Artikel :

Cukup Satu Alasan Mencintai Indonesia

Menatap 2026: Perbaikan Berkelanjutan untuk Indonesia Maju

Oleh: Thonang Effendi*)

Indonesia terdiri dari berbagai pulau dengan keragaman suku, bahasa, dan adat istiadat, namun terbingkai menjadi satu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Nasionalisme terpatri dalam satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita; terikat kuat dalam nilai-nilai Pancasila dan dikokohkan dalam rumah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada pertengahan bulan Desember 2025 lalu, telah dihelat Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan oleh DPP LDII di Kantor Pusat DPP LDII, Senayan. Salah satu pembicaranya adalah Prof. Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna, yang telah menyelesaikan karya terbarunya berjudul Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia: Epos Sumbangsih Cerlang Nusantara sebagai Pandu Masa Depan.

Dalam paparannya, Prof. Yudi Latif mengajak peserta menengok kembali keberadaan, posisi, dan peran Indonesia di panggung dunia—bukan hanya hari ini, tetapi sejak berabad-abad lalu. Ia bercerita tentang rempah-rempah Nusantara yang menggerakkan peradaban global, tentang jalur sutra maritim, hingga kisah kayu cendana dari Nusantara yang konon digunakan oleh Raja Sulaiman. Cerita-cerita itu mengalir ringan, tetapi meninggalkan kesan mendalam: Indonesia bukan sekadar “ada” dalam sejarah dunia, melainkan pernah menjadi poros pentingnya.

Salah satu cerita yang paling melekat dalam ingatan peserta adalah pengalaman Prof. Yudi Latif ketika berkunjung ke Jerman. Di sejumlah stasiun kereta api, ia menemukan rak-rak buku kecil yang disediakan untuk publik. Menariknya, salah satu judul buku yang terpajang adalah 101 Ways to Love Germany—101 cara mencintai Jerman. Buku-buku itu bukan propaganda kosong, melainkan upaya sederhana namun konsisten untuk menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan warga terhadap bangsanya sendiri.

Dari cerita itulah, sebuah pertanyaan sederhana perlu kita renungkan: perlukah seratus satu alasan untuk mencintai Indonesia, atau sesungguhnya cukup satu alasan saja?

Indonesia sejak awal berdirinya telah meletakkan fondasi kebangsaan yang sangat kuat. Kita memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda namun tetap satu jua. Kita tumbuh dengan lagu “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” yang sederhana tetapi sarat makna. Kita meneguhkan Sila Ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, para pemuda pada tahun 1928 telah bersumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan—Indonesia.

Empat fondasi kebangsaan tersebut sesungguhnya telah lebih dari cukup menjadi satu alasan besar untuk mencintai Indonesia. Bukan karena negeri ini tanpa masalah, bukan pula karena selalu benar dalam setiap langkahnya, melainkan karena Indonesia adalah rumah bersama yang diperjuangkan, disepakati, dan diwariskan dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Memasuki era globalisme dan kesejagatan, generasi muda Indonesia kini hidup di dunia yang nyaris tanpa sekat. Mereka belajar, bekerja, dan berinteraksi lintas negara. Sebagian menjadi diaspora, menetap jauh dari tanah air. Namun, di manapun berada, satu hal yang seharusnya tidak ikut tercerabut adalah rasa cinta kepada Indonesia. Seperti lirik lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki, “Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta,” keterikatan emosional itu melampaui jarak geografis dan batas negara.

Cinta kepada tanah air tidak selalu harus diekspresikan dengan slogan besar. Ia dapat hadir dalam cara kita menjaga nama baik bangsa, bekerja dengan jujur, berprestasi dengan tetap rendah hati, serta berkontribusi sesuai peran masing-masing. Di titik inilah nasionalisme menemukan bentuknya yang paling relevan di abad ke-21.

Seorang tokoh Amerika, Stephen Decatur, pernah melontarkan ungkapan terkenal, “Right or wrong is my country.” Ungkapan ini kerap disalahpahami sebagai pembenaran buta. Padahal, maknanya justru lebih dalam: sebuah loyalitas yang lahir dari rasa memiliki, sekaligus dorongan untuk terus memperbaiki. Mencintai negara bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, tetapi juga tidak kehilangan komitmen untuk tetap peduli dan berbuat.

Tahun 2025 menghadirkan beragam dinamika bagi bangsa Indonesia. Ada capaian yang patut disyukuri, ada pula pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Kritik, perbedaan pendapat, bahkan kegelisahan sosial adalah bagian dari proses berbangsa. Namun, di tengah semua itu, jangan sampai kita kehilangan satu hal yang paling mendasar: cinta kepada Indonesia sebagai rumah bersama.

Menatap Indonesia 2026, yang dibutuhkan bukanlah optimisme kosong atau pesimisme berlebihan, melainkan semangat perbaikan berkelanjutan. Perbaikan yang lahir dari kesadaran bahwa bangsa ini besar bukan karena bebas masalah, tetapi karena warganya terus mau belajar, berbenah, dan menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Pada titik inilah pemikiran Benedict Anderson tentang bangsa sebagai imagined community menjadi relevan. Nasionalisme adalah ikatan batin dalam sebuah “komunitas terbayang”, di mana jutaan orang yang tidak saling mengenal merasa terhubung oleh identitas, bahasa, sejarah, dan nasib yang sama. Indonesia ada karena kita membayangkannya bersama, merawatnya bersama, dan merasa memiliki masa depannya bersama.

Maka, pertanyaan penting bagi kita semua bukanlah seberapa banyak alasan untuk mencintai Indonesia, melainkan: sudahkah kita menemukan satu alasan utama yang membuat kita tetap setia dan peduli? Dan lebih jauh lagi, satu langkah kecil apa yang siap kita lakukan, dari peran masing-masing, untuk ikut mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik?

Penulis*)
Thonang Effendi

– Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

– Waka PINSAKONAS Pramuka SPN.

 

One thought on “Cukup Satu Alasan Mencintai Indonesia : oleh Thonang Efendi”
  1. Rasa peduli mendalam yg harus tertanam dlm hati kita untuk selalu bersyukur atas pemberian allah swt sehingga kita bisa mempertahankan NKRI sebagai rumah yg damai sejahtera dan maju mengikuti perkembangan zaman.matur suwun ajzkh pak Thonang 🤝🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *