Mengangkat Martabat Bangsa Membangun Daya Saing Global melalui Fondasi Kebudayaan dan Pendidikan yang Diwariskan Pakubuwono X Oleh: Thonang Effendi

Mengangkat Martabat Bangsa 

Membangun Daya Saing Global melalui Fondasi Kebudayaan dan Pendidikan yang Diwariskan Pakubuwono X

Oleh: Thonang Effendi

 

Apa yang sebenarnya membuat sebuah bangsa dihormati dunia?

Apakah kekayaan alamnya? Gedung-gedung pencakar langitnya? Kekuatan ekonominya? Kecanggihan teknologinya? Atau jumlah produk yang mampu diekspornya ke berbagai penjuru dunia? Semua itu penting. Namun, ada sesuatu yang lebih dalam: kualitas manusia dan kebudayaan yang membentuknya.

Sebuah bangsa mungkin dikenal karena kekayaan yang dimilikinya. Namun, martabatnya dibentuk oleh cara bangsa itu memperlakukan ilmu, manusia, kebudayaan, dan masa depannya.

Di titik inilah sosok Sri Susuhunan Pakubuwono X menarik untuk dibaca kembali. Ia memerintah Kasunanan Surakarta selama 1893–1939, sebuah rentang panjang ketika masyarakat Jawa menghadapi perubahan besar: kolonialisme, modernisasi, perkembangan pendidikan, lahirnya organisasi-organisasi modern, serta tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Pakubuwono X kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 113/TK/TH. 2011.

Membaca Pakubuwono X karena itu bukan semata-mata mengenang seorang raja atau mencatat apa yang pernah dibangunnya. Yang lebih penting adalah membaca fondasi pemikiran dan kebijakan yang dapat menjadi bahan refleksi bagi Indonesia hari ini.

Sebab zaman telah berubah. Tantangan bangsa pun berubah. Namun, pertanyaan tentang bagaimana menjaga martabat bangsa tetap relevan.

Ketika Tradisi Berhadapan dengan Modernitas

Pakubuwono X hidup pada masa ketika tradisi keraton berhadapan dengan arus modernitas yang semakin kuat. Pendidikan modern berkembang. Organisasi pergerakan mulai tumbuh. Ruang publik mengalami perubahan. Kesadaran tentang masa depan bangsa mulai menemukan bentuknya.

Posisi Pakubuwono X sendiri tidak sederhana. Sebagai raja di wilayah vorstenlanden – wilayah swapraja, ia berada dalam struktur kekuasaan kolonial. Namun pada saat yang sama, sejumlah kajian sejarah mencatat dukungannya terhadap organisasi-organisasi pergerakan nasional, termasuk Budi Utomo dan Sarekat Islam. Ia juga memberikan ruang bagi aktivitas organisasi tersebut di wilayah Kasunanan.

Dukungan itu antara lain terlihat dari keterlibatannya dalam memberikan ruang bagi tokoh-tokoh pergerakan. Putranya, R.M.A. Wuryaningrat, diizinkan menjadi ketua Budi Utomo. Dalam konteks yang sama, izin juga diberikan kepada Dr. Radjiman Wedyodiningrat, tokoh yang kelak berperan dalam BPUPKI.

Yang menarik bukan sekadar siapa yang didukung atau organisasi apa yang diberi ruang. Lebih penting adalah membaca ruang perubahan yang muncul di tengah keterbatasan politik pada masa itu. Ketika kekuasaan politik tidak sepenuhnya berada di tangan sendiri, masih ada ruang lain yang dapat dibangun: pendidikan, kebudayaan, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat. Di sinilah warisan Pakubuwono X mulai menemukan relevansinya.

Sebuah bangsa tidak selalu membangun masa depannya hanya melalui kekuasaan. Bangsa juga membangunnya melalui manusia yang dididik dan kebudayaan yang dihidupkan.

Kebudayaan: dari Identitas Menjadi Modal Bangsa

Kebudayaan sering dipahami sebatas warisan masa lalu. Ia hadir dalam pakaian tradisional, bahasa daerah, kesenian, upacara, bangunan bersejarah, kuliner, atau berbagai ekspresi seni. Semua itu penting. Tetapi kebudayaan sesungguhnya memiliki wilayah yang jauh lebih luas.

Kebudayaan membentuk cara manusia berpikir. Ia memengaruhi cara seseorang menghormati orang lain, bekerja bersama, menghadapi perbedaan, memandang alam, menyikapi perubahan, dan membawa dirinya ke tengah masyarakat. Karena itu, kebudayaan bukan sekadar identitas bangsa. Kebudayaan adalah modal bangsa. Modal tersebut tidak selalu berbentuk benda. Ia dapat berupa nilai, etika, kreativitas, kepercayaan sosial, kemampuan beradaptasi, dan rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa.

Dalam konteks Pakubuwono X, kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial-politik yang sedang berubah. Warisan keraton tidak hanya berada pada simbol-simbol tradisi, tetapi juga pada upaya menjaga kehidupan kebudayaan ketika masyarakat memasuki zaman baru. Di sinilah kita dapat membaca kebudayaan sebagai kekuatan yang menjaga martabat.

Bangsa yang kehilangan akar budayanya mungkin tetap mampu menjadi modern. Namun, modernitas tanpa pijakan dapat membuat sebuah bangsa sekadar menjadi konsumen perubahan. Sebaliknya, bangsa yang memiliki akar budaya kuat mempunyai modal untuk menyaring perubahan: menerima yang baik, mengembangkan yang bermanfaat, dan tetap mengetahui siapa dirinya. Maka, kebudayaan bukan alasan untuk menutup diri dari dunia. Justru sebaliknya. Kebudayaan yang hidup dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia dengan percaya diri.

Pendidikan: dari Kecerdasan Rakyat Menuju Daya Saing Manusia

Jika kebudayaan memberikan akar, pendidikan memberikan kemampuan untuk tumbuh. Di sinilah salah satu warisan penting Pakubuwono X dapat dibaca.

Penelitian mengenai kebijakan pendidikan Pakubuwono X pada 1893–1939 mencatat sejumlah ikhtiar pendidikan, baik dalam pendidikan umum maupun pendidikan Islam. Di antaranya Pamardi Siwi, Pamardi Putri, HIS Kasatriyan, sekolah rakyat Ongko Loro, sekolah pertanian di Tegalgondo, serta pemberian beasiswa untuk belajar ke Timur Tengah. Dalam pendidikan Islam, berdirinya Madrasah Mambaul Ulum pada 1905 menjadi salah satu tonggak penting.

Mambaul Ulum bahkan kemudian berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan Islam di Surakarta, antara lain melalui lahirnya ulama, guru agama, pejabat keagamaan, serta berkembangnya dakwah dan syiar Islam.

Tentu konteks pendidikan lebih dari satu abad lalu tidak dapat begitu saja disamakan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21. Namun, ada satu pelajaran yang tetap relevan: kemajuan bangsa membutuhkan investasi pada manusia.

Hari ini bentuk tantangannya berbeda. Dunia membutuhkan manusia yang mampu memahami teknologi, menguasai ilmu pengetahuan, berpikir kritis, berkomunikasi lintas budaya, berinovasi, dan belajar sepanjang hayat. Namun kecerdasan saja tidak cukup. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi karakter menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan. Pengetahuan dapat membuka kesempatan, tetapi integritas menentukan bagaimana kesempatan itu dimanfaatkan.

Karena itu, daya saing manusia Indonesia tidak cukup dibangun dengan kecerdasan akademik. Ia membutuhkan perpaduan antara kompetensi, karakter, kreativitas, dan kebudayaan. Kebudayaan memberi akar. Pendidikan memberi kemampuan. Karakter memberi arah. Ketiganya menjadi fondasi manusia yang mampu berdiri tegak di tengah perubahan dunia.

Menjadi Warga Dunia tanpa Kehilangan Jati Diri

Indonesia hari ini tidak lagi menghadapi kolonialisme dalam bentuk yang dialami masyarakat pada masa Pakubuwono X. Tantangannya telah berubah. Persaingan bangsa berlangsung melalui kualitas sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, inovasi, ekonomi, reputasi, diplomasi, dan kebudayaan.

Karena itu, menjadi bangsa global tidak berarti meninggalkan jati diri. Justru di tengah dunia yang semakin terbuka, identitas menjadi penting.

Indonesia membutuhkan manusia yang mampu berbicara dalam bahasa dunia tanpa melupakan bahasa kebudayaannya. Mampu menggunakan teknologi mutakhir tanpa kehilangan etika. Mampu berkompetisi secara global tanpa kehilangan kepedulian sosial. Menjadi modern tidak harus berarti menjadi seragam. Menjadi global tidak harus berarti kehilangan akar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membawa nilai terbaik Indonesia ke dalam pergaulan dunia.

Dengan demikian, kebudayaan tidak berhenti sebagai sesuatu yang dipamerkan kepada wisatawan. Ia hidup dalam perilaku manusia, kualitas pelayanan, kreativitas, cara bekerja, cara memperlakukan orang lain, dan cara sebuah bangsa menyelesaikan persoalannya. Jati diri bukan penghalang daya saing. Jati diri dapat menjadi sumber daya saing.

Ketika Kebudayaan Menjadi Kekuatan Bangsa

Jika dibaca dengan kacamata masa kini, sebagian ikhtiar kebudayaan pada masa Pakubuwono X dapat dipahami sebagai bentuk pemanfaatan kekuatan lunak – soft power: pengaruh yang dibangun bukan terutama melalui kekuatan fisik, melainkan melalui kebudayaan, pendidikan, nilai, simbol, dan legitimasi sosial.

Istilah soft power tentu merupakan konsep modern, bukan istilah yang perlu kita nisbahkan sebagai konsep yang digunakan Pakubuwono X. Namun gagasannya relevan untuk membaca tantangan Indonesia hari ini.

Dahulu, kebudayaan dapat menjadi ruang untuk menjaga martabat ketika ruang politik terbatas. Kini, kebudayaan dapat menjadi kekuatan untuk memperluas posisi Indonesia dalam pergaulan dunia.

Batik, wastra, kuliner, seni pertunjukan, musik, film, desain, kerajinan, pariwisata, dan berbagai produk ekonomi kreatif dapat menjadi jembatan yang memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Tetapi produk budaya akan memiliki daya pengaruh yang lebih kuat ketika di belakangnya terdapat manusia yang berkualitas.

Sebuah kuliner dapat memperkenalkan cita rasa Indonesia. Namun keramahan orang yang menyajikannya ikut membentuk kesan tentang Indonesia. Sebuah karya seni dapat menunjukkan kreativitas bangsa. Namun karakter penciptanya ikut menentukan bagaimana karya itu dihargai. Sebuah produk dapat memenangkan pasar. Namun integritas produsennya ikut menentukan kepercayaan. Dunia mungkin mengenal sebuah bangsa melalui produk yang dihasilkannya, tetapi menghormatinya melalui kualitas manusia dan kebudayaan yang dibawanya.

Warisan yang Sesungguhnya Bukan Sekadar Bangunan

Setiap zaman memiliki cara sendiri untuk mengukur kemajuan. Ada masa ketika kemajuan dilihat dari bangunan yang berdiri. Ada masa ketika sekolah dan infrastruktur menjadi simbol modernitas. Hari ini kemajuan juga diukur melalui teknologi, produktivitas, inovasi, dan daya saing.

Namun bangunan dapat menua. Teknologi dapat berubah. Sistem dapat berganti. Yang membuat sebuah bangsa terus bertumbuh adalah manusia yang mampu belajar dan nilai yang mampu diwariskan. Karena itu, warisan terbesar bukan selalu benda yang ditinggalkan, melainkan fondasi yang memungkinkan generasi berikutnya membangun sesuatu yang lebih baik.

Dalam konteks itulah warisan Pakubuwono X menarik untuk dibaca kembali: bukan sebagai nostalgia terhadap kejayaan masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa kebudayaan dan pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi martabat bangsa.

Membangun sekolah berarti membangun kemungkinan masa depan. Merawat kebudayaan berarti merawat identitas. Mendidik manusia berarti menyiapkan bangsa untuk menghadapi zaman yang belum datang.

Dari Warisan Masa Lalu Menuju Kehormatan Masa Depan

Perjalanan membaca warisan para pemimpin Mataram dalam rangkaian tulisan ini sesungguhnya membawa satu garis yang semakin panjang.

Dari Panembahan Senopati kita belajar menata diri.

Dari Sultan Agung kita belajar menyelaraskan Sastra dan Gending.

Dari Sultan Hamengkubuwono I kita belajar memperindah negeri.

Dari Mangkunegara I kita belajar merawat dan membela negeri.

Dan dari Pakubuwono X kita diajak untuk mengangkat martabat bangsa.

Kelima gagasan itu dapat dibaca sebagai satu perjalanan: dari kualitas diri menuju kehidupan bersama, dari ruang kehidupan menuju negeri, lalu dari negeri menuju bangsa yang mampu berdiri terhormat di tengah dunia.

Pada akhirnya, pertanyaan kita bukan lagi apa yang diwariskan masa lalu kepada Indonesia. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan diwariskan Indonesia kepada masa depan? Apakah hanya bangunan dan benda? Ataukah juga manusia yang berilmu, berkarakter, berbudaya, dan memiliki keberanian untuk membawa bangsanya maju?

Sebab sebuah bangsa tidak menjadi luhur hanya karena memiliki kebudayaan yang luhur. Bangsa menjadi luhur ketika keluhuran itu hidup dalam perilaku manusianya. Dan bangsa yang besar bukan bangsa yang meninggalkan budayanya ketika mengejar kemajuan, melainkan bangsa yang mampu membawa keluhuran budayanya menjadi kekuatan untuk menjemput masa depan.

Mengangkat martabat bangsa pada akhirnya bukan sekadar membuat Indonesia dikenal dunia. Lebih dari itu, membangun manusia Indonesia agar layak dihormati dunia.

Biografi Singkat Penulis

Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *