Ketika Jempol Lebih Cepat dari Nurani: Refleksi di Tengah Riuhnya Media Sosial 

Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.

Belakangan ini, layar ponsel kita tidak pernah sepi dari keriuhan. Ada saja fenomena baru yang mendadak viral, mulai dari perilaku flexing (pamer gaya hidup), konflik antarindividu yang dijadikan konsumsi publik, hingga kegemaran netizen untuk berbondong-bondong memberikan vonis dan penilaian tanpa tahu fakta yang utuh. Media sosial seolah menjadi panggung terbuka di mana siapa saja bisa menjadi hakim atas kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik.

Di satu sisi, keterbukaan informasi memang memberi kita akses tanpa batas. Namun di sisi lain, kita sering kali menyaksikan krisis empati dan turunnya kesabaran dalam menyaring kebenaran. Jempol bergerak jauh lebih cepat daripada akal sehat dan nurani.

Menelusuri Akar Masalah: Ketiadaan Pembinaan Diri di Ruang Digital

Mengapa hal ini terus berulang? Di balik dorongan untuk bersuara keras di ruang digital, sering kali tersimpan kebutuhan mendasar manusia: keinginan untuk diakui, didengar, dan merasa benar. Ketika ada sebuah tren atau kasus yang sedang hangat, banyak orang merasa harus ikut berkomentar agar tidak ketinggalan zaman (FOMO).

Sayangnya, dalam proses tersebut, kejujuran dan rasa hormat sering kali dikorbankan demi meraih perhatian singkat berupa like, share, dan popularitas sesaat.

Cermin Kebijaksanaan dari Kitab Suci Sishu & Wu Jing

Fenomena sosial seperti ini bukanlah hal yang benar-benar baru, sebab sifat dasar manusia memang cenderung mudah terpancing oleh sensasi jika tidak dibina dengan baik. Di dalam ajaran Khonghucu, seorang yang berbudi luhur (Junzi) dituntut untuk selalu menjaga sikap, ucapan, dan kebenaran hatinya di mana pun ia berada—termasuk di ruang digital hari ini.

Kitab Lun Yu (Sabda Suci) XVI : 10 memberikan nasehat yang sangat relevan mengenai kesadaran sebelum bertindak dan berucap:

“Ada sembilan hal yang dipikirkan oleh seorang Junzi: Tentang melihat sesuatu, selalu dipikirkan, sudahkah benar-benar terang,; . tentang mendengar sesuatu, selalu dipikirkan sudahkah benar-benar jelas, tentang wajahnya selalu dipikirkan sudahkah ramah tamah, tentang sikapnya, selalu dipikirkan sudahkah penuh hormat; tentang kata-katanya selalu dipikirkan sudahkah penuh satya; tentang pekerjaannya selalu dipikirkan sudahkah dilakukan dengan sungguh-sungguh; di dalam menjumpai keragu-raguan, selalu dipikirkan sudahkah dapat bertanya baik-baik, di dalam marah, selalu dipikirkan benar-benar kesukaran yang diakibatkannya, dan di dalam melihat keuntungan, selalu dipikirkan sudahkah sesuai dengan Kebenaran.”

Ayat ini memberikan fondasi reflektif yang kuat. Sebelum ikut menyebarkan kabar viral atau menulis komentar pedas, sudahkah kita “melihat dan mendengar dengan jelas”? Ataukah kita hanya terseret emosi tanpa paham kebenarannya? Seorang Junzi diingatkan untuk memikirkan dampak dari setiap ucapan dan kemarahannya.

Selain itu, pentingnya mengendalikan emosi dan menjaga kesadaran diri juga ditegaskan dalam Kitab Daxue (Ajaran Besar) VII:1

“Diri yang diliputi geram dan marah, tidak dapat berbuat lurus. Diri yang diliputi takut dan khawatir, tidak dapat berbuat lurus. Diri yang diliputi suka dan gemar, tidak dapat berbuat lurus, dan diri yang diliputi sedih dan sesal , tidak dapat berbuat lurus.”

Ketika jari-jemari kita dikuasai oleh rasa gemar berspekulasi atau amarah saat melihat berita viral, batin kita kehilangan kelurusannya. Akibatnya, komentar yang keluar bukan lagi edukasi, melainkan luapan emosi yang merusak.

Edukasi Diri: Menjadi Pengguna Media Sosial yang Bijak dan Susila

Menghadapi riuhnya peradaban digital saat ini, ada beberapa langkah edukatif yang dapat kita terapkan bersama:

Praktikkan Saring Sebelum Sharing: Pastikan kebenaran informasi sebelum dibagikan, sehingga kita tidak menjadi bagian dari rantai kebencian atau kabar burung.

Terapkan Prinsip Li (Kesusilaan/Rasa Hormat): Sebelum mengetik komentar, tanyakan pada diri sendiri apakah kalimat tersebut pantas, sopan, dan jujur.

Kendalikan Emosi dan Nafsu Senang Sesaat: Menahan diri dari perdebatan riuh yang tidak membangun adalah bentuk kedewasaan mental dan spiritual.

Jadikan Media Sosial Wadah Kebajikan: Gunakan platform digital untuk membagikan hal-hal yang menginspirasi, mengedukasi, dan menguatkan sesama.

Penutup

Dunia digital adalah ruang cermin dari kualitas batin kita. Mari kita ingat bahwa di balik setiap akun yang kita temui di layar, ada manusia bersosok nyata yang memiliki perasaan dan perjuangannya sendiri.

Sebagaimana diajarkan dalam kitab suci, kedewasaan seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia bersuara di tengah keramaian, melainkan dari seberapa bijak ia mawas diri dan menjaga kelurusan hatinya di tengah godaan sensasi.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *