokoh. Sebagian masih bertunas. Sebagian bertahan melalui pengorbanan segelintir orang. Pertanyaannya: setelah benih tersebar begitu jauh, apakah perhatian kita menjangkau semuanya?
Menanam Membuka Tanggung Jawab
Al-Fath ayat 29 menggambarkan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya melalui keteguhan, kasih sayang, ibadah, serta perumpamaan tanaman. Ibnu Katsir menjelaskan perumpamaan itu sebagai gambaran para sahabat yang menguatkan perjuangan Rasulullah. Hubungannya dengan Muhammadiyah merupakan pengambilan pelajaran, bukan klaim bahwa ayat tersebut khusus menunjuk Persyarikatan.
Bagian perumpamaan itu berbunyi:
كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ
Maknanya: seperti tanaman yang mengeluarkan tunas, kemudian menguatkannya, menjadi kokoh, dan tegak di atas batangnya, sehingga menyenangkan para penanamnya.
Ada proses pertumbuhan dan penguatan. Dalam organisasi, pembentukan harus diikuti pembinaan. Surat keputusan membuka tanggung jawab; pelantikan memulai pekerjaan.
Membentuk ranting berarti menyiapkan kehidupan jamaah. Membuka sekolah berarti menjamin pendidikan bermutu. Mendampingi muallaf berarti menyediakan pembelajaran dan persaudaraan setelah syahadat.
Menanam adalah kesediaan memulai; merawat adalah kesungguhan menunaikan amanah.
Pertumbuhan Berbeda, Pendampingan Harus Tepat
Benih tidak tumbuh seragam. Tanah, air, cahaya, dan perawatan memengaruhi perkembangannya.
Muhammadiyah pun menghadapi keadaan berbeda. Ada lingkungan dengan banyak kader dan dukungan ekonomi. Ada yang kekurangan tenaga serta pendanaan. Di luar negeri, bahasa, budaya, dan ketentuan setempat menambah kebutuhan akan kecermatan pendekatan.
Karena itu, kemajuan harus dinilai secara adil. Besarnya bangunan dan banyaknya kegiatan perlu disandingkan dengan keadaan awal, tantangan, mutu pelayanan, serta perubahan yang dirasakan masyarakat.
Ranting kecil yang mempertahankan pengajian dan mendampingi keluarga rentan dapat menunjukkan perjuangan besar. Cabang dengan kemampuan lebih luas mempunyai tanggung jawab lebih besar pula.
Namun, keterbatasan tidak boleh terus menjadi pembenaran atas ketiadaan ikhtiar. Kekurangan kader memerlukan kaderisasi. Lemahnya pengelolaan memerlukan pembenahan.
Pimpinan di atasnya wajib bertanya: sudahkah kesulitan didengar dan pendampingan diberikan?
Mengharapkan pertumbuhan tanpa pembinaan menyerupai penanam yang menunggu panen tetapi mengabaikan air.
Yang Kuat Harus Menguatkan
Sekolah maju dapat mendampingi sekolah yang sedang meningkatkan mutu. Perguruan tinggi dapat membantu pemetaan kebutuhan masyarakat. Tenaga ahli dapat berbagi kemampuan pengelolaan, teknologi, dan pelayanan.
Solidaritas memerlukan pekerjaan konkret: kebutuhan dipetakan, pendamping ditugaskan, dan hasil dievaluasi. Dengan demikian, persaudaraan menghasilkan kemampuan baru.
Pohon besar perlu diperiksa manfaat naungannya. Apakah melindungi tunas, atau menutup seluruh cahaya?
Pertanyaan itu berlaku bagi kepemimpinan. Senioritas membawa kewajiban membimbing. Kader muda membutuhkan ruang, tanggung jawab, dan kepercayaan.
Regenerasi tersendat apabila generasi baru hanya diberi pekerjaan tanpa kesempatan mengambil keputusan. Sebaliknya, kepercayaan membutuhkan pembinaan agar melahirkan kematangan.
Keberhasilan pemimpin terlihat pada tumbuhnya orang-orang yang sanggup meneruskan perjuangan.
Akar Iman, Keteguhan Amanah
Perumpamaan pertumbuhan dalam ayat ini hadir bersama rukuk, sujud, serta pencarian keridaan Allah. Kekokohan lahiriah dapat direnungkan sebagai sesuatu yang memerlukan kedalaman spiritual.
Bagi Muhammadiyah, akarnya adalah tauhid, keikhlasan, ilmu, dan amanah. Keuangan harus dipertanggungjawabkan. Jabatan harus dijalankan sebagai pengabdian. Pelayanan harus menjaga martabat manusia.
Sekolah perlu memperhatikan mutu sekaligus akses pendidikan. Pelayanan kesehatan perlu menjaga profesionalitas sekaligus kepekaan terhadap pasien. Pengajian perlu membantu jamaah memperbaiki kehidupan.
Bangunan diperbesar dengan dana. Kepercayaan dibangun melalui perilaku konsisten.
Keteguhan prinsip juga harus disertai kasih sayang. Penyimpangan wajib ditangani secara adil. Kritik beralasan perlu didengar. Musyawarah memerlukan kesediaan mempertimbangkan.
Dalam masyarakat majemuk, pelayanan yang adil menghadirkan nilai Islam melalui tindakan. Hal ini selaras dengan Islam Berkemajuan yang menjunjung kemuliaan manusia dan kemaslahatan masyarakat luas.
Berani Memeriksa Kebun Sendiri
Kebun membutuhkan pemeriksaan. Dalam organisasi, hambatan dapat berupa konflik yang dibiarkan, kaderisasi terputus, rapat tanpa tindak lanjut, atau program yang kehilangan relevansi.
Evaluasi harus menyentuh hasil. Setelah pelatihan, kemampuan apa yang bertambah? Setelah bantuan, apakah penerima semakin berdaya? Setelah kepengurusan terbentuk, pekerjaan apa yang terlaksana?
Pemeriksaan itu perlu diterjemahkan menjadi rencana: siapa mendampingi siapa, persoalan apa yang diselesaikan, dan kapan kemajuan ditinjau. Tanpa tindak lanjut, evaluasi hanya menambah dokumen sementara tunas yang lemah tetap menunggu pertolongan.
Unit melemah perlu didampingi. Pengelolaan bermasalah harus dibenahi. Kepemimpinan yang mengabaikan amanah perlu dievaluasi sesuai ketentuan.
Membiarkan kelemahan berlarut-larut berarti mewariskan beban kepada generasi berikutnya.
Milad sebagai Janji Perawatan
Kegembiraan penanam dapat kita renungkan ketika manusia yang dahulu ditolong mampu menolong orang lain. Anak didik menjadi pendidik. Keluarga dampingan menjadi mandiri. Kader bertumbuh menjadi pemimpin amanah.
Milad ke-114 mengajak kita mensyukuri pengorbanan pendahulu dan memperbarui tanggung jawab. Generasi penerus berhak menerima Persyarikatan yang hidup, mampu belajar, dan sanggup melayani.
Jangan sampai tunas yang ditanam dengan air mata para pendahulu mengering karena kelalaian kita.
Muhammadiyah mendunia membawa tanggung jawab semakin luas. Setiap benih dakwah hendaknya disertai janji: kami akan merawatmu sampai engkau mampu berdiri, memberi manfaat, dan menumbuhkan kebaikan berikutnya.*
