Menata Diri, Menata Negeri
Belajar dari Panembahan Senopati tentang Kharisma, Kebijaksanaan, dan Toto Tentrem
Oleh: Thonang Effendi
Ketika Kekuasaan Belum Tentu Melahirkan Kewibawaan
Di panggung modernitas hari ini, kita kerap menyaksikan sebuah paradoks: kekuasaan dan jabatan dapat diraih, tetapi kewibawaan sejati belum tentu mengikutinya. Banyak pemimpin memiliki otoritas untuk memerintah, tetapi tidak selalu memiliki daya untuk menggerakkan hati.
Ketika kepemimpinan hanya dipahami sebagai seni meraih dan mempertahankan kekuasaan, yang lahir bisa jadi sekadar kebisingan tanpa kedalaman. Kita merindukan sosok yang kehadirannya menenteramkan; yang perkataannya didengar bukan semata karena jabatan, tetapi karena integritas.
Di titik itulah kita dapat menengok kembali kearifan leluhur dan membaca ulang makna kepemimpinan melalui sosok Panembahan Senopati.
Panembahan Senopati dan Laku Utama
Nuladha laku utama—teladanilah perilaku yang utama.
Untaian bait Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV ini mengajak kita menengok Panembahan Senopati sebagai figur teladan dalam laku kepemimpinan. Ia merupakan tokoh penting dalam sejarah awal Mataram Islam, tetapi dalam ingatan kultural Jawa, sosoknya juga dihadirkan sebagai gambaran pemimpin yang menempuh laku prihatin dan pengendalian diri.
Pesannya sederhana: negeri tidak akan mudah ditata apabila pemimpinnya belum selesai menata dirinya sendiri.
Kepemimpinan, dengan demikian, bukan hanya persoalan kemampuan mengatur orang lain. Ia bermula dari kemampuan mengatur diri sendiri.
Menundukkan Hawa, Menemukan Diri
Kepati amarsudi, sudane hawa lan nepsu.
Seorang pemimpin pertama-tama berhadapan dengan musuh yang paling dekat: egonya sendiri.
Dalam tradisi Jawa dikenal pula gagasan Nutupi Babahan Hawa Sanga—mengendalikan sembilan pintu hawa dan nafsu dalam diri manusia. Dalam konteks kepemimpinan, gagasan ini dapat dibaca sebagai ajakan untuk menutup pintu ketamakan, kesombongan, kemarahan, dan ambisi yang tidak terkendali.
Ketika hawa dan nafsu mulai tertata, batin menjadi lebih jernih. Dari kejernihan itulah keputusan dapat lahir dengan lebih bijaksana.
Sebab, kemenangan terbesar seorang pemimpin bukan ketika ia mampu menundukkan orang lain, melainkan ketika ia mampu menundukkan dirinya sendiri.
Dari Laku Menuju Kharisma
Kharisma atau daya prabawa bukan sekadar kosmetik citra. Ia tumbuh dari kualitas diri yang dijalani secara konsisten.
Laku pengendalian diri menjernihkan rasa. Rasa yang jernih menumbuhkan kepekaan. Kehendak atau karsa kemudian diarahkan untuk tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Dari sinilah lahir kewibawaan.
Pemimpin yang memiliki kharisma tidak selalu perlu berbicara keras agar didengar. Orang mengikuti bukan semata karena takut pada kekuasaan, melainkan karena percaya kepada pribadi dan arah yang dibawanya.
Karena itu: Laku membentuk karakter.
Karakter menjernihkan rasa.
Rasa melahirkan kepekaan.
Konsistensi melahirkan kepercayaan.
Dan kepercayaan melahirkan kharisma.
Kharisma bukan sesuatu yang perlu dikejar. Ia adalah buah dari laku yang dijalani dengan konsisten.
Eling, Waspodo, dan Niteni
Dari batin yang tertata lahir kemampuan membaca keadaan. Eling berarti sadar akan jati diri, amanah, dan keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT. Waspodo berarti tidak gegabah; mampu menjaga diri dari dorongan sesaat, informasi yang belum utuh, maupun keputusan yang lahir dari emosi. Sementara niteni adalah kemampuan mencermati tanda dan membaca pola kehidupan.
Pemimpin yang niteni tidak mudah terombang-ambing oleh tren sesaat. Ia belajar dari pengalaman, membaca perubahan sosial, memahami keadaan masyarakat, dan mempertimbangkan akibat dari setiap keputusan.
Niteni bukan meramal masa depan. Ia adalah kemampuan belajar dari tanda-tanda masa kini untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana bagi masa depan.
Spiritualitas sebagai Jalan dan Pagar
Kearifan Jawa dapat dibaca berdialog dengan spiritualitas Islam ketika diletakkan dalam bingkai tauhid.
Laku prihatin menemukan padanannya dalam disiplin ibadah. Eling lan waspodo dapat dipertautkan dengan kesadaran muraqabah—kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah—serta tradisi zikir dan muhasabah.
Dalam perspektif ini, kebudayaan menjadi wadah nilai, sementara tauhid menjadi arah dan pagar.
Alam dibaca, tetapi tidak disembah.
Rasa digunakan, tetapi tidak dipertuhankan.
Daya dikembangkan, tetapi tidak disombongkan.
Kharisma dipancarkan, tetapi bukan untuk menakut-nakuti sesama.
Dengan demikian, laku batin tidak membawa manusia menjauh dari kehidupan. Ia justru membantu manusia hadir di tengah kehidupan dengan kesadaran, tanggung jawab, dan kerendahan hati.
Dari Kharisma Menuju Kepemimpinan Bijaksana
Untuk apa seorang pemimpin memiliki kharisma?
Bukan untuk menundukkan atau memamerkan kedigdayaan. Kharisma memperoleh maknanya ketika digunakan untuk menggerakkan masyarakat menuju kebaikan dan menghadirkan ketenteraman. Di sinilah pesan Serat Wedhatama menjadi sangat relevan:
Amemangun karyenak tyasing sasama.
Membangun keadaan yang membuat hati sesama menjadi baik dan tenteram.
Kepemimpinan yang bijaksana bukan sekadar menghasilkan kepatuhan, tetapi menumbuhkan kesadaran. Bukan hanya mampu memerintah, tetapi mampu memberi teladan. Bukan hanya menyelesaikan persoalan, tetapi juga menjaga hubungan antarmanusia.
Toto Tentrem Karto Raharjo
Ketika kualitas pribadi pemimpin tertata, pengaruhnya diharapkan memancar kepada kehidupan masyarakat.
Toto berarti tertata.
Tentrem berarti tenteram.
Karto menggambarkan keadaan yang subur, aktif, dan produktif.
Raharjo mengarah pada kehidupan yang selamat dan sejahtera.
Keteraturan melahirkan rasa aman. Rasa aman memberi ruang bagi masyarakat untuk bekerja, berkreasi, membangun usaha, dan mengembangkan kehidupan. Dari sana diharapkan tumbuh kesejahteraan. Dengan kata lain:
Diri yang tertata melahirkan kepemimpinan yang tertata.
Kepemimpinan yang tertata menghadirkan kehidupan yang tenteram.
Kehidupan yang tenteram membuka jalan menuju kesejahteraan.
Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Pada akhirnya, pertautan antara kearifan Wedhatama dan spiritualitas Islam membawa kita pada cita kehidupan bersama yang lebih tinggi: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang baik dan kehidupan yang berada dalam ampunan Allah SWT.
Di sini, keberhasilan kepemimpinan tidak berhenti pada angka pertumbuhan, pembangunan fisik, atau besarnya kekuasaan.
Ada ukuran yang lebih dalam: apakah kehidupan manusia menjadi lebih baik, lebih aman, lebih bermartabat, dan lebih tenteram?
Kita kembali diingatkan pada pesan Serat Wedhatama:
Amemangun karyenak tyasing sasama.
Membangun kehidupan yang membuat hati sesama menjadi tenteram.
Sebab pada akhirnya, kebesaran seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa besar kekuasaan yang berada di tangannya, melainkan pada seberapa tenteram kehidupan yang tumbuh di sekelilingnya.
Menata diri adalah awal dari menata kepemimpinan.
Menata kepemimpinan adalah jalan menuju menata negeri.
Biografi Singkat Penulis
Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learnopiniing & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.
