Artikel Dr.Ir.Narmodo Akademisi Pengamat Kebijakan Publik
Belanda Menjajah karena Kuat atau karena Bangsa Kita Terpecah? Oleh : Dr. Ir. Narmodo, M. Ag, Akademisi dan Pengamat Kebijakan…
Belanda Menjajah karena Kuat atau karena Bangsa Kita Terpecah? Oleh : Dr. Ir. Narmodo, M. Ag, Akademisi dan Pengamat Kebijakan…
SERDANG BEDAGAI 01/08– Apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Novrizal Ali Nasution (45), Ketua Gapoktan Sumber Makmur Milenial Desa…
Menjaga Bumi, Merawat Toleransi: Menyemaikan Nilai Khonghucu dari Dapur hingga Meja Makan. Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E.,…
Kajian mengenai K.H. Sholeh Darat menunjukkan bahwa kesadaran kebangsaan tidak hanya tumbuh melalui organisasi politik atau pendidikan kolonial, tetapi juga melalui pendidikan pesantren, tradisi literasi, jaringan ulama, dan pembentukan akhlak. Dalam perspektif ini, beliau merepresentasikan Islamic Intellectual Nationalism, yaitu nasionalisme yang disemai melalui ilmu pengetahuan dan pendidikan jauh sebelum memperoleh artikulasi politik pada awal abad ke-20.
Hari Lansia Sedunia adalah saat yang hangat bagi kita semua untuk kembali memeluk, mendengarkan, dan memberikan waktu terbaik bagi para kakek dan nenek tercinta. Merawat dan memuliakan mereka bukanlah sebuah beban, melainkan kesempatan indah untuk menyempurnakan rasa syukur kita atas kehidupan
Islam adalah solusi apabila kehadirannya menghadirkan keadilan, rasa aman, kesejahteraan, kemajuan, dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama, suku, ras, dan golongan
Arttikel : Darurat Moral Bangsa dan Peran Strategis Muhammadiyah oleh Dr.Narmodo
Menjalankan moderasi beragama menuntut kedewasaan spiritual dan kerendahan hati yang mendalam. Kadang kala, demi mewujudkan dunia yang damai dan harmonis (Datong), kita dituntut untuk memiliki kebesaran jiwa: kerelaan untuk saling memahami, kemauan untuk menurunkan ego kelompok, dan kesadaran untuk mendahulukan maslahat bersama di atas kepentingan pribadi.
Bagi Muhammadiyah, sejarah Dinasti Umayyah hendaknya menjadi pengingat bahwa usia panjang organisasi bukanlah jaminan keberlangsungan. Yang menentukan adalah kemampuan menjaga ruh perjuangan, memperkuat kaderisasi, menegakkan keadilan, merawat persatuan, serta terus melakukan tajdid sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Melalui sinergi lintas sektor—antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat—seluruh elemen pembangunan ini merajut sebuah narasi baru. Jakarta kini bukan lagi sekadar pusat ekonomi atau administratif; ia sedang memposisikan diri sebagai teladan peradaban urban yang tangguh, inklusif, dan regeneratif. Dengan segala dinamika yang ada, Jakarta membuktikan dirinya sebagai arena peradaban yang mampu belajar dari masa lalu untuk menata ulang masa depan megapolis yang lebih berkelanjutan.
Sebagaimana Rasulullah meninggalkan Makkah untuk menyelamatkan masa depan umat manusia, maka hari ini kita pun harus berani meninggalkan: ego menuju kebijaksanaan, kemalasan menuju produktivitas, perpecahan menuju persaudaraan, dan keputusasaan menuju harapan.
Dan dalam negara demokrasi yang sehat, kritik mahasiswa serta evaluasi pemerintah seharusnya tidak saling meniadakan. Keduanya justru harus bertemu dalam satu tujuan yang sama: memastikan bahwa setiap rupiah uang rakyat benar-benar kembali untuk kemaslahatan rakyat.