Peristiwa PETA Blitar 14 Februari 1945:
Harga yang Harus Dibayar untuk Martabat Bangsa
Oleh: Thonang Effendi*)
Sejarah sering kali bergerak bukan karena rencana besar yang tersusun rapi, melainkan karena kesabaran manusia yang telah mencapai batasnya. Peristiwa PETA Blitar pada 14 Februari 1945 dapat dianalogikan seperti air yang terus dipanaskan. Mula-mula tenang, lalu beriak, hingga akhirnya mencapai titik didih dan menyembur ke udara. Demikian pula yang terjadi pada sekelompok pemuda Blitar yang tergabung dalam Tentara PETA. Kesabaran yang lama dipendam, kepatuhan yang dipaksakan, dan martabat yang terus diinjak, akhirnya bermuara pada sebuah perlawanan terbuka terhadap tentara Jepang.
Pada awalnya, para pemuda itu adalah bagian dari sistem yang dibentuk Jepang. Mereka dilatih, didisiplinkan, dan diarahkan untuk kepentingan perang Asia Timur Raya. Namun, di balik seragam dan latihan militer itu, para pemuda PETA Blitar menyaksikan langsung penderitaan rakyat. Praktik romusha yang tidak manusiawi, perlakuan kasar terhadap masyarakat, penghinaan terhadap harga diri bangsa, serta kelaparan yang meluas, menjadi pemandangan sehari-hari. Kesetiaan yang semula dibangun melalui komando dan indoktrinasi perlahan runtuh oleh kenyataan pahit di lapangan.
Para pemuda itu sadar sepenuhnya bahwa kekuatan mereka tidak sebanding dengan bala tentara Jepang. Persenjataan terbatas, jumlah pasukan kecil, dan peluang menang nyaris mustahil. Namun perlawanan tetap dilakukan. Bukan karena keyakinan akan kemenangan militer, melainkan karena dorongan moral: menunjukkan bahwa bangsa ini masih memiliki harga diri dan martabat. Bahwa penjajahan, dalam bentuk apa pun, tidak akan pernah sepenuhnya diterima sebagai jalan hidup.
Di titik inilah romantisme heroik PETA Blitar menemukan maknanya. Perlawanan itu lahir dari kepekaan sosial, dari rasa senasib sepenanggungan dengan rakyat yang tertindas. Pergulatan batin para pemuda itu menjelma menjadi keputusan kolektif: lebih baik menanggung risiko besar daripada terus hidup dalam penghinaan. PETA Blitar bukan sekadar catatan tentang pemberontakan yang gagal secara militer, tetapi bukti bahwa martabat bangsa memiliki harga yang mahal, dan ada generasi muda yang bersedia membayarnya.
Untuk memahami konteks peristiwa ini, kita perlu menengok situasi Indonesia pada masa pendudukan Jepang antara 1942 hingga 1945. Awalnya, Jepang datang dengan janji pembebasan Asia dari imperialisme Barat. Namun dalam praktiknya, penjajahan Jepang tidak kalah keras. Eksploitasi sumber daya, mobilisasi tenaga kerja secara paksa, sensor ketat, dan represi terhadap rakyat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi ekonomi memburuk, pangan langka, dan rasa aman semakin menghilang. Dalam situasi demikian, benih perlawanan tumbuh bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari dorongan mempertahankan kemanusiaan dan martabat.
Delapan dasawarsa kemudian, suasana tentu jauh berbeda. Tidak ada lagi penjajah bersenjata yang harus dilawan secara fisik. Namun tantangan zaman hadir dalam wajah lain. Globalisasi telah membuka batas-batas negara, teknologi digital menghubungkan dunia tanpa sekat, dan persaingan berlangsung dalam skala global. Tantangan generasi muda hari ini bukan lagi senapan dan meriam, melainkan kompetisi, disrupsi teknologi, dan godaan kenyamanan yang sering melemahkan daya juang.
Di era ini, martabat bangsa tidak lagi dipertaruhkan di medan tempur, tetapi di ruang-ruang lain: kualitas sumber daya manusia, daya saing tenaga kerja, integritas moral, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dunia kini menjadi arena terbuka. Informasi bergerak cepat, peluang terbentang luas, tetapi risiko juga tidak kecil. Bangsa yang tidak siap akan tertinggal, menjadi penonton, atau sekadar pemain cadangan dalam percaturan global.
Refleksi atas PETA Blitar menjadi relevan di titik ini. Jika ditarik polanya, peristiwa tersebut menunjukkan sebuah proses yang jelas. Pertama, kepekaan membaca situasi. Para pemuda PETA Blitar tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyat. Kedua, pergulatan emosi dan nurani. Rasa tidak adil, marah, dan empati berbaur menjadi kesadaran kolektif. Ketiga, keberanian mewujudkan kesadaran itu dalam tindakan nyata, meski penuh risiko.
Dalam kearifan lokal Jawa, proses ini dikenal dengan istilah osik–gumbregah: terusik lalu bangkit bergerak. Terusik oleh ketidakadilan, lalu gumbregah untuk berbuat sesuatu. Pola ini relevan bagi generasi muda Indonesia hari ini. Kepekaan terhadap tantangan zaman harus diikuti oleh keberanian keluar dari zona nyaman dan kesiapan beraksi secara nyata.
Meneladani semangat PETA Blitar bukan berarti mengulang bentuk perlawanan fisik, melainkan mewarisi nilai-nilai karakter luhur yang terkandung di dalamnya. Keberanian moral untuk berkata tidak pada ketidakjujuran, ketekunan dalam meningkatkan kompetensi, kesediaan berkorban waktu dan tenaga untuk belajar, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari bangsa. Di tengah dunia yang serba instan, nilai-nilai ini justru menjadi pembeda antara generasi yang sekadar hadir dan generasi yang memberi arah.
Pada akhirnya, pertanyaan besar yang perlu diajukan adalah ke mana arah langkah generasi muda Indonesia hari ini. Di bidang apa ingin menjadi pemain utama? Apa yang sudah dipersiapkan sejak sekarang untuk menjawab tantangan global? Sejarah PETA Blitar mengajarkan bahwa martabat bangsa tidak pernah terjaga dengan sendirinya. Ia selalu menuntut harga, dalam bentuk keberanian, perjuangan, dan pengorbanan.
Peristiwa 14 Februari 1945 itu mungkin telah berlalu puluhan tahun, tetapi pesannya tetap hidup. Martabat bangsa adalah amanah lintas generasi. Ketika generasi muda hari ini mampu membaca situasi, merasakan kegelisahan zaman, dan berani bergerak dengan persiapan yang matang, di situlah semangat PETA Blitar menemukan relevansinya dalam konteks Indonesia masa kini dan masa depan.*
*Penulis:
Thonang Effendi
Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII
Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan
