Jambi , Beritakotanews.id : Ada pepatah lama yang terus terngiang di tengah masyarakat Jambi: ulama boleh berpulang, tetapi ilmu dan keteladanannya tak pernah padam. Nama itu adalah KH. Kemas Abdussomad, ulama besar yang meletakkan fondasi keislaman, pendidikan, dan kehidupan sosial Jambi sepanjang abad ke-20 — dan warisannya masih terasa hingga hari ini, ketika sebuah rombongan lintas lembaga menapaktilasi jejaknya dalam rangkaian kegiatan sosial yang sarat makna.
Berawal dari Perang Melawan Narkoba
Rangkaian kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB dengan silaturahmi dan sharing session di kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jambi. Sultan Youdhi Prayogo, S.E., M.E. (Sultan Muhammad Syah), didampingi Ustadz Imran dari Rumah Al-Qur’an Arrohman – Abiqu Center dan Andi Muhammad Syah Al Fatih selaku representasi Generasi Z dari Lembaga Anti Narkoba (LAN) dan Forum Keberagaman Nusantara (FKN), diterima langsung oleh Ketua Tim Pencegahan BNNP Jambi, Nurhasmayeti, S.H., M.H., bersama Penyuluh Narkotika Verawati, S.Sos.I.
Pertemuan ini menjadi penjajakan awal kolaborasi antara BNNP Jambi dan kedua lembaga masyarakat sipil tersebut. Nurhasmayeti menegaskan bahwa perang melawan narkoba tak bisa dimenangkan satu institusi saja — dibutuhkan sinergi pemerintah, keluarga, tokoh agama, akademisi, media, hingga generasi muda. Ia juga menyoroti pergeseran paradigma pencegahan narkoba, dari sekadar sosialisasi bahaya menuju pembangunan ketahanan sosial masyarakat secara menyeluruh: keluarga yang harmonis, pendidikan yang kuat, dan spiritualitas yang kokoh.
Sultan Youdhi Prayogo menyebut pertemuan itu sebagai langkah strategis. “Narkoba bukan hanya merusak individu, tetapi dapat menghancurkan masa depan sebuah keluarga, masyarakat, bahkan peradaban sebuah bangsa. Oleh karena itu, pencegahan harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari keluarga, pendidikan, penguatan spiritualitas, hingga pembangunan harmoni sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menapaki Jejak Sang Ulama
Usai bersilaturahmi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid KH. Kemas Abdussomad untuk menunaikan shalat Zuhur berjamaah — sebuah perhentian yang sarat simbol. Dari institusi negara yang berjibaku menyelamatkan generasi dari ancaman narkotika, langkah kemudian tertuju ke rumah ibadah yang mengabadikan nama seorang ulama yang seumur hidupnya membangun manusia lewat ilmu dan keteladanan.
Turut hadir Abah Hendrayani, S.E., Kepala Departemen di Sinarmas Group sekaligus Ketua Raudhoh Jambi Bersinar yang juga menjabat Dewan Penasehat LAN dan FKN. Momen itu makin bermakna dengan kehadiran Abah Dr. Kemas Abdul Hai — dosen Universitas Jambi, pengasuh Padepokan Sufatul Alam, sekaligus cucu KH. Kemas Abdussomad — yang hingga kini meneruskan pembinaan masyarakat melalui pendidikan, dakwah, dan penguatan nilai spiritual warisan sang kakek.
Ikhtiar untuk Generasi Muda
Ustadz Imran, lewat Rumah Al-Qur’an Arrohman dan Abiqu Center, menegaskan bahwa perang melawan narkoba harus dimulai dari pembangunan karakter dan spiritualitas generasi muda. Sementara kehadiran Andi Muhammad Syah Al Fatih menjadi penanda bahwa Generasi Z tak boleh sekadar jadi objek pembangunan, melainkan subjek dan pelaku utama menuju Indonesia Emas 2045.
Diskusi Hangat di Meja Soto Betawi Kasang
Rangkaian kegiatan ditutup dengan diskusi santai namun substantif di Soto Betawi Kasang, kuliner legendaris yang sudah jadi bagian memori kolektif warga Jambi lintas generasi. Di sanalah percakapan mengalir: ketahanan keluarga, pendidikan karakter, pemberdayaan generasi muda, bahaya narkoba, hingga peran masyarakat sipil dalam mendukung visi Kota Jambi Bahagia yang digagas Pemerintah Kota Jambi.
LAN dan FKN dikabarkan tengah mempersiapkan audiensi dengan Wali Kota Jambi sebagai wujud komitmen berkontribusi dalam pembangunan sosial masyarakat.
Satu Benang Merah: Pembangunan Manusia
Dari BNNP Jambi, ke Masjid KH. Kemas Abdussomad, hingga meja makan sederhana — seluruh rangkaian hari itu ternyata mengerucut pada satu gagasan besar: pembangunan manusia dan peradaban. Sebuah kota, sebagaimana diyakini banyak pihak yang hadir, tak akan dikenang karena gedung-gedung tingginya, melainkan karena kualitas manusia yang tumbuh dan mengabdi di dalamnya.
Sebagaimana diwariskan KH. Kemas Abdussomad, semuanya selalu kembali pada tiga hal mendasar: ilmu, keteladanan, dan pengabdian.
“Dari para ulama kita belajar tentang ilmu dan keteladanan. Dari kolaborasi kita belajar tentang pengabdian. Dan dari generasi muda, kita menitipkan harapan bagi lahirnya peradaban yang lebih baik di masa yang akan datang.” (rsd).

