Konflik Israel–Amerika dan Iran: Antara Ego Pemimpin dan Nasionalisme Kebangsaan
Konflik Israel–Amerika dan Iran: Antara Ego Pemimpin dan Nasionalisme Kebangsaan Oleh: Thonang Effendi*) Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan…
Konflik Israel–Amerika dan Iran: Antara Ego Pemimpin dan Nasionalisme Kebangsaan Oleh: Thonang Effendi*) Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan…
Dunia Islam, termasuk Indonesia, berada di persimpangan ini. Dalam dunia yang semakin kompleks, kekuatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan melawan, tetapi juga oleh kemampuan memahami, yaitu: memahami realitas, memahami kepentingan, dan yang tidak kalah penting, memahami diri sendiri. Dalam konteks inilah Pancasila dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika menemukan relevansinya sebagai fondasi kerukunan dan arah kebersamaan, bahkan dalam menghadapi isu-isu global yang sarat ketegangan.
Ops Ketupat 2026 Berakhir, Polda Jambi: Situasi Kamtibmas Tetap Kondusif di Tengah Peningkatan Aktivitas Masyarakat
Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Waste to Energy, Sampah Jadi Energi di Kota-Kota Besar
Jika Pancasila dihidupkan sebagai sumber peradaban, maka ia tidak berhenti pada retorika atau seremoni, tetapi menjadi energi pengikat dalam menghadapi krisis. Ia dapat meredam fragmentasi, memperkuat kohesi sosial, dan memberi legitimasi moral pada negara dalam situasi tekanan. Tanpa internalisasi yang mendalam, Indonesia berisiko memiliki negara yang kuat secara administratif tetapi rapuh secara peradaban.
Negara, dalam hal ini, harus tetap berdiri sebagai penjamin keadilan dan keseimbangan. Ia tidak boleh terseret dalam kepentingan kelompok, tetapi harus memastikan bahwa semua warga memiliki tempat yang sama dalam kehidupan kebangsaan. Sementara itu, masyarakat juga memikul tanggung jawab yang tidak kalah besar, yaitu menjaga etika, menghormati perbedaan, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan sempit.
Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi juga kembali kepada hati yang lapang—hati yang mampu menerima, memaafkan, dan menyambung kembali yang sempat terputus.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarga besar, jajaran Menteri dan Wakil Menteri Kabinet Merah Putih, para pimpinan lembaga negara, dan Duta Besar negara sahabat.
Kegiatan silaturahmi ini diharapkan dapat semakin memperkuat kolaborasi antara LDII dan pemerintah daerah, serta memberikan kontribusi positif bagi terciptanya kehidupan masyarakat Jambi yang harmonis, religius, dan penuh kebersamaan
Kegiatan Shalat Idul Fitri ini berlangsung lancar, aman, dan penuh kekhusyukan, menjadi simbol kebersamaan serta semangat persatuan umat Islam di Kota Jambi dalam merayakan hari kemenangan.
Pada kesempatan terpisah, Wapres menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam di tanah air. Ia berharap momentum ini menjadi saat yang tepat untuk mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Jambi.Beritakota – Wakapolda Jambi Brigjen Pol. B. Ali, menghadiri kegiatan Rukyatul Hilal Awal Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dilaksanakan oleh…