Ada Peran Ibu di Balik 5 Sukses Ramadan Keluarga

Oleh: Thonang Effendiu

 

Alarm berbunyi pelan menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Di sebagian rumah, lampu masih padam dan penghuninya terlelap. Namun di banyak rumah lainnya, seorang ibu telah lebih dulu terjaga. Ia bangun dalam hening malam, berwudhu, menunaikan shalat malam, lalu bergegas ke dapur menyiapkan sahur. Di sela aktivitasnya, ia membangunkan suami dan anak-anak dengan suara lembut namun tegas, “Ayo, bangun. Kita mulai dengan shalat malam dan doa.”

 

Begitulah potret kecil suasana Ramadan dalam sebuah keluarga. Di bulan penuh rahmat dan keberkahan ini, setiap Muslim berharap mampu meraih Lima Sukses Ramadan—Sukses Puasa, Sukses Shalat Tarawih, Sukses Tadarus Al-Qur’an, Sukses I’tikaf Lailatul Qadar, dan Sukses Zakat Fitrah. Lima Sukses Ramadan bukan sekadar slogan tahunan, melainkan gambaran kesungguhan ibadah yang ingin dicapai bersama.

 

Dalam lingkup keluarga, harapan itu tumbuh menjadi doa dan ikhtiar kolektif. Setiap keluarga tentu mendambakan suasana sakinah, mawaddah, warahmah—romantis, harmonis, rukun, kompak, serta penuh kerja sama yang baik. Ramadan menjadi momentum tepat untuk bermuhasabah, saling memaafkan, saling menguatkan, dan mempererat kembali rajutan kebersamaan dalam bahtera rumah tangga.

 

Di balik ritme ibadah keluarga selama Ramadan, peran ibu begitu nyata. Ia tidak hanya memastikan menu sahur dan buka puasa tersaji. Ia juga mengondisikan ketertiban shalat lima waktu, mengingatkan tadarus, memotivasi anak-anak agar tetap semangat menjalankan puasa, serta mengatur ritme kegiatan rumah tangga agar semua berjalan seimbang.

 

Malam selepas Isya dan Tarawih, ia mengajak anak-anak segera beristirahat agar bisa bangun lebih awal. Menjelang sahur, ia kembali membangunkan mereka, memastikan semua bersiap untuk shalat malam, doa, dan makan sahur bersama. Sementara sang ayah melanjutkan tadarus Al-Qur’an, sang ibu menyiapkan hidangan dengan penuh kesungguhan. Seusai sahur, ia kembali mengingatkan anak-anak untuk bersiap shalat Subuh dan menjalani aktivitas sekolah. Orkestrasi itu mengalun setiap hari sepanjang Ramadan.

 

Peran tersebut memang tidak terlihat spektakuler. Namun di situlah fondasi pendidikan keluarga dibangun. Ibu tidak sekadar mengurus rumah, tetapi menjadi pengondisi nilai. Ia mengajarkan kedisiplinan melalui kebiasaan bangun sahur tepat waktu. Ia menanamkan tanggung jawab melalui konsistensi ibadah. Ia menumbuhkan kesungguhan melalui teladan dan dorongan yang terus-menerus.

 

Tentu peran itu tidak berjalan sendiri. Sang ayah sebagai kepala keluarga turut memberi teladan dan dukungan. Keduanya bersama-sama mempersungguh diri meraih Lima Sukses Ramadan, bukan hanya menyerukan kepada anak-anak, tetapi menjalaninya secara nyata. Keteladanan orang tua menjadi pelajaran paling efektif bagi putra-putri mereka.

 

Keluarga sesungguhnya adalah “laboratorium pertama” pembentukan karakter. Dalam suasana harmonis dan penuh kasih sayang, anak-anak merasa aman secara emosional. Energi mental mereka tidak habis untuk kecemasan, melainkan terarah pada pertumbuhan spiritual, empati, dan tanggung jawab. Ketahanan keluarga menjadi benteng karakter, tempat anak belajar kegigihan, integritas, serta kerja sama yang baik.

 

Di balik rumah yang bersih dan rapi, di balik sahur yang tersaji hangat, di balik keberhasilan setiap anggota keluarga meraih Lima Sukses Ramadan, ada curahan keringat dan kesungguhan seorang ibu. Ketika yang lain terlelap, ia bangun lebih dulu. Ketika yang lain telah beristirahat, ia masih menyelesaikan pekerjaan domestik. Tidak ada angka-angka yang mencatat pengorbanannya, tetapi dampaknya terasa dalam keharmonisan dan ketahanan keluarga.

 

Maka ketika Hari Raya Idul Fitri tiba dan keluarga merayakan kemenangan, sesungguhnya keberhasilan itu adalah sukses bersama. Di baliknya ada peran seorang ibu yang setia mendampingi, mengatur ritme, membagi waktu, dan memastikan setiap anggota keluarga bertumbuh dalam nilai dan ibadah.

 

Ramadan akan berlalu, tetapi jejak keteladanan dan nilai yang ditanamkan akan menetap sepanjang hayat. Momen Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memeluk atau sekadar membisikkan kalimat syukur kepada ibu yang telah melakukan begitu banyak hal, termasuk membantu keluarga meraih Lima Sukses Ramadan.

 

Bagi anak-anak, sudahkah kita dengan tulus mengucap terima kasih kepada ibu?

Bagi para suami, sudahkah kita dengan sungguh-sungguh membahagiakan dan mengapresiasi peran istri—ibu dari anak-anak kita?

 

Karena di balik Lima Sukses Ramadan keluarga, ada doa, lelah, dan cinta seorang ibu yang sering kali tak terucap, tetapi tak pernah berhenti bekerja.

 

Penulis:

Thonang Effendi

Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan Karakter

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *