Berbeda Jalan, Bertemu dalam Kebajikan
Agama dan Nilai-Nilai Universal
Oleh: Thonang Effendi
Di sebuah lingkungan, seorang warga jatuh sakit. Tetangga berdatangan membantu. Ada yang mengantar ke rumah sakit, ada yang menyiapkan makanan bagi keluarga yang menunggu, dan ada pula yang menggalang bantuan untuk meringankan biaya pengobatan. Mereka datang dari latar belakang berbeda. Bisa jadi, agama dan cara beribadah mereka pun tidak sama. Namun, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk mengulurkan tangan.
Pemandangan semacam ini bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ia hadir dalam kerja bakti, bantuan bagi korban bencana, kepedulian terhadap warga yang kesulitan, hingga kesediaan menjaga keamanan lingkungan. Tidak semua orang memiliki keyakinan atau cara pandang yang sama. Namun, mereka tetap dapat menemukan alasan untuk bekerja bersama.
Di situlah sebuah pertanyaan penting muncul: apakah perbedaan keyakinan mesti menjadi penghalang bagi kebajikan?
Pertanyaan ini relevan di tengah kehidupan modern yang kerap menempatkan identitas sebagai garis pemisah. Perbedaan yang semestinya dikelola dengan kedewasaan terkadang berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai. Perdebatan tentang identitas dapat berlangsung panjang, sementara persoalan nyata di sekitar kita—kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan penderitaan sesama—menunggu untuk ditangani.
Padahal, kehidupan bersama tidak selalu menuntut kesamaan pandangan dalam segala hal. Ada ruang yang lebih mendasar untuk dirawat: bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Perbedaan Tidak Perlu Dihapus
Setiap agama memiliki keyakinan, ajaran, dan kerangka teologisnya sendiri. Perbedaan tersebut bukan sesuatu yang perlu disamarkan agar manusia dapat hidup berdampingan. Menghormati keyakinan orang lain juga tidak berarti mencampuradukkan akidah atau menganggap semua ajaran agama sama.
Keteguhan memegang keyakinan dan kedewasaan menghormati orang lain dapat berjalan beriringan. Seseorang dapat menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya, menjaga prinsip keimanannya, sekaligus menghormati hak tetangganya untuk menjalankan keyakinan yang berbeda.
Persoalannya bukan semata-mata apakah manusia memiliki perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan itu diperlakukan. Apakah ia menjadi alasan untuk membangun permusuhan, atau justru menjadi kesempatan untuk melatih kedewasaan dalam kehidupan bersama?
Perbedaan pandangan tidak selalu dapat diselesaikan dengan membuat semua orang sepakat. Bahkan setelah berdiskusi panjang, manusia mungkin tetap memiliki pendapat yang berlainan. Namun, perbedaan itu tidak harus menghilangkan kejujuran, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab.
Kita mungkin tidak sepakat mengenai seluruh alasan yang mendasari keyakinan seseorang. Akan tetapi, kita tetap dapat memahami bahwa orang sakit membutuhkan pertolongan, hak seseorang perlu dihormati, dan ketidakadilan tidak layak dibiarkan. Ruang perjumpaan itu bukan peleburan keyakinan, melainkan kesediaan menghadirkan kebajikan dalam kehidupan yang kita bagi bersama.
Kebajikan yang Terasa dalam Kehidupan
Kebajikan tidak selalu hadir melalui peristiwa besar. Ia sering tumbuh dalam tindakan sederhana: berkata jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, mengembalikan sesuatu yang bukan haknya, menepati janji, memperlakukan pekerja dengan adil, atau memberikan bantuan tanpa memperhitungkan keuntungan pribadi.
Kejujuran bukan sekadar kata yang terdengar baik dalam pidato. Nilainya terasa ketika seseorang tetap menyampaikan keadaan yang sebenarnya meskipun berisiko merugikan dirinya. Keadilan bukan sekadar prinsip yang tertulis dalam peraturan. Ia hidup ketika seseorang tidak menggunakan kedudukan untuk mengambil hak orang lain. Kasih sayang bukan hanya ungkapan perasaan, melainkan kesediaan meringankan penderitaan sesama.
Kebajikan semacam itu memiliki arti sosial yang dapat dirasakan melampaui perbedaan identitas. Orang yang ditolong membutuhkan pertolongan yang tulus. Orang yang haknya dilanggar membutuhkan keadilan. Keduanya tidak semestinya kehilangan hak hanya karena berbeda latar belakang dengan orang yang menolong atau memperjuangkannya.
Tentu, setiap agama memiliki landasan teologis dan ajarannya sendiri. Tidak tepat menjadikan semuanya seolah-olah sama. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat ruang kerja sama yang nyata: membangun lingkungan yang aman, membantu mereka yang membutuhkan, mencegah kekerasan, menjaga kejujuran, dan memperjuangkan keadilan. Di ruang itulah perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang bagi kebajikan.
Mulat Sarira: Berani Berkaca Sebelum Menghakimi
Kearifan Jawa memiliki ungkapan yang relevan untuk menata hubungan manusia dengan sesamanya, yaitu mulat sarira. Secara sederhana, ungkapan ini dapat dipahami sebagai kesediaan untuk melihat dan memeriksa diri sendiri.
Dalam kehidupan sosial, manusia sering lebih cepat melihat kekurangan orang lain daripada mengenali kekurangan dirinya. Kesalahan pihak lain mudah diperbesar, sementara kesalahan sendiri dicari pembenarannya. Ketika perbedaan keyakinan masuk ke dalam percakapan, kecenderungan tersebut dapat menjadi lebih tajam. Seseorang merasa dirinya paling benar dalam segala hal, lalu kehilangan kesediaan untuk mendengar dan memahami.
Mulat sarira mengajak manusia mengambil jeda. Sebelum menilai orang lain, periksa lebih dahulu cara berpikir dan perilaku sendiri. Sebelum menuntut penghormatan, tanyakan apakah kita sudah menghormati orang lain. Sebelum mempersoalkan kekurangan pihak lain, periksa apakah tindakan kita sendiri telah mencerminkan kejujuran dan keadilan.
Berkaca pada diri sendiri bukan berarti merelatifkan keyakinan atau menganggap semua pendapat sama benarnya. Ia merupakan latihan kerendahan hati agar keteguhan tidak berubah menjadi kesombongan dan keyakinan tidak dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap kekurangan diri.
Sebab, persoalan dalam hubungan antarmanusia tidak selalu muncul karena orang tidak mengetahui nilai-nilai kebaikan. Terkadang, nilai itu sudah diketahui, tetapi belum sungguh-sungguh diterapkan ketika berhadapan dengan kepentingan, prasangka, atau emosi pribadi.
Di sinilah mulat sarira menemukan maknanya: bukan sekadar merenungkan diri, melainkan memperbaiki cara kita hadir di tengah kehidupan bersama.
Tepa Selira: Menghormati Martabat Sesama
Setelah berkaca pada diri sendiri, manusia membutuhkan kemampuan untuk memahami orang lain. Kearifan Jawa mengenalnya melalui ungkapan tepa selira, yang lazim dipahami sebagai tenggang rasa atau kesediaan menimbang perasaan dan keadaan orang lain.
Tepa selira bukan berarti selalu menyetujui pandangan orang lain. Ia juga bukan tuntutan agar seseorang mengorbankan prinsip yang diyakininya. Lebih dari itu, ia merupakan kesadaran bahwa orang lain memiliki martabat, perasaan, dan hak yang patut dihormati.
Dalam masyarakat yang majemuk, sikap ini dapat dimulai dari hal sederhana: tidak merendahkan cara ibadah orang lain, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan penghinaan, serta tidak membiarkan prasangka menggantikan penilaian yang adil.
Menghormati orang lain juga berarti bersedia mendengarkan, memahami keadaan yang berbeda, dan mempertimbangkan akibat tindakan kita terhadap kehidupan mereka. Sikap ini semakin penting di era media sosial, ketika sebuah ucapan dapat menyebar dengan cepat tanpa selalu disertai pemahaman terhadap konteksnya. Potongan pernyataan dapat memancing kemarahan, sedangkan perbedaan pandangan berubah menjadi saling serang.
Karena itu, tenggang rasa perlu disertai tanggung jawab. Sebelum membagikan sesuatu, periksa kebenarannya. Sebelum menanggapi perbedaan, pahami persoalannya. Sebelum menuduh, pertimbangkan bukti dan dampaknya.
Menghormati sesama bukan berarti menghindari seluruh perbedaan pendapat. Kritik tetap dapat disampaikan dan ketidakadilan tetap perlu diperjuangkan. Namun, semuanya dilakukan dengan menjaga martabat manusia dan berpegang pada kejujuran. Mulat sarira membantu manusia memperbaiki diri, sedangkan tepa selira membantunya merawat hubungan dengan sesama.
Memayu Hayuning Bawana: Merawat Kehidupan Bersama
Kearifan Jawa juga mengenal falsafah Memayu Hayuning Bawana, yang dapat dibaca sebagai ikhtiar merawat keindahan, keselamatan, ketenteraman, dan harmoni kehidupan. Dalam pembacaan reflektif, falsafah ini mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi, tetapi juga dengan keadaan lingkungan dan masyarakat tempat manusia hidup.
Gagasan tersebut memperoleh makna melalui tindakan nyata. Lingkungan yang tenteram tidak terbentuk hanya karena orang menyebut dirinya sebagai warga yang baik. Ketenteraman tumbuh ketika warga menjaga keamanan, menghormati hak sesama, menyelesaikan perselisihan secara adil, dan bersedia membantu ketika ada yang mengalami kesulitan.
Demikian pula, harmoni tidak berarti tidak pernah ada perbedaan atau pertentangan. Dalam masyarakat yang beragam, perbedaan pendapat merupakan kenyataan. Yang menentukan ialah kemampuan mengelolanya tanpa mengubah perbedaan menjadi permusuhan.
Mulat sarira menata diri, tepa selira merawat hubungan, dan gotong royong mengubah kepedulian menjadi tindakan bersama. Ketiganya dapat menjadi bagian dari ikhtiar Memayu Hayuning Bawana.
Falsafah lokal ini tidak perlu dipaksakan menjadi rumusan yang mewakili seluruh tradisi atau agama. Ia merupakan salah satu sumber kearifan yang dapat diajak berdialog dengan pengalaman masyarakat lain, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kebangsaan. Kekuatannya terletak pada kemampuannya memberi bahasa bagi tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Bhinneka Tunggal Ika Bukan Sekadar Semboyan
Indonesia dibangun dan terus dirawat oleh masyarakat yang beragam. Perbedaan agama, suku, bahasa, adat, dan kebudayaan merupakan bagian dari kenyataan bangsa. Karena itu, persatuan tidak tepat dipahami sebagai keharusan untuk menyeragamkan seluruh identitas.
Makna Bhinneka Tunggal Ika mengingatkan bahwa kebersamaan dapat dibangun di tengah perbedaan. Persatuan membutuhkan kesediaan mengakui keberagaman sekaligus menjaga kesepakatan hidup bersama sebagai bangsa.
Di sinilah kebajikan memiliki arti penting bagi kebangsaan. Kejujuran diperlukan agar kepercayaan publik tidak rusak. Keadilan diperlukan agar hak warga tidak bergantung pada kedekatan atau identitas kelompok. Kepedulian diperlukan agar persoalan masyarakat tidak dibiarkan menjadi beban mereka yang paling lemah. Tanggung jawab diperlukan agar kepentingan bersama tidak dikalahkan oleh keuntungan pribadi.
Nilai-nilai itu perlu hadir dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, organisasi, pemerintahan, dan ruang digital. Ia tidak cukup dibicarakan dalam seminar kerukunan atau dipajang sebagai slogan. Ia perlu terlihat dalam keputusan, kebijakan, dan perilaku sehari-hari.
Ketika warga berbeda agama bergotong royong membantu korban bencana, mereka sedang merawat kehidupan bersama. Ketika seseorang membela hak tetangganya yang diperlakukan tidak adil, ia sedang menjaga martabat manusia. Ketika sebuah komunitas menolak menyebarkan fitnah meskipun kabar itu menyerang kelompok yang tidak disukainya, komunitas tersebut sedang membangun kepercayaan.
Dalam Islam, keberagaman manusia juga mendapat perhatian dalam Al-Qur’an. Surah Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat tersebut juga menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaannya.
Pesan lita‘ārafū—agar saling mengenal—memberi ruang refleksi penting bagi kehidupan masyarakat majemuk. Perbedaan asal-usul bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas pengenalan, membangun penghormatan, dan belajar hidup berdampingan secara dewasa. Bagi seorang Muslim, pesan tentang ketakwaan juga menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri dan mempertanggungjawabkan perilakunya di hadapan Allah, bukan dasar untuk menghakimi kadar keimanan orang lain.
Indonesia tidak membutuhkan semua warganya untuk berpikir sama dalam setiap persoalan. Indonesia membutuhkan warga yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan keadilan, mampu mempertahankan keyakinan tanpa merendahkan orang lain, dan mampu bekerja bersama tanpa menjadikan identitas sebagai tembok pemisah.
Ageman yang Terasa dalam Kebajikan
Dalam rangkaian refleksi Agama Ageming Aji, agama dipahami bukan sekadar sesuatu yang diketahui atau diucapkan, melainkan ageman—nilai yang dikenakan dan dihayati dalam kehidupan. Keyakinan menemukan bentuknya melalui laku; laku kebajikan kemudian memberi manfaat bagi orang lain, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.
Agama yang dihayati semestinya memengaruhi cara seseorang memperlakukan kehidupan. Pengaruh itu tidak hanya terlihat ketika ia berbicara tentang keyakinannya, tetapi juga ketika memegang amanah, berhadapan dengan perbedaan, menyaksikan ketidakadilan, dan menjumpai sesama yang membutuhkan pertolongan.
Kebajikan tidak mengharuskan manusia menyamakan seluruh pandangan teologisnya. Kebajikan mengajak setiap orang mengambil tanggung jawab atas tindakan dan dampaknya. Kita dapat berbeda dalam memahami banyak hal, tetapi tetap memiliki tanggung jawab untuk tidak merampas hak, tidak menebarkan kebencian, dan tidak berpaling ketika sesama membutuhkan pertolongan.
Pada akhirnya, perbedaan keyakinan tidak perlu dihapus agar manusia dapat berbuat kebajikan bersama. Jalan keyakinan boleh berbeda, tetapi kehidupan yang kita huni tetaplah kehidupan bersama.
Ketika seseorang melihat sesamanya dilanda kesulitan, yang dibutuhkan bukan perdebatan tentang perbedaan, melainkan keberanian untuk menolong. Ketika hak seseorang dirampas, yang dibutuhkan ialah keteguhan untuk membela keadilan. Dan ketika masyarakat menghadapi perpecahan, yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk merawat kepercayaan.
Sebab, pakaian iman yang dikenakan seseorang tidak cukup hanya tampak dari luar. Nilainya juga terasa dari kehangatan yang diberikan kepada sesama, keadilan yang dijaga, dan kepedulian yang diwujudkan.
Berbeda jalan tidak berarti kehilangan kesempatan untuk bertemu dalam kebajikan. Di sanalah penghormatan menemukan bentuknya, tenggang rasa menemukan maknanya, dan agama menemukan jejaknya dalam kehidupan bersama.
Biografi Singkat Penulis
Thonang Effendi
Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.
