Feature :

Jakarta, Beritakotanews.id : Di tengah dunia yang kian gaduh oleh konflik geopolitik, perang proxy, dan fragmentasi identitas global, Musyawarah Nasional (MUNAS) X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tahun 2026 justru menghadirkan sebuah perspektif yang berbeda—bahkan bisa disebut radikal dalam arti paling konstruktif: bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa kuat militernya, tetapi oleh seberapa dalam akar peradabannya. Hal itu sebagaimana disampaikan sesi paparan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon,

Sesi paparan pada hari ke 3 Munas X LDII, Kamis, 9/4/2026 di Ballroom Minhaajurrasyidin Lubang Buaya, Pondok Gede menjadi momentum penting untuk menggeser cara pandang tersebut. Di hadapan para kiai, ulama, akademisi, dan pengurus LDII dari seluruh Indonesia, forum ini tidak sekadar membahas kebudayaan sebagai warisan, tetapi sebagai senjata strategis—sebagai soft power—dalam membangun perdamaian dunia.

Moderator, Prof. Singgih, membuka sesi dengan sebuah pertanyaan yang mengguncang kesadaran kolektif: apakah Indonesia akan terus mengejar kekuatan keras (hard power), atau berani bangkit sebagai kekuatan budaya yang memimpin melalui nilai, makna, dan peradaban?
Pertanyaan ini bukan retoris. Ia menyentuh jantung persoalan bangsa di era turbulensi global.

Dari Politik ke Peradaban Pergeseran Paradigma :

Mengacu pada gagasan Joseph Nye tentang soft power, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kekuatan sejati suatu x tidak lagi hanya diukur dari kekuatan militer atau ekonomi, tetapi dari daya tarik nilai, budaya, dan sistem maknanya. Dunia hari ini tidak hanya dimenangkan oleh senjata, tetapi oleh narasi. Dalam konteks,, f,xx itu, Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak bangsa lain: kekayaan budaya yang luar biasa dan kedalaman sejarah peradaban yang panjang. Apa yang selama ini dianggap sebagai “keragaman” ternyata, dalam perspektif yang lebih dalam, adalah mega diversity—sebuah lanskap peradaban yang kompleks, kaya, dan berlapis-lapis. Dengan lebih dari 1.300 etnis, ratusan bahasa daerah, ribuan warisan budaya tak benda, dan puluhan situs warisan dunia, Indonesia bukan sekadar negara—ia adalah sebuah dunia dalam dirinya sendiri. Namun di sinilah letak kritik implisit yang disampaikan: selama ini, kekayaan tersebut belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan strategis. Ia masih sering berhenti sebagai kebanggaan simbolik, belum menjadi energi geopolitik.

Indonesia:

Dari Nation State menuju Civilizational State
Paparan MenterKebudayaan Sebagai Soft Power Indonesia dalam Membangun Perdamaian Dunia, oleh : Prof.Singgih TS.i mencapai titik paling provokatif ketika ia menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar nation state, melainkan civilizational state—negara yang berdiri di atas fondasi peradaban panjang.
Dalam kerangka ini, Indonesia disejajarkan dengan negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Iran—negara-negara yang mampu bertahan bukan karena kekuatan politik semata, tetapi karena kontinuitas peradaban.
Namun Indonesia bahkan melampaui itu.
Temuan arkeologis menunjukkan bahwa Nusantara menyimpan jejak peradaban manusia sejak hampir dua juta tahun lalu. Penemuan Homo erectus di Jawa, lukisan gua tertua di dunia di Sulawesi, hingga jaringan budaya yang terbentang dari Sumatera hingga Papua—semuanya menunjukkan bahwa Nusantara bukan pinggiran sejarah, melainkan salah satu pusatnya. Gagasan “out of Nusantara” yang diperkenalkan menjadi semacam tantangan intelektual terhadap dominasi narasi global seperti “out of Africa”. Ini bukan sekadar klaim ilmiah, tetapi juga upaya merebut kembali posisi epistemologis Indonesia dalam sejarah dunia.

Islam Nusantara:

Peradaban yang Terhubung Sejak Awal
Dalam dimensi keagamaan, paparan Menteri juga mengguncang asumsi lama tentang masuknya Islam ke Indonesia. Jika sebelumnya teori dominan menyebut abad ke-13, maka temuan koin Dinasti Umayyah di Situs Bongal yang berasal dari abad ke-7 membuka kemungkinan baru: bahwa Nusantara telah terhubung dengan jaringan peradaban Islam sejak fase paling awal. Ini bukan sekadar koreksi kronologis, tetapi redefinisi posisi Indonesia dalam sejarah Islam global. Nusantara tidak lagi sekadar penerima, tetapi bagian dari arus awal peradaban itu sendiri.

Budaya sebagai Engine of Growth dan Binding Power
Yang paling strategis dari paparan ini adalah penegasan bahwa budaya bukan hanya identitas, tetapi juga engine of growth—mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus binding power—kekuatan pemersatu bangsa.
Berbeda dengan sumber daya alam yang akan habis, budaya adalah sumber daya yang justru semakin kuat ketika dikelola. Ia tidak menipis, tetapi berlipat ganda melalui kreativitas. Contoh global telah menunjukkan hal ini: Hollywood bagi Amerika, K-Pop bagi Korea Selatan, Bollywood bagi India. Pertanyaannya: kapan Indonesia serius menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan globalnya? Dengan berdirinya Kementerian Kebudayaan sebagai entitas mandiri di era Presiden Prabowo Subianto, negara untuk pertama kalinya memberikan sinyal kuat bahwa kebudayaan bukan lagi sektor pinggiran, melainkan sektor strategis. Program-program seperti repatriasi artefak, penguatan industri film, revitalisasi museum, hingga Dana Indonesia Raya sebesar Rp 500 miliar per tahun menunjukkan bahwa negara mulai bergerak dari retorika menuju aksi.

Kritik dan Tantangan: Antara Potensi dan Realitas
Namun di balik optimisme tersebut, terselip tantangan serius.
Minat generasi muda terhadap budaya lokal yang menurun, ancaman punahnya bahasa daerah, hingga lemahnya ekosistem museum dan budaya di tingkat akar rumput menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi paradoks: kaya secara budaya, tetapi rapuh dalam pewarisan.
Di sinilah peran ormas seperti LDII menjadi krusial.
Dengan jaringan yang menjangkau seluruh Indonesia, LDII memiliki posisi strategis untuk menjadi agen peradaban—bukan hanya dalam dakwah keagamaan, tetapi juga dalam pemajuan kebudayaan.
Usulan pendirian Museum LDII, misalnya, bukan sekadar proyek institusional, tetapi potensi untuk membangun narasi peradaban yang hidup—yang mampu menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Menuju Indonesia sebagai Kekuatan Perdamaian Dunia
Pada akhirnya, paparan ini mengarah pada satu kesimpulan besar: bahwa Indonesia memiliki peluang historis untuk tampil sebagai kekuatan perdamaian dunia melalui kebudayaan.

Di saat dunia terpecah oleh konflik, Indonesia justru memiliki modal untuk menjadi jembatan—melalui nilai-nilai Pancasila, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan pengalaman historis sebagai bangsa yang lahir dari keberagaman. Namun peluang ini tidak akan terwujud secara otomatis.
Ia menuntut kesadaran baru: bahwa kebudayaan bukan pelengkap pembangunan, tetapi fondasi utama peradaban. Bahwa identitas bukan sekadar warisan, tetapi strategi. Dan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia memaknai dirinya sendiri di tengah dunia.

“MUNAS X LDII, melalui paparan ini, tidak hanya menjadi forum organisasi. Ia menjelma menjadi ruang refleksi peradaban—tempat di mana Indonesia mulai melihat dirinya bukan sekadar sebagai negara, tetapi sebagai kekuatan budaya yang berpotensi membentuk arah dunia,” ujar Menbud Fadli Zon.(Fin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *