Memperindah Negeri
Memaknai Kepemimpinan Ekologis-Spiritual melalui Warisan Sultan Hamengkubuwono I
Oleh: Thonang Effendi*
Dari Menata Diri Menuju Memperindah Negeri
Jika pada tulisan pertama kita belajar dari Panembahan Senopati bahwa kepemimpinan bermula dari kemampuan menata diri, dan pada tulisan kedua belajar dari Sultan Agung bahwa negeri yang beragam membutuhkan kemampuan menyelaraskan berbagai perbedaan, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih jauh: untuk apa diri ditata dan negeri diselaraskan?
Bukankah pada akhirnya semua keteraturan itu diarahkan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik? Di situlah gagasan memperindah negeri menemukan maknanya.
Indonesia sedang bergerak menuju Indonesia Emas 2045. Pembangunan infrastruktur terus berlangsung. Kota tumbuh. Teknologi berkembang. Kawasan ekonomi dibangun. Berbagai konektivitas diperluas. Semua itu penting. Namun pembangunan tidak berhenti pada apa yang dapat dibangun. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: seperti apa kehidupan yang ingin kita hadirkan melalui pembangunan itu?
Sebuah kota dapat menjadi semakin modern, tetapi belum tentu semakin nyaman untuk dihuni. Sebuah kawasan dapat semakin megah, tetapi belum tentu semakin ramah terhadap alam. Sebuah pembangunan dapat berhasil secara administratif, tetapi belum tentu menghadirkan rasa memiliki bagi masyarakat.
Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya bertanya: berapa banyak yang berhasil dibangun? Ia juga perlu bertanya: kehidupan seperti apa yang tumbuh setelah pembangunan itu hadir? Di sinilah warisan pemikiran Sri Sultan Hamengkubuwono I menarik untuk dibaca kembali melalui falsafah Memayu Hayuning Bawono.
Indah Ini di Mata Siapa?
Kata “indah” sering kali berhenti pada apa yang terlihat oleh mata. Bangunan yang megah disebut indah. Jalan yang lebar disebut indah. Kawasan yang tertata disebut indah. Kota yang bersih dan modern disebut indah. Tetapi muncul pertanyaan yang lebih dalam: Indah ini di mata siapa?
Jika hanya di mata manusia, mungkin sebuah bangunan tinggi dan megah sudah cukup. Tetapi bagaimana jika dilihat dari mata alam? Apakah sungai tetap mengalir? Apakah air tanah tetap tersedia? Apakah pohon dan ruang hijau masih memiliki tempat? Apakah pembangunan menjaga keseimbangan ekosistem?
Bagaimana pula jika dilihat dari mata warga? Apakah mereka merasa aman? Apakah ruang publik dapat dinikmati bersama? Apakah pembangunan menghadirkan kesempatan dan kesejahteraan? Apakah manusia tetap menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar penonton dari perubahan ruang hidupnya? Lalu, bagaimana jika dilihat oleh dunia? Apakah nilai lokal yang kita warisi mampu berbicara melampaui batas wilayah dan generasi?
Dan akhirnya, bagaimana jika dilihat dari mata Sang Pencipta? Apakah manusia yang diberi amanah mengelola bumi justru merawatnya, atau menghabiskan sumber dayanya demi kepentingan sesaat?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada pengertian bahwa keindahan tidak pernah hanya soal estetika. Keindahan juga menyangkut keberlanjutan, kemanusiaan, kebudayaan, dan tanggung jawab moral.
Memayu Hayuning Bawono
Dalam tradisi Jawa, Memayu Hayuning Bawono menawarkan cara pandang yang menarik. Ia tidak cukup dipahami sebagai usaha membuat dunia tampak indah. Di dalamnya terdapat gagasan tentang upaya menjaga keselamatan dan kelestarian dunia beserta seluruh isinya.
Dengan pembacaan demikian, memayu bukan sekadar mempercantik. Ia juga berarti merawat. Dan hayuning bawono bukan sekadar keindahan yang dipandang mata, melainkan keadaan dunia yang memungkinkan kehidupan berlangsung secara selaras dan lestari.
Karena itu, Memayu Hayuning Bawono dapat dibaca sebagai etika kepemimpinan: bagaimana kekuasaan, pembangunan, dan pemanfaatan ruang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang terlihat baik hari ini, tetapi juga menjaga kehidupan untuk hari esok.
Warisan tata ruang Yogyakarta yang dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I memberikan contoh menarik tentang cara pandang tersebut. Sumbu Filosofis Yogyakarta tidak berdiri hanya sebagai susunan ruang fisik. Ia berkaitan dengan hubungan antara manusia, alam, kebudayaan, dan pandangan kosmologis masyarakat Jawa. Dalam perkembangan sejarahnya, tata ruang tersebut kemudian memperoleh pengakuan dunia sebagai warisan budaya yang memiliki nilai universal. Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: kearifan lokal dapat menjadi universal ketika ia mampu menjawab kebutuhan kemanusiaan yang melampaui zamannya.
Empat Mata Keindahan
Jika gagasan Memayu Hayuning Bawono dibaca dalam konteks pembangunan Indonesia hari ini, setidaknya terdapat empat mata yang perlu kita hadirkan ketika menilai sebuah pembangunan.
Pertama, indah di mata alam.
Pembangunan yang baik tidak memosisikan alam sebagai halaman kosong yang bebas diubah sesuka hati. Tanah, air, sungai, pepohonan, udara, dan ekosistem merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dirawat. Kemajuan tidak semestinya dibayar dengan kerusakan lingkungan yang baru terasa puluhan tahun kemudian. Keindahan yang sejati bukan hanya kawasan yang tertata, tetapi juga air yang tetap mengalir, udara yang tetap layak dihirup, pepohonan yang tetap tumbuh, dan ekosistem yang tetap memberi kehidupan.
Kedua, indah di mata warga.
Negeri yang indah bukan negeri yang hanya tampak megah dari kejauhan. Ia adalah negeri yang nyaman dihuni. Ruang publiknya dapat digunakan bersama. Lingkungannya aman. Infrastruktur memberi manfaat. Pembangunan membuka kesempatan. Masyarakat tidak kehilangan ruang hidupnya ketika kota berkembang. Karena itu, keindahan ruang fisik perlu tumbuh bersama keindahan kehidupan sosial.
Ketiga, indah di mata dunia.
Sebuah nilai lokal tidak perlu kehilangan jati dirinya agar dapat diterima dunia. Justru sebaliknya. Ketika sebuah kebudayaan mampu menunjukkan bagaimana manusia dapat membangun hubungan yang harmonis dengan ruang hidupnya, nilai tersebut dapat menjadi pembelajaran universal. Pengakuan dunia terhadap Sumbu Filosofis Yogyakarta memperlihatkan bahwa warisan lokal dapat memiliki arti yang jauh melampaui batas geografisnya.
Keempat, indah di mata Sang Pencipta.
Di sinilah keindahan memperoleh dimensi spiritual. Bumi bukan sekadar ruang yang diwariskan untuk dieksploitasi. Ia adalah amanah yang perlu dirawat. Dalam perspektif ini, pembangunan bukan hanya persoalan kemampuan manusia mengubah alam, tetapi juga kemampuan manusia menahan diri agar perubahan itu tidak merusak kehidupan. Memperindah bumi dapat dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab manusia untuk merawat kehidupan sebagai amanah dari Sang Pencipta.
Belajar dari Sultan Hamengkubuwono I
Sri Sultan Hamengkubuwono I menarik untuk dipelajari bukan hanya karena warisan bangunan dan tata ruang yang ditinggalkannya. Yang lebih penting adalah cara berpikir di baliknya. Tata ruang tidak sekadar menyusun bangunan. Ia juga menyusun hubungan antara manusia, ruang, alam, kebudayaan, dan nilai.
Inilah pelajaran kepemimpinan yang relevan bagi Indonesia hari ini. Pemimpin tidak cukup mampu membangun. Pemimpin juga perlu mampu membaca akibat dari apa yang dibangun. Tidak cukup bertanya apakah sebuah proyek dapat dilaksanakan. Perlu pula ditanyakan bagaimana proyek itu memengaruhi kehidupan masyarakat, lingkungan, budaya lokal, dan generasi yang akan datang.
Dengan kata lain, kepemimpinan membutuhkan niteni dalam skala yang lebih luas: membaca pola, membaca perubahan, dan membaca konsekuensi. Jika pada tulisan pertama niteni digunakan untuk membaca diri dan kehidupan, pada tahap ini ia berkembang menjadi kemampuan membaca hubungan antara manusia dan lingkungannya.
Dari Tata Ruang ke Tata Kehidupan
Karena itu, Memayu Hayuning Bawono tidak semestinya berhenti sebagai filosofi tata kota. Ia dapat menjadi cara berpikir dalam pembangunan.
Di tingkat nasional dan daerah, pembangunan dapat dirancang dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Di tingkat kota, ruang publik dapat dipandang bukan sebagai sisa lahan, tetapi sebagai ruang bersama yang mempertemukan manusia. Di tingkat kampung dan komunitas, kearifan lokal mengenai air, tanah, tanaman, dan pengelolaan lingkungan dapat dirawat sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat.
Teknologi tetap diperlukan. Modernisasi tetap penting. Pertumbuhan ekonomi tetap dibutuhkan. Namun semuanya perlu ditempatkan dalam satu pertanyaan yang lebih besar: Apakah kemajuan itu membuat kehidupan semakin hayu? Di sinilah pembangunan ekologis bertemu dengan pembangunan manusia.
Dan di sinilah gagasan Memayu Hayuning Bawono dapat dibaca sebagai sebuah kepemimpinan ekologis-spiritual: kepemimpinan yang melihat pembangunan bukan sekadar sebagai kemampuan mengubah ruang, tetapi sebagai amanah untuk menjaga kehidupan.
Indonesia Emas: Indah untuk Dihuni, Layak untuk Diwarisi
Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibayangkan sebagai Indonesia dengan gedung yang semakin tinggi, ekonomi yang semakin besar, atau teknologi yang semakin maju. Indonesia Emas juga perlu menjadi Indonesia yang nyaman dihuni.
Indonesia yang ekosistem sungainya tetap terjaga. Ruang hijaunya tetap tersedia. Kota-kotanya manusiawi. Kebudayaannya tidak tercerabut. Masyarakatnya memiliki ruang untuk tumbuh. Dan generasi berikutnya tidak menerima bumi dalam keadaan lebih buruk daripada yang kita terima dari generasi sebelumnya.
Di sinilah pembangunan berkelanjutan memperoleh dimensi moral. Bukan hanya: apa yang dapat kita bangun hari ini, tetapi: apa yang masih dapat diwariskan esok hari. Memperindah negeri akhirnya bukan perkara mendandani wajah Indonesia.
Ia adalah upaya memperbaiki kualitas kehidupan di dalamnya. Sebab negeri yang indah bukan hanya yang enak dipandang. Ia adalah negeri yang baik untuk dihuni, adil untuk dijalani, lestari untuk diwariskan, dan bermakna di hadapan Sang Pencipta.
Dari Menata Diri hingga Memayu Hayuning Bawono
Pilih
Jawabannya dapat ditemukan dalam semangat Memayu Hayuning Bawono. Menata diri melahirkan manusia yang lebih mampu mengendalikan dirinya. Menata negeri membutuhkan pemimpin yang mampu menyelaraskan perbedaan. Memperindah negeri membutuhkan kepemimpinan yang mampu merawat hubungan antara manusia, alam, kebudayaan, dan Tuhan.
Maka trilogi ini pada akhirnya bukan sekadar perjalanan dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Ia adalah perjalanan gagasan: menata diri, menata negeri, lalu memelihara kehidupan. Sebab mungkin, pada akhirnya, tugas kepemimpinan bukan hanya membuat negeri menjadi lebih besar. Bukan pula sekadar membuatnya lebih maju. Melainkan membuatnya menjadi tempat kehidupan tumbuh dengan baik.
Mungkin di situlah makna terdalam dari Memayu Hayuning Bawono: bukan sekadar membuat dunia tampak indah, tetapi ikut menjaga agar kehidupan di dalamnya tetap hayu. Sebab keindahan yang hanya menyenangkan mata dapat berlalu. Tetapi keindahan yang menjaga kehidupan akan tinggal sebagai warisan. Menata diri. Menata negeri. Memperindah bawana.
Dari sana, Indonesia tidak hanya dibangun untuk menjadi negeri yang maju. Tetapi menjadi negeri yang selaras, lestari, dan layak diwariskan.
Biografi Singkat Penulis :
*Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.
