Artikel :

Dari Mimbar ke Komunitas: Ikhtiar Muhammadiyah Menyapa Ruang Sosial Umat

oleh : Dr. Narmodo*

_Ketika Banyak Orang Tidak Lagi Datang ke Pengajian, Maka Dakwah Harus Datang Menjemput Mereka_

 

Dakwah yang Tidak Berhenti di Masjid

Di tengah kehidupan perkotaan yang semakin kompleks dan individualistis, dakwah tidak lagi cukup hanya hadir di ruang-ruang formal pengajian. Dakwah dituntut mampu memasuki denyut kehidupan masyarakat, hadir di tengah komunitas, mendengarkan problem mereka, lalu menawarkan pendampingan dan solusi yang nyata. Kesadaran inilah yang menjadi semangat utama dalam rapat koordinasi antara Lembaga Dakwah Komunitas PWM DKI Jakarta bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Utara yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026 di Kantor PDM Jakarta Utara.

Pertemuan tersebut dihadiri Ir. H. Satriawan Tanjung selaku Ketua LDK PWM DKI Jakarta, Herry B. Jauhari sebagai Sekretaris Jenderal LDK PWM, Dr. Narmodo sebagai Ketua Muallaf Learning Center LDK PWM, Lahudin selaku Ketua PDM Jakarta Utara, serta Halide sebagai Sekretaris PDM Jakarta Utara. Hadir pula para anggota PDM Jakarta Utara dan anggota LDK PWM DKI Jakarta yang turut memberikan pandangan strategis mengenai arah pengembangan dakwah komunitas di wilayah Jakarta Utara.

Membaca Peta Sosial Sebelum Berdakwah

Salah satu poin penting yang mengemuka dalam rapat tersebut adalah perlunya pemetaan komunitas sebagai langkah awal gerakan dakwah. Dakwah modern, terutama di wilayah urban, tidak dapat dijalankan dengan pendekatan yang seragam. Setiap komunitas memiliki karakter sosial, psikologis, dan kebutuhan spiritual yang berbeda.

Karena itu, forum memandang perlu adanya identifikasi komunitas prioritas yang akan menjadi sasaran pembinaan, khususnya komunitas yang berada di dalam maupun di sekitar lingkungan RSIJ Sukapura. Lingkungan rumah sakit dipandang sebagai ruang sosial yang sangat potensial bagi dakwah komunitas karena di dalamnya berkumpul pasien, keluarga pasien, penunggu pasien, hingga masyarakat umum yang sedang berada dalam situasi emosional dan spiritual tertentu.

Dakwah di ruang seperti ini tidak cukup hanya dengan ceramah, tetapi membutuhkan empati, pendampingan, dan kehadiran yang menenangkan.

Dakwah yang Terorganisir dan Berkelanjutan

Rapat juga menekankan pentingnya penunjukan PIC atau penanggung jawab untuk setiap komunitas binaan. Langkah ini dinilai strategis agar proses pembinaan tidak berjalan sporadis dan sesaat, melainkan memiliki kesinambungan program dan pola pendampingan yang lebih terukur.

Dalam konteks dakwah komunitas, keberadaan pendamping menjadi sangat penting karena dakwah bukan hanya soal penyampaian materi agama, tetapi juga membangun hubungan sosial, kepercayaan, dan rasa memiliki di tengah komunitas yang dibina.

Pendekatan inilah yang membedakan dakwah komunitas dengan pola dakwah konvensional yang sering kali berhenti pada forum-forum seremonial.

Menguatkan Dakwah dengan Kolaborasi Umat

Selain membahas arah pembinaan, forum juga mendiskusikan penguatan sumber pendanaan dakwah komunitas. Dalam pembahasan tersebut disampaikan bahwa program-program dakwah dapat disinergikan dengan Lazismu maupun Badan Amil Zakat Nasional sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan umat yang lebih luas.

Kesadaran akan pentingnya dukungan pendanaan menunjukkan bahwa dakwah modern membutuhkan pengelolaan yang profesional. Dakwah tidak cukup hanya mengandalkan semangat, tetapi juga membutuhkan sistem, jaringan, dan penguatan sumber daya agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

Membina Muallaf dan Menjangkau Komunitas Sosial

Dalam kesempatan tersebut, jajaran LDK PWM juga menyampaikan bahwa pembinaan muallaf selama ini telah berjalan dengan baik dan terus berkembang. Selain komunitas muallaf, pembinaan juga dilakukan terhadap berbagai komunitas sosial lainnya, seperti komunitas pemain catur, komunitas penunggu pasien, dan kelompok-kelompok masyarakat lain yang selama ini belum banyak disentuh oleh pola dakwah formal.

Pendekatan dakwah seperti ini mencerminkan wajah Islam yang ramah, inklusif, dan hadir di tengah realitas kehidupan masyarakat. Dakwah tidak lagi dipahami sebatas ceramah, tetapi juga sebagai proses menemani, merangkul, dan menguatkan masyarakat dari dekat.

Muhammadiyah dan Masa Depan Dakwah Komunitas

Rapat ini menjadi penegasan bahwa Muhammadiyah terus berupaya mengembangkan model dakwah yang adaptif terhadap perubahan sosial masyarakat urban. Ketika banyak orang semakin jauh dari ruang-ruang formal keagamaan, maka dakwah harus mampu bergerak mendekati mereka, hadir di komunitas-komunitas kecil, dan menyapa kehidupan sehari-hari umat.

Dari ruang rapat sederhana di Kantor PDM Jakarta Utara itu, sesungguhnya sedang dirumuskan sebuah arah besar: menjadikan dakwah bukan sekadar aktivitas mimbar, tetapi gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat, menyentuh hati, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua. (*)

*Penulis : Narmodo : Aktivis Muhammadiyah, Pendakwah, Ketua Muhammadiyah Jakarta Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *