Ramadan Momen Menempa Diri

Oleh: Thonang Effendi*)

 

Dalam dua belas bulan perjalanan hidup manusia, ada satu bulan yang selalu dinantikan oleh umat Muslim: Ramadan. Bulan penuh rahmat, bulan ampunan, sekaligus bulan ujian kesabaran. Ramadan bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah, melainkan momentum spiritual yang mengajak manusia berhenti sejenak, menata ulang niat, dan memperbaiki arah hidup.

 

Tahun 2026, melalui penetapan resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Sebuah penanda bahwa kembali kita diberi kesempatan untuk menempuh proses pembinaan diri yang istimewa.

 

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ramadan disebut sebagai syahrush shabr—bulan kesabaran. “Dan kesabaran itu balasannya adalah surga,” demikian pesan yang terkandung di dalamnya. Pada bulan ini pula, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah, di awal Ramadan malaikat berseru: “Wahai orang yang ingin berbuat baik, kerjakanlah. Wahai orang yang ingin berbuat buruk, cegahlah (tahanlah dirimu).” Pesan ini menegaskan bahwa Ramadan Adalah bulan seleksi: siapa yang memilih mendekat pada kebaikan, dan siapa yang menahan diri dari keburukan. Di sinilah ujian kesabaran dimulai, bukan hanya dalam bentuk ritual, tetapi juga dalam pilihan-pilihan hidup sehari-hari.

 

Kesabaran dalam Ramadan pertama-tama terwujud dalam menjalankan kewajiban puasa: menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun, puasa tidak berhenti pada dimensi fisik. Ia adalah latihan kesabaran yang aktif—mengajak manusia tetap bergerak, berkarya, dan berbuat baik dalam kondisi yang serba terbatas. Ramadan justru mendorong peningkatan kualitas diri melalui amalan-amalan sunah, kepedulian sosial, dan produktivitas yang bernilai. Teladan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa pada bulan Ramadan, semangat berbuat kebaikan justru semakin ditingkatkan, bukan dikurangi.

 

Di sisi lain, kesabaran Ramadan juga bermakna pengendalian diri. Menahan emosi, menjaga lisan dari menggunjing dan menyakiti, serta menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan maksiat. Banyak kebiasaan yang mungkin dianggap biasa di luar Ramadan—menunda pekerjaan, larut dalam hal-hal yang tidak produktif, atau abai terhadap waktu—diuji kembali pada bulan ini. Ramadan hadir sebagai ruang koreksi, mengajak manusia mengurangi bahkan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut, lalu menggantinya dengan aktivitas yang mendatangkan manfaat dan pahala.

 

Lebih jauh, Ramadan adalah momentum refleksi diri. Muhasabah atas perjalanan hidup setahun ke belakang menjadi bagian penting dari proses menempa diri. Apa saja kebaikan yang telah dilakukan dan memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain? Di sisi lain, apa saja kelalaian, kekurangan, bahkan kesalahan yang mungkin telah menyakiti diri sendiri atau orang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa bersalah yang berlebihan, melainkan untuk menghadirkan kesadaran dan kejujuran dalam menilai diri.

 

Refleksi tersebut seharusnya berlanjut pada perencanaan diri. Ramadan memberi ruang yang tepat untuk menata langkah ke depan dengan lebih jernih. Tujuan hidup apa yang ingin diperkuat? Kebiasaan baik apa yang akan dipertahankan dan ditingkatkan? Sebaliknya, kebiasaan kurang baik apa yang perlu ditinggalkan secara konsisten? Ramadan bukan hanya tentang menyesali masa lalu, tetapi juga tentang meneguhkan komitmen untuk masa depan yang lebih baik.

 

Pada titik inilah makna menempa diri menemukan relevansinya. Sejatinya, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun ibadah tidak terbatas pada ritual formal. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan: cara bekerja, berkeluarga, bermasyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara. Ramadan mengingatkan bahwa hidup itu sendiri adalah ibadah, selama dijalani dengan niat yang lurus dan cara yang benar. Menempa diri berarti membentuk kepribadian yang utuh—spiritual, moral, dan sosial—agar selaras antara keyakinan dan perbuatan.

 

  • Tantangan menempa diri pada era modern tentu berbeda dengan masa lalu. Dahulu, proses menempa diri kerap diasosiasikan dengan bertapa, menyepi, atau menjauh dari hiruk pikuk dunia. Hari ini, kehidupan modern menuntut pendekatan yang berbeda. Menempa diri tidak berarti meninggalkan dunia, tetapi menjalani kehidupan modern dengan kesadaran penuh. Teknologi, media sosial, dan arus informasi yang deras perlu disikapi dengan kewaspadaan dan kebijaksanaan. Ramadan menjadi pengingat agar manusia tidak larut, tetapi mampu mengendalikan diri di tengah berbagai godaan zaman.

 

Akhirnya, Ramadan adalah momen menempa diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya selama sebulan, tetapi berlanjut setelahnya. Pertanyaannya kemudian: kebaikan apa yang akan terus kita jalankan secara konsisten setelah Ramadan berlalu? Dan keburukan apa yang benar-benar kita tinggalkan, bukan hanya sementara, tetapi seterusnya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan sejauh mana Ramadan benar-benar menjadi proses pembentukan diri, bukan sekadar rutinitas tahunan.

 

Penulis:

Thonang Effendi

Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *