Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah: Menjaga Akal Sehat, Mencerahkan Peradaban

Oleh : Dr. Ir. Narmodo, M. Ag
Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik
_Di tengah zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia memeriksanya, pers dan literasi tidak lagi sekadar urusan membaca, menulis, atau menerbitkan berita. Keduanya telah menjadi benteng akal sehat, penjaga kebenaran, sekaligus jalan membangun peradaban. Muhammadiyah sejak awal memahami pentingnya hal itu. Jauh sebelum masyarakat mengenal internet, media sosial, algoritma, dan kecerdasan buatan, Persyarikatan telah menjadikan tulisan sebagai salah satu jalan dakwah dan pencerahan._
Dari Suara Muhammadiyah, Tradisi Itu Bermula
Tanggal 13 Agustus mempunyai arti penting dalam perjalanan pers dan literasi Muhammadiyah. Tanggal ini merujuk pada kelahiran Soewara Moehammadijah, yang kemudian dikenal sebagai Suara Muhammadiyah, dan pertama kali terbit pada 13 Agustus 1915. Kehadirannya hanya berselang sekitar tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri pada 1912. Fakta ini menunjukkan bahwa generasi awal Muhammadiyah tidak hanya memikirkan organisasi, sekolah, pengajian, dan pelayanan sosial, tetapi juga bagaimana gagasan pembaruan dapat ditulis, disebarluaskan, dan diwariskan.
Dari perjalanan panjang itulah kemudian tumbuh semangat memperingati 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Pada 2026, Suara Muhammadiyah telah berusia 111 tahun. Ia melewati masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, kelahiran Republik Indonesia, berbagai perubahan politik nasional, Reformasi, hingga zaman digital. Umur panjang itu bukan sekadar catatan kelembagaan, tetapi bukti bahwa literasi merupakan bagian penting dari denyut gerakan Muhammadiyah.
Sejarah itu sekaligus memperlihatkan bahwa Muhammadiyah telah lama memahami pentingnya membangun opini publik yang sehat. Sebuah gerakan tidak cukup hanya bekerja, tetapi juga harus mampu menjelaskan apa yang dikerjakan, mengapa hal itu dilakukan, nilai apa yang diperjuangkan, dan ke arah mana masyarakat hendak dibawa. Di sinilah tulisan menjadi jembatan antara gagasan dan perubahan sosial.
Pers sebagai Jalan Dakwah dan Pencerahan
Sejak awal, pers Muhammadiyah bukan hanya papan pengumuman organisasi. Ia adalah bagian dari dakwah. Melalui tulisan, gagasan keagamaan, pendidikan, kebangsaan, dan pembaruan dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Dakwah lisan mempunyai kekuatannya sendiri, tetapi tulisan memiliki kemampuan melintasi ruang, waktu, dan generasi. Sebuah ceramah mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir, sedangkan tulisan dapat dibaca berulang-ulang bahkan setelah penulisnya tiada.
Di sinilah pers dan literasi bertemu dengan spirit dasar Islam. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW dimulai dengan kata “Iqra’”, bacalah. Perintah itu tidak hanya bermakna mengeja huruf, tetapi juga membaca kehidupan, membaca masyarakat, membaca perubahan zaman, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadirkan kebaikan. Peradaban yang maju selalu ditopang oleh masyarakat yang gemar membaca, menulis, meneliti, berdiskusi, dan mendokumentasikan pengetahuan.
Karena itu, literasi bagi Muhammadiyah tidak seharusnya ditempatkan sebagai kegiatan tambahan. Literasi adalah bagian dari fondasi gerakan berkemajuan. Muhammadiyah dapat membangun sekolah, universitas, rumah sakit, masjid, dan berbagai amal usaha, tetapi semua itu akan kehilangan sebagian maknanya apabila pengalaman, gagasan, keberhasilan, serta pelajarannya tidak ditulis dan didokumentasikan. Dokumentasi bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah ingatan organisasi.
Tradisi literasi juga menjadikan dakwah lebih rasional dan berjangka panjang. Dakwah yang kuat bukan hanya menyentuh emosi, tetapi juga membentuk cara berpikir. Masyarakat diajak tidak sekadar menerima, tetapi memahami. Tidak sekadar mengikuti, tetapi juga mengetahui alasan, dasar, dan tujuan dari sebuah ajaran maupun gerakan.
Menjaga Kehidupan Berbangsa dengan Informasi yang Sehat
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pers mempunyai peran yang sangat strategis. Negara demokratis membutuhkan masyarakat yang memperoleh informasi secara benar, kekuasaan memerlukan kontrol, kebijakan publik membutuhkan kritik, dan rakyat membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi. Di sinilah pers menjalankan fungsi sebagai penyedia informasi, sarana pendidikan publik, ruang dialog, dan instrumen kontrol sosial.
Namun pers yang tumbuh dari tradisi Muhammadiyah semestinya memiliki karakter tersendiri. Kritik dilakukan bukan untuk membangun permusuhan, melainkan untuk memperbaiki keadaan. Kedekatan dengan pemerintah tidak boleh menghilangkan independensi, sedangkan sikap kritis juga tidak boleh berubah menjadi kebencian terhadap kekuasaan. Pers harus mampu memberikan apresiasi ketika kebijakan berpihak kepada kepentingan rakyat dan berani mengkritik apabila terjadi penyimpangan.
Dalam konteks ini, prinsip amar ma’ruf nahi munkar menemukan bentuk jurnalistiknya. Pers dapat membela kelompok lemah, membuka ruang bagi suara yang terpinggirkan, melawan korupsi, memperjuangkan keadilan, dan menghadirkan informasi yang mencerdaskan. Pers semacam inilah yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa: kritis tetapi beradab, independen tetapi bertanggung jawab, tegas tanpa kehilangan kejernihan.
Bagi Muhammadiyah, keterlibatan dalam kehidupan berbangsa tidak harus selalu melalui kekuasaan politik. Ia dapat dilakukan melalui pendidikan publik, pelayanan sosial, kajian kebijakan, penguatan masyarakat sipil, serta media yang mampu memelihara akal sehat. Dalam konteks inilah pers menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kualitas demokrasi.
Literasi di Tengah Banjir Informasi dan Kecerdasan Buatan
Tantangan hari ini bahkan lebih kompleks daripada satu abad lalu. Jika masyarakat pada masa awal Muhammadiyah menghadapi kelangkaan informasi dan tingginya angka buta huruf, masyarakat sekarang justru mengalami banjir informasi. Hampir setiap orang membawa dunia informasi di dalam telepon genggamnya. Berita, komentar, video, potongan ceramah, opini politik, survei, dan berbagai klaim dapat menyebar dalam hitungan detik.
Persoalan kita bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan.
Di sinilah literasi menemukan relevansi barunya. Orang yang mampu membaca belum tentu mempunyai kemampuan literasi yang baik. Literasi digital berarti kemampuan memahami konteks, memeriksa sumber, membedakan fakta dan opini, mengenali manipulasi, serta tidak tergesa-gesa menyebarkan sesuatu yang belum terverifikasi.
Kehadiran kecerdasan buatan membuat tantangan itu semakin besar. Teknologi kini dapat menghasilkan tulisan, gambar, suara, dan video yang tampak sangat meyakinkan. Foto dapat dimanipulasi, suara dapat direkayasa, video dapat dibuat menyerupai kenyataan, sedangkan informasi yang keliru dapat dibungkus dengan bahasa yang tampak ilmiah. Karena itu, masyarakat membutuhkan bukan hanya literasi membaca, tetapi juga literasi media, literasi digital, dan literasi kecerdasan buatan.
Muhammadiyah mempunyai modal besar untuk mengambil peran tersebut. Jaringan sekolah, perguruan tinggi, pesantren, masjid, rumah sakit, organisasi otonom, majelis, lembaga, dan struktur Persyarikatan dari pusat hingga akar rumput dapat menjadi ekosistem literasi nasional. Apabila sekolah Muhammadiyah membangun budaya menulis, kampus menghasilkan pengetahuan yang mudah dipahami masyarakat, masjid menjadi ruang literasi umat, dan media Persyarikatan dikelola secara profesional, pengaruhnya akan sangat besar bagi bangsa Indonesia.
Warisan 111 Tahun dan Tugas Generasi Kini
Dari perjalanan 111 tahun pers Muhammadiyah, ada beberapa pelajaran penting. Pertama, gagasan yang tidak ditulis mudah hilang. Tulisan membuat satu generasi dapat berbicara kepada generasi berikutnya. Kedua, dakwah harus mampu menggunakan teknologi zamannya. Para pendahulu menggunakan media cetak karena itulah teknologi yang efektif pada masanya; generasi sekarang harus mampu menggunakan media digital dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan nilai dan etika. Ketiga, kecepatan tidak boleh mengalahkan kebenaran. Dalam dunia yang mengejar viralitas, akurasi justru menjadi kemewahan yang harus dijaga.
Pelajaran berikutnya adalah bahwa literasi melahirkan kemandirian berpikir. Masyarakat yang lemah literasinya mudah digiring propaganda, diprovokasi oleh potongan informasi, dan dipecah oleh kebencian. Sebaliknya, masyarakat yang terbiasa membaca akan lebih mampu bertanya, membandingkan sumber, memeriksa fakta, dan mengambil kesimpulan secara rasional. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga semacam ini.
Karena itu, Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah tidak selayaknya berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini seharusnya menjadi ajakan untuk menghidupkan kembali kegairahan membaca, menulis, meneliti, mendokumentasikan, dan menyebarkan gagasan yang mencerahkan. Muhammadiyah mempunyai tradisi besar yang perlu terus dirawat: beramal sekaligus menulis tentang amal, bergerak sekaligus mendokumentasikan gerakan, berdakwah sekaligus membangun pengetahuan.
Pada akhirnya, sejarah Suara Muhammadiyah mengajarkan bahwa alat komunikasi boleh berubah, tetapi tanggung jawab moral pers tidak berubah. Dari mesin cetak pada 1915 hingga algoritma dan kecerdasan buatan pada 2026, tugasnya tetap sama: menghadirkan kebenaran, mencerdaskan masyarakat, membela kemanusiaan, dan menjaga kehidupan publik tetap berada dalam cahaya akal sehat.
Sebab gerakan yang berhenti membaca akan kehilangan kedalaman, organisasi yang berhenti menulis akan kehilangan ingatan, dan bangsa yang kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dari kebohongan akan mudah kehilangan arah.
Maka semangat Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah dapat dirangkum dalam satu ikhtiar besar: membaca zaman dengan kejernihan, menuliskan gagasan dengan keberanian, menyampaikan kebenaran dengan keadaban, dan menjadikan ilmu sebagai jalan menuju peradaban yang berkemajuan. (*)
