AGAMA AGEMING AJI Ketika Agama Menjadi Ageman Kehidupan Oleh: Thonang Effendi

AGAMA AGEMING AJI

Ketika Agama Menjadi Ageman Kehidupan

Oleh: Thonang Effendi

 

Setiap pagi, sebelum keluar rumah, manusia memilih apa yang hendak dikenakannya. Ada pakaian untuk bekerja, untuk beribadah, untuk menghadiri pesta, dan ada pula pakaian yang dipilih sekadar karena terasa nyaman. Pakaian melekat pada tubuh, mengikuti ke mana seseorang pergi, dan dalam batas tertentu menjadi bagian dari cara orang lain mengenali dirinya.

Namun, pakaian pada akhirnya hanyalah sesuatu yang dikenakan. Yang lebih penting adalah manusia yang berada di baliknya.

Pertanyaan yang sama barangkali layak diajukan kepada agama. Agama dapat menjadi identitas, pengetahuan, simbol, ucapan, bahkan kebanggaan. Seseorang dapat mengetahui banyak ajaran agama, pandai berbicara tentang kebaikan, dan sangat mengenal berbagai aturan keagamaan.

Tetapi apakah agama sudah benar-benar menjadi ageman kehidupan? Apa yang terjadi ketika agama tidak lagi sekadar diketahui dan diucapkan, tetapi benar-benar diagem sebagai ageman kehidupan? Pertanyaan itu menemukan gema yang panjang dalam sebuah ungkapan Jawa yang telah diwariskan melalui Serat Wedhatama: agama ageming aji.

Ungkapan tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia hadir dalam sebuah pupuh yang berbicara tentang pengendalian diri, ilmu yang luhur, dan bagaimana pengetahuan itu semestinya membentuk perilaku. Di situlah ungkapan tersebut menjadi menarik: agama tidak ditempatkan semata sebagai sesuatu yang diketahui, tetapi sebagai sesuatu yang diagem.

Menemukan Akar Makna

Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV merupakan salah satu karya piwulang Jawa yang banyak berbicara tentang kehidupan manusia, budi, ketuhanan, dan laku kehidupan. Karya yang lahir pada abad ke-19 itu disusun dalam tembang macapat dan menjadi salah satu rujukan penting dalam khazanah sastra dan pemikiran Jawa.

Pada pupuh Pangkur, ungkapan agama ageming aji muncul pada bagian akhir bait pertama. Sebelumnya terdapat rangkaian kata yang mengajak manusia untuk mingkar-mingkuring angkara dan mengusahakan tercapainya pakartining ngèlmu luhung.

Menariknya, agama ageming aji tidak berdiri sendirian. Ia datang setelah ajakan untuk menyingkirkan angkara dan menghidupkan ilmu yang luhur. Seakan-akan ada sebuah urutan yang sedang dibangun: manusia perlu mengendalikan dorongan yang merusak, menuntut ilmu yang luhur, lalu menjadikan agama sebagai ageman. Di sini kata agem menjadi penting.

Dalam pemaknaan kebahasaan, agem berarti memakai atau mengenakan, sedangkan ageman berarti pakaian. Dalam konteks Serat Wedhatama, ageming dapat dibaca sebagai sesuatu yang dikenakan sekaligus menjadi pegangan dalam kehidupan.

Maka agama sebagai ageman bukanlah agama yang sekadar disimpan dalam pengetahuan. Ia dikenakan. Ia dibawa. Ia menemani langkah. Ia semestinya ikut menentukan bagaimana seseorang memilih jalan ketika berhadapan dengan kehidupan.

Sementara itu, kata aji dalam pembacaan tulisan ini ditempatkan pada makna nilai, harga, atau sesuatu yang berharga. Dari makna tersebut, aji kemudian dibaca sebagai sesuatu yang bernilai luhur atau mulia dalam kehidupan.

Dengan pemaknaan itu, agama ageming aji dapat dibaca sebagai sebuah ajakan agar agama menjadi ageman yang membawa manusia kepada sesuatu yang berharga dan mulia. Bukan sekadar tampak sebagai identitas, melainkan terasa dalam laku.

Dari Tahu Menjadi Menghayati

Ada jarak yang kadang tidak terasa antara mengetahui dan menghayati.

Seseorang dapat mengetahui bahwa kejujuran adalah kebaikan. Tetapi mengetahui kejujuran belum tentu membuat seseorang mudah berkata jujur ketika kejujuran itu mendatangkan kerugian bagi dirinya.

Seseorang dapat mengetahui pentingnya kesabaran. Tetapi mengetahui sabar belum tentu membuat seseorang mampu menahan kata-kata ketika sedang disakiti.

Seseorang dapat mengetahui bahwa amanah adalah nilai luhur. Tetapi pengetahuan tentang amanah belum tentu cukup ketika seseorang memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang bukan haknya dan tidak ada seorang pun yang melihat.

Di situlah perbedaan antara agama sebagai pengetahuan dan agama sebagai ageman mulai terlihat. Tahu belum tentu hayati. Hayati belum tentu laku. Dan laku yang terus diulanglah yang perlahan membentuk watak.

Ageman yang baik tidak hanya tampak dari luar. Ia bekerja dari dalam. Pakaian yang dikenakan manusia memang dapat mengubah penampilan. Tetapi agama sebagai ageman justru diharapkan mengubah cara manusia memandang kehidupan.

Dalam bahasa Jawa, dikenal pula ungkapan ngrasuk agama, yang berarti memeluk agama. Kata ngrasuk juga digunakan dalam konteks memakai busana. Nuansa kebahasaan ini memperlihatkan kedekatan antara gagasan memeluk agama dan mengenakan sesuatu dalam kehidupan.

Namun, yang penting bukan istilahnya. Yang penting adalah prosesnya. Agama tidak berhenti pada apa yang diketahui pikiran. Ia bergerak menuju apa yang dihayati hati, lalu turun menjadi perilaku. Karena itu, ukuran keberagamaan tidak selalu selesai pada seberapa banyak seseorang mampu berbicara tentang agama.

Ada pertanyaan yang lebih sunyi: Apa yang terjadi pada dirinya setelah ia mengetahui ajaran itu? Apakah ia menjadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih mampu menahan diri? Lebih mampu menghormati orang lain? Lebih bertanggung jawab? Lebih peduli terhadap kehidupan? Di situlah agama mulai menemukan bentuknya sebagai ageman.

Dari Ngèlmu Luhur Menuju Laku

Kembali kepada Serat Wedhatama, ungkapan agama ageming aji berada dalam rangkaian yang sebelumnya berbicara tentang ngèlmu luhung dan pakarti. Ini menarik. Sebab ilmu yang luhur tidak berhenti pada banyaknya pengetahuan. Ia semestinya melahirkan pakarti—perbuatan, laku, dan budi pekerti yang mencerminkan kualitas ilmu tersebut.

Pengetahuan yang tidak menjadi laku dapat berhenti sebagai hafalan. Agama yang hanya menjadi pengetahuan dapat berhenti sebagai wacana. Bahkan seseorang dapat menjadi sangat fasih menjelaskan kebaikan, tetapi belum tentu mudah menjalankannya ketika kehidupan mulai menguji. Di sinilah ngèlmu luhung menemukan maknanya yang lebih dalam.

Ilmu tidak sekadar membuat manusia tahu lebih banyak. Ilmu semestinya membuat manusia menjadi lebih baik dalam menjalani kehidupan.

Menariknya lagi, setelah bait tentang agama ageming aji, Serat Wedhatama bergerak kepada pembicaraan mengenai rasa. Pada bait berikutnya muncul peringatan tentang manusia yang tidak memahami rasa dan akibatnya dalam hubungan dengan kehidupan sosial.

Rasa di sini tidak cukup dipahami sebagai perasaan sesaat. Dalam khazanah pemikiran Jawa, rasa memiliki kedalaman makna: berkaitan dengan penghayatan batin, perasaan hati, dan kepekaan dalam menjalani kehidupan bersama. Dari sanalah manusia belajar membaca keadaan, memahami orang lain, dan menempatkan diri secara tepat.

Maka terdapat sebuah rangkaian pemikiran yang menarik untuk direnungkan: Agama memberi arah. Ngèlmu memberi pemahaman. Rasa memberi kepekaan. Laku membuktikan semuanya. Ketika keempatnya bertemu, agama tidak lagi berhenti sebagai konsep. Ia mulai membentuk manusia.

Ketika Agama Turun ke Kehidupan

Agama yang diagem akan menemukan tempatnya di ruang-ruang kehidupan yang paling sederhana.

Di rumah, misalnya. Ia tampak ketika seseorang mampu mendengarkan sebelum menjawab. Ketika orang tua mendidik anak bukan hanya dengan nasihat, tetapi juga dengan keteladanan. Ketika suami dan istri memilih menjaga martabat satu sama lain meskipun sedang berbeda pendapat.

Di tempat kerja, agama yang diagem dapat terlihat dalam amanah. Bukan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Tidak mengurangi kualitas pekerjaan hanya karena tidak ada yang mengawasi. Tidak melempar kesalahan kepada orang lain demi menyelamatkan diri. Tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk merendahkan mereka yang berada di bawah.

Di ruang publik, agama yang diagem tampak dalam kemampuan menjaga lisan dan perilaku. Termasuk di ruang digital. Tidak semua informasi perlu segera diteruskan. Tidak setiap perbedaan perlu dibalas dengan kemarahan. Tidak setiap kesalahan orang lain perlu dipertontonkan. Tidak setiap perbedaan pendapat perlu berubah menjadi permusuhan.

Barangkali justru di situlah agama mendapatkan ujian yang paling nyata. Bukan ketika seseorang berada di tengah banyak orang yang melihat. Tetapi ketika tidak ada yang melihat.

Ketika ada kesempatan untuk berbuat curang. Ketika ada peluang mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Ketika sebuah kebaikan tidak akan mendapatkan penghargaan. Ketika memilih jujur justru terasa lebih mahal.

Di sanalah ageman agama benar-benar diuji. Sebab ageman yang sesungguhnya bukan hanya yang tampak oleh mata, tetapi yang bekerja ketika manusia berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup.

Dari Jawa, Menemui Kehidupan Indonesia

Ungkapan ini lahir dari tanah Jawa. Tetapi pertanyaan yang dibawanya tidak berhenti di tanah Jawa. Inilah kekayaan kearifan lokal. Ia dapat menjadi jendela untuk melihat persoalan manusia yang lebih luas.

Indonesia dibangun dari begitu banyak kebudayaan, bahasa, tradisi, dan cara manusia membaca kehidupan. Setiap daerah memiliki warisan nilai dengan istilah dan ekspresi yang berbeda. Perbedaan itu tidak selalu perlu diseragamkan agar dapat saling berbicara. Justru dari perbedaan itulah dialog kebudayaan menjadi mungkin.

Agama pun demikian. Setiap agama memiliki keyakinan, ajaran, tata ibadah, dan tradisi yang memiliki kekhasannya masing-masing. Perbedaan itu tidak perlu dihapus agar manusia dapat hidup bersama.

Ada ruang kehidupan bersama tempat manusia dapat bertemu dalam nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama, keadilan, kepedulian, dan menjaga kehidupan.

Bukan berarti semua agama sama. Melainkan manusia yang berbeda keyakinan tetap memiliki kehidupan bersama yang perlu dirawat. Karena itu, agama ageming aji dapat dibaca melampaui batas budaya yang melahirkannya.

Pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi dalam: Apakah agama yang kita kenakan telah membentuk cara kita memperlakukan manusia lain? Sebab identitas agama dapat terlihat dalam nama, pakaian, simbol, dan ucapan. Tetapi nilai agama justru lebih mudah terbaca melalui perilaku.

Ketika Budi Menjadi Cermin

Pada akhirnya, pertanyaan tentang agama akan kembali kepada manusia. Kita mungkin telah banyak mengetahui ajaran. Kita mungkin mampu berbicara tentang kebaikan. Kita mungkin bangga dengan identitas keagamaan yang kita miliki.

Tetapi bagaimana ketika kejujuran membuat kita kehilangan keuntungan? Bagaimana ketika amanah memberi kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan milik kita? Bagaimana ketika orang lain berbeda pendapat? Bagaimana ketika kebaikan yang dilakukan tidak mendapatkan pujian? Bagaimana ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui pilihan yang kita ambil? Di sanalah ageman agama benar-benar diuji.

Sebab agama yang diagem perlahan bekerja pada budi. Ia mengajari manusia bukan hanya apa yang benar untuk dipercayai, tetapi bagaimana kebenaran itu dijalani. Dari sanalah perjalanan itu bergerak: Agama → Diagem → Dihayati → Dilakoni → Membentuk Budi. Dan ketika budi terus ditempa melalui laku, lahirlah kemungkinan yang lebih tinggi: luhuring budi.

Bukan sekadar menjadi orang yang tahu tentang kebaikan. Bukan pula sekadar dikenal sebagai orang baik. Melainkan menjadi manusia yang kehadirannya membawa kebaikan.

Ageman yang Menjadi Kehidupan

Pada akhirnya, agama tidak cukup hanya terdengar dalam ucapan, terlihat dalam identitas, atau tersimpan dalam pengetahuan. Ia menemukan kemuliaannya ketika diagem—ketika nilai-nilainya hidup dalam cara kita berpikir, berkata, bersikap, dan memperlakukan sesama. Di situlah ungkapan agama ageming aji menemukan relevansinya kembali.

Sebuah warisan dari tanah Jawa yang dapat mengajak manusia zaman kini untuk bertanya kepada dirinya sendiri. Bukan hanya: “Apa agama yang saya anut?” Tetapi juga: “Seperti apa agama itu hidup dalam diri saya?” Sebab ageman yang sesungguhnya bukanlah yang paling tampak di luar, melainkan yang paling terasa dalam laku kehidupan.

Dari sanalah budi mulai dibentuk. Dan ketika budi terus diluhurkan oleh laku, agama tidak hanya menjadi keyakinan yang kita miliki, tetapi menjadi kehidupan yang kita jalani.

Biografi Singkat Penulis

Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *