Artikel
Ketika Portofolio Menjadi Ukuran Keberhasilan Mahasiswa
Masihkah kampus menjadi ruang untuk membentuk manusia ketika hampir setiap pengalaman dinilai berdasarkan manfaatnya bagi karier?
Oleh: Shafa Khoirunnisa Fajri.*
Hari ini, menjadi mahasiswa berarti belajar dua hal sekaligus: memahami materi kuliah dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Yang pertama diajarkan di ruang kelas. Yang kedua dipelajari melalui organisasi, magang, kepanitiaan, pelatihan, kegiatan kerelawanan, hingga membangun profil profesional di LinkedIn. Semua itu bukan sesuatu yang keliru. Sebaliknya, berbagai pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Namun, ketika hampir setiap aktivitas dinilai berdasarkan manfaatnya bagi curriculum vitae (CV), muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya sedang dibentuk oleh pendidikan?
Perubahan tersebut bukan sekadar persoalan pilihan pribadi. Ia juga lahir dari perubahan cara masyarakat memandang keberhasilan. Mahasiswa yang aktif berorganisasi, memiliki pengalaman magang, atau mengikuti berbagai pelatihan sering kali dipersepsikan lebih siap menghadapi masa depan. Persepsi itu akhirnya membentuk standar baru tentang mahasiswa yang dianggap berhasil. Tanpa disadari, keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari pemahaman terhadap ilmu yang dipelajari, tetapi juga dari banyaknya pengalaman yang berhasil dikumpulkan sebelum lulus.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa banyak mahasiswa merasa bersalah ketika memilih beristirahat. Waktu luang sering dipandang sebagai kesempatan yang terbuang. Membaca buku di luar kebutuhan kuliah dianggap kurang produktif. Menolak kepanitiaan terasa seperti kehilangan peluang. Bahkan ketika tidak melakukan apa pun, muncul kecemasan bahwa orang lain sedang bergerak lebih cepat. Produktivitas tidak lagi sekadar menjadi kebiasaan, tetapi mulai berubah menjadi ukuran nilai diri.
Perubahan dunia kerja memang tidak dapat diabaikan. Gelar sarjana tidak lagi dianggap cukup untuk memasuki pasar kerja. Pengalaman organisasi, magang, kemampuan bekerja dalam tim, serta kemampuan beradaptasi menjadi pertimbangan yang semakin penting. Laporan Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menunjukkan bahwa keterampilan praktis dan kemampuan belajar secara berkelanjutan menjadi semakin dibutuhkan di tengah perubahan dunia kerja yang cepat.
Perubahan tersebut juga terlihat di Indonesia. Berbagai program seperti magang bersertifikat, pelatihan kompetensi, hingga pengembangan karier semakin banyak ditawarkan kepada mahasiswa. Kampus pun semakin mendorong mahasiswanya untuk aktif mengikuti kegiatan di luar ruang kelas sebagai bekal memasuki dunia profesional. Dorongan tersebut tentu membawa banyak manfaat. Mahasiswa memperoleh kesempatan belajar langsung dari dunia kerja, membangun jejaring, dan mengembangkan berbagai keterampilan. Namun, bersamaan dengan itu, muncul kecenderungan untuk memandang setiap pengalaman terutama dari nilai tambah yang dapat diberikan bagi karier.
Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa mulai mengikuti lebih dari satu organisasi, mencari kesempatan magang sejak semester awal, hingga aktif membangun profil profesional di LinkedIn. Berbagai program magang, pelatihan, dan sertifikasi yang semakin mudah diakses juga mendorong mahasiswa untuk terus menambah pengalaman sebagai bekal memasuki dunia kerja. Persoalan yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah aktivitas tersebut, melainkan cara kita memaknainya.
Perubahan itu tampak dari cara kita berbicara tentang kuliah. Pertanyaan yang muncul bukan lagi, “Apa yang kamu pelajari?”, melainkan, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Percakapan tentang buku yang mengubah cara berpikir perlahan tergantikan oleh pembahasan mengenai sertifikat, magang, dan portofolio. Pengalaman belajar semakin sering dinilai berdasarkan manfaatnya bagi CV.
Di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar. Pendidikan memang perlu mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. Namun, ketika hampir setiap pengalaman hanya dihargai karena nilai ekonominya, pendidikan berisiko kehilangan salah satu tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang mampu berpikir, memahami dirinya sendiri, dan memaknai dunia di sekitarnya.
Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memilih suatu kegiatan bukan semata-mata karena minat, melainkan karena merasa perlu terus menambah pengalaman. Ada kekhawatiran bahwa waktu luang yang tidak menghasilkan sertifikat, relasi, atau keterampilan baru merupakan kesempatan yang terlewatkan. Akibatnya, proses belajar perlahan berubah menjadi proses mengumpulkan pencapaian. Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin tinggi pula standar yang harus dipenuhi. Pada titik itulah pertanyaan tentang makna pendidikan menjadi semakin relevan.
Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya memilih suatu kegiatan bukan karena benar-benar tertarik, melainkan karena khawatir dianggap kurang produktif. Waktu luang terasa seperti kesempatan yang terbuang apabila tidak diisi dengan aktivitas yang dapat memperkuat portofolio. Akibatnya, proses belajar perlahan berubah menjadi proses mengumpulkan pengalaman. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki, semakin tinggi pula harapan untuk memperoleh pengakuan. Di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pendidikan sedang mengajarkan manusia untuk bertumbuh, atau justru untuk terus mengumpulkan pencapaian?
Pertanyaan tersebut mengingatkan pada gagasan Erich Fromm dalam To Have or To Be?. Fromm membedakan dua cara manusia memaknai hidup. Pertama, orientasi to have, yaitu kecenderungan mengukur hidup berdasarkan apa yang berhasil dimiliki, seperti harta, status, pengakuan, atau pencapaian. Kedua, orientasi to be, yaitu cara hidup yang menempatkan proses bertumbuh, memahami diri, dan membangun relasi sebagai sesuatu yang lebih bermakna daripada sekadar memiliki.
Kampus perlahan ikut berbicara dalam bahasa yang sama dengan pasar kerja. Pengalaman organisasi dihargai karena memperkuat CV. Magang dipilih karena meningkatkan peluang diterima bekerja. Kegiatan kerelawanan dipandang sebagai pengalaman yang memperkaya portofolio. Bahkan belajar pun terkadang terasa kurang berarti jika tidak menghasilkan sertifikat atau pencapaian yang dapat ditunjukkan kepada orang lain.
Persoalannya bukan terletak pada organisasi, magang, ataupun kegiatan kerelawanan. Semua pengalaman tersebut dapat menjadi ruang belajar yang berharga. Yang patut dipertanyakan adalah cara kita memaknainya. Ketika nilai sebuah pengalaman lebih ditentukan oleh manfaat ekonominya daripada proses belajar yang menyertainya, pendidikan perlahan bergeser dari ruang pembentukan manusia menjadi ruang produksi individu yang kompetitif.
Yang kita kumpulkan semakin banyak, tetapi rasa cukup terasa semakin jauh. Barangkali, yang membuat banyak mahasiswa merasa lelah bukanlah banyaknya kegiatan yang mereka jalani. Yang melelahkan adalah keyakinan bahwa nilai diri selalu bergantung pada pencapaian berikutnya. Selama ukuran keberhasilan ditentukan oleh apa yang berhasil dimiliki, selalu ada alasan untuk merasa kurang.
Tentu, dunia kerja membutuhkan lulusan yang kompeten. Tidak ada yang salah dengan organisasi, magang, pelatihan, ataupun kegiatan kerelawanan. Semua pengalaman tersebut tetap penting karena dapat memperkaya cara berpikir, membangun kepekaan sosial, dan melatih kemampuan bekerja sama. Namun, pengalaman-pengalaman itu kehilangan maknanya ketika hanya dipandang sebagai alat untuk meningkatkan nilai jual diri.
Refleksi tersebut bukan berarti mahasiswa harus berhenti mengikuti organisasi, magang, ataupun kegiatan di luar kelas. Pengalaman-pengalaman itu tetap memiliki nilai yang penting. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai proses belajar hanya dipandang sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan. Pendidikan seharusnya juga menjadi ruang untuk mengenal diri, membangun kepekaan terhadap sesama, dan memahami makna dari setiap pengalaman yang dijalani.
Mungkin, pertanyaan yang perlu lebih sering diajukan selama kuliah bukanlah, “Apa lagi yang bisa saya tambahkan ke dalam CV?” Melainkan, “Apa yang berubah dalam cara saya memandang diri sendiri dan dunia?”
Sebab, pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mempersiapkan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan adalah proses menjadi manusia. Jika suatu hari portofolio lebih menentukan nilai seseorang daripada proses bertumbuhnya, mungkin yang sedang kehilangan arah bukanlah mahasiswanya, melainkan makna pendidikan itu sendiri.
*Penulis : Mahasiswi UPI Jurusan Psikologi.
