Opini Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag. Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik

SUDAH BERISLAM, SUDAHKAH BERIMAN?Refleksi Kritis atas Gagasan Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P._

Oleh: Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag. Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik

Kita hidup pada masa ketika agama semakin mudah ditampakkan. Masjid semakin megah, pengajian semakin semarak, perjalanan umrah dan haji terus meningkat, sementara ayat Al-Qur’an, hadis, dan nasihat keagamaan hadir setiap hari melalui layar telepon genggam.

Namun, di tengah semarak itu, sebuah pertanyaan justru menjadi semakin penting: apakah semakin kuatnya ekspresi keberagamaan dengan sendirinya menunjukkan semakin dalamnya iman?

Pertanyaan tersebut mengemuka ketika Prof. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.A.P. berbicara dalam Hari Bermuhammadiyah PWM DKI Jakarta, Sabtu, 5 September 2026. Ia mengajak jamaah kembali merenungkan QS Al-Hujurat ayat 14. Ketika orang-orang Arab Badui menyatakan, “Kami telah beriman,” Allah mengoreksi pengakuan itu: jangan mengatakan telah beriman, tetapi katakanlah telah berislam, sebab iman belum masuk ke dalam hati.

Ayat tersebut bukan untuk mempertentangkan Islam dan iman. Justru ia mengingatkan bahwa keberagamaan memiliki dimensi lahir sekaligus kedalaman batin. Ketundukan yang tampak harus berakar pada keyakinan, dan keyakinan harus menghasilkan konsekuensi moral.

Di sinilah refleksi Prof. Muhadjir menjadi penting untuk membaca keadaan kita hari ini.

*Ketika Ritual Belum Menjadi Moral*

Problem keberagamaan kita sesungguhnya bukan terutama kekurangan ritual. Yang patut direnungkan adalah kemungkinan terputusnya mata rantai antara ritual, iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Sholat dapat dilihat. Puasa dapat diketahui. Haji dapat disaksikan. Namun, iman menemukan pembuktiannya dalam kejujuran ketika ada kesempatan untuk berbohong, amanah ketika tersedia peluang menyalahgunakan kekuasaan, keadilan ketika kepentingan pribadi dapat diuntungkan, dan keberpihakan kepada yang lemah ketika diam sebenarnya lebih nyaman.

Paradoksnya, ekspresi agama berkembang, tetapi korupsi, manipulasi, ketidakadilan, hoaks, kerakusan ekonomi, perundungan, dan penyalahgunaan kekuasaan belum hilang dari kehidupan kita.

Tentu ini bukan kegagalan agama. Persoalannya adalah sejauh mana agama benar-benar telah menginternalisasi diri menjadi kesadaran moral.

Al-Qur’an menegaskan bahwa sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Maka ketika sholat belum berpengaruh terhadap perilaku, yang perlu diperiksa bukan ajaran sholatnya, tetapi kedalaman penghayatan orang yang menjalankannya.

Keberagamaan dengan demikian tidak cukup diukur dari seberapa banyak ritual dilakukan, tetapi juga dari manusia seperti apa yang dilahirkan oleh ritual itu.

*Dari Islam dan Iman Menuju Ihsan*

Hadis Jibril memberikan konstruksi yang sangat utuh: Islam, iman, dan ihsan. Ketiganya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk menunjukkan kesatuan keberagamaan yang lahiriah, batiniah, dan moral-spiritual.

Ihsan menghadirkan kesadaran yang sangat dalam: beribadah seakan-akan melihat Allah; dan jika tidak mampu melihat-Nya, sadar bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.

Kesadaran seperti inilah yang sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan publik.

Bayangkan jika “Allah melihatku” hadir dalam kesadaran pejabat ketika mengambil keputusan, hakim ketika memutus perkara, pengusaha ketika memperoleh keuntungan, guru ketika mendidik, dokter ketika melayani pasien, ataupun pemimpin ketika menggunakan kekuasaan.

Pada titik itu, seseorang tidak jujur hanya karena takut tertangkap, tidak menolak korupsi semata-mata karena takut hukum, dan tidak berlaku adil sekadar karena diawasi.

Ada pengawasan batin yang bekerja bahkan ketika tidak seorang pun melihat.

Inilah ketika iman memperoleh relevansi sosialnya.

*Ketika Manusia Merasa Tak Lagi Membutuhkan Tuhan*

Refleksi Prof. Muhadjir menjadi semakin menarik ketika persoalan iman dibawa memasuki tantangan peradaban kontemporer. Ia menyinggung Homo Deus karya Yuval Noah Harari.

Ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan, kedokteran, bioteknologi, dan rekayasa genetika memberikan kemampuan kepada manusia yang beberapa generasi sebelumnya sulit dibayangkan. Penyakit semakin dapat diprediksi, organ tubuh dapat diganti, genetika dapat dimodifikasi, sementara AI mampu mengolah pengetahuan dalam skala dan kecepatan yang melampaui kemampuan individual manusia.

Islam tentu tidak perlu takut terhadap kemajuan. Wahyu pertama justru dimulai dengan iqra’. Muhammadiyah sejak kelahirannya juga memilih jalan ilmu, pendidikan, kesehatan, dan pembaruan.

Karena itu, yang harus dikritisi bukan teknologinya, melainkan cara manusia memahami dirinya setelah memiliki teknologi.

Bahaya sesungguhnya muncul ketika kemampuan berubah menjadi kesombongan: karena semakin banyak yang dapat dikendalikan, manusia merasa semakin sedikit membutuhkan Tuhan.

Di sinilah Homo Deus menarik untuk dibaca secara kritis. Problemnya bukan semata-mata mesin yang semakin menyerupai kecerdasan manusia, tetapi manusia yang tergoda melampaui kesadaran akan keterbatasannya sendiri.

AI dapat memberikan jawaban atas jutaan pertanyaan, tetapi tidak menentukan untuk apa manusia hidup.

Teknologi dapat memperpanjang usia, tetapi tidak menjawab untuk apa tambahan usia itu digunakan.

Bioteknologi dapat memperbaiki tubuh, tetapi tidak otomatis memperbaiki keserakahan, kebencian, dan kesombongan yang bersemayam dalam diri manusia.

Kecerdasan tidak identik dengan kebijaksanaan. Kemampuan juga tidak dengan sendirinya melahirkan moralitas.

Justru semakin besar kemampuan manusia, semakin besar tanggung jawab etiknya.

*Dari Al-Ma’un: Iman yang Menjadi Tindakan*

Dalam konteks Muhammadiyah, gagasan tersebut menemukan relevansinya pada pelajaran KH Ahmad Dahlan tentang Surah Al-Ma’un.

Al-Qur’an tidak berhenti pada bacaan. Murid-murid Ahmad Dahlan didorong menerjemahkan ayat menjadi tindakan: mencari orang miskin, menyantuni anak yatim, dan menghadirkan pertolongan nyata.

Dari cara memahami agama seperti inilah tumbuh sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, panti asuhan, dan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah.

Artinya, iman memiliki konsekuensi sosial.

Karena itu ukuran kemajuan Muhammadiyah tidak cukup hanya pada banyaknya gedung, sekolah, rumah sakit, cabang, atau ranting. Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan yang lebih substantif:

Berapa banyak persoalan manusia yang dapat diselesaikan karena Muhammadiyah hadir?

Di sinilah iman menemukan bentuk peradabannya.

*Muhammadiyah di Persimpangan Zaman*

Muhammadiyah kini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari satu abad lalu: AI, perubahan dunia kerja, ketimpangan digital, krisis lingkungan, konsumerisme, disinformasi, dan generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem global.

Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh memilih antara iman dan kemajuan. Justru tantangannya adalah menunjukkan bahwa iman dapat memberikan orientasi kepada kemajuan.

Masjid harus dimakmurkan, tetapi umat juga harus menguasai ilmu. Pengajian harus hidup, tetapi ekonomi umat juga harus kuat. Teknologi harus dikuasai, tetapi manusia jangan sampai diperbudak teknologi. Kesalehan individual harus tumbuh bersama keberanian memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Inilah medan baru Islam Berkemajuan.

*Iman yang Memberi Arah Zaman*

Pada akhirnya, pertanyaan “Sudah berislam, sudahkah beriman?” tidak selayaknya diarahkan kepada orang lain. Ia harus menjadi cermin bagi diri sendiri.

Krisis keberagamaan terjadi ketika ritual terputus dari akhlak, iman terpisah dari tanggung jawab sosial, dan ilmu berkembang tanpa kebijaksanaan.

Karena itu, keislaman harus berakar kuat dalam iman. Iman harus mencapai kualitas ihsan. Ihsan harus menjelma menjadi amal. Dan amal harus menghadirkan kemaslahatan serta membangun peradaban.

Di sinilah refleksi atas gagasan Prof. Muhadjir menemukan relevansinya bagi Muhammadiyah dan masyarakat modern: kita tidak perlu memilih antara menjadi manusia beriman atau manusia maju. Yang kita perlukan adalah kemajuan yang memiliki arah, ilmu yang memiliki moral, kekuasaan yang memiliki amanah, dan teknologi yang tetap tunduk kepada kemaslahatan manusia.

Sebab persoalan besar zaman ini bukan lagi sekadar apakah manusia mampu menciptakan mesin yang semakin cerdas.

Pertanyaan yang jauh lebih menentukan adalah: ketika teknologi semakin cerdas dan manusia semakin berkuasa, apakah iman, moral, dan kebijaksanaan manusia juga semakin matang?

Jika tidak, kita mungkin berhasil membangun dunia yang semakin canggih, tetapi kehilangan arah untuk apa kemajuan itu sesungguhnya diciptakan.

Dan di situlah iman menjadi sangat menentukan: bukan untuk menghentikan perubahan zaman, tetapi untuk memastikan perubahan zaman tetap berjalan menuju kemaslahatan dan ridha Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *