Sebagai nara sumber utama Prof. Singgih Tri Sulistiyono yang menekankan pentingnya peran dai muda dalam menjaga harmoni sosial dan mencegah ekstremisme, Guru Besar Undip tersebut membawakan materi berjudul ‘Internalisasi Budaya Organisasi dan Kesiapan Dai Muda LDII di Era Kontemporer’ yang dipanelkan dengan Narasumber dari Polres Klaten dengan judul ‘Peran Dakwah dalam Merawat Nasionalisme dan Menjaga Kondusifitas Bangsa serta Nara sumber dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah yang menyampaikan materi tentang ‘Penguatan Moderasi Beragama dan Strategi Dakwah Mencerahkan di Era Digital’.
“Pelatihan Dai Muda tingkat Provinsi Jawa Tengah yang mengangkat tema dakwah moderat dan transformasi digital di era kontemporer ini, poin utamanya membentuk karakter dai yang disiplin, profesional, dan memiliki ikatan kuat dengan nilai luhur organisasi. Menjaga nasionalisme berbasis Pancasila untuk merawat keutuhan bangsa di tengah tantangan global dan yang lebih penting lagi membekali dai muda agar cakap digital dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi,” jelas Prof. Singgih.
Hadir pada kegiatan tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama RI Kabupaten Klaten, Kaprodi FDK UIN Sunan Kalijaga beserta tim dan para tamu undangan.
Acara yang diawali dengan penandatanganan MOA antara Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten dengan Kepala Prodi UIN Sunan Kalijaga, dilanjutkan dengan pelatihan Dakwah secara teori dan praktik.
Dalam paparannya, Prof. Singhih mempertanyakan mengapa kesiapan dai menjadi mendesak? Karena menurutnya Kesiapan dai menjadi mendesak karena pesatnya kemajuan teknologi informasi, kompleksitas masalah sosial, dan krisis moral di masyarakat. Dai dituntut tidak hanya paham ilmu agama, tetapi juga adaptif terhadap isu modern agar dakwah tetap relevan dan mencerahkan.
“Tantangan dai di Era modern, selain arus digital yang sangat deras dalam menyebarkan informasi, juga adanya krisis moral dan masalah kontemporer seperti toleransi, teknologi, dan dinamika sosial yang butuh jawaban bijak.Maka tuntutan kualitas dai seperti penguasaan literasi digital, penguasaan kedalaman ilmu Quran dan hadis serta keteladanan menjadi keharusan,” tutupnya. (Fin).

