Artikel :

1 Muharam: Ketika Hijrah Mengubah Arah Peradaban Dunia

Oleh :

*Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag*

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat, Akademisi, dan Pengamat Kebijakan Publik “Peradaban besar tidak pernah lahir dari manusia-manusia yang nyaman. Ia lahir dari mereka yang terusir, terluka, difitnah, lalu memilih bangkit dan mengubah sejarah. Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan kota, tetapi momentum ketika dunia mulai bergerak dari kegelapan menuju peradaban. Maka pertanyaannya hari ini: sudahkah kita benar-benar berhijrah, atau hanya sekadar mengganti kalender tanpa mengubah diri?”

 

Dunia Tidak Berubah Karena Kenyamanan

Peradaban besar hampir selalu lahir dari tekanan, penderitaan, dan keberanian meninggalkan zona nyaman. Tidak ada sejarah besar yang dibangun oleh manusia-manusia yang hanya sibuk menikmati keadaan.

Karena itulah, kalender Islam tidak dimulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan pula dari kemenangan perang terbesar umat Islam. Kalender Hijriyah justru dimulai dari sebuah peristiwa yang secara kasat mata tampak menyakitkan: hijrah.

Hijrah dari Makkah menuju Madinah bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah titik balik perubahan sejarah dunia. Sebuah momentum ketika nilai, moralitas, dan peradaban mulai dibangun di atas fondasi tauhid, keadilan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan.

Maka sesungguhnya, Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar pergantian angka. Ia adalah panggilan perubahan.

Hijrah: Saat Nabi Kehilangan Hampir Segalanya

Kita sering memperingati hijrah secara seremonial, tetapi lupa memahami betapa beratnya perjuangan Rasulullah saat itu.

Hijrah bukan perjalanan wisata spiritual. Hijrah adalah fase ketika seorang Nabi harus meninggalkan tanah kelahirannya, rumahnya, hartanya, bahkan sebagian pengikutnya demi mempertahankan kebenaran.

Di Makkah, kekuatan ekonomi, politik, dan sosial Quraisy telah bersatu untuk menghentikan Islam. Propaganda dilakukan. Embargo ekonomi diberlakukan. Penyiksaan terhadap umat Islam berlangsung tanpa belas kasihan.

Bahkan menjelang hijrah, para pemuka Quraisy menyusun rencana pembunuhan terhadap Rasulullah. Rumah beliau dikepung. Pedang telah disiapkan.

Namun di titik paling genting itulah, Nabi tidak memilih menyerah. Beliau tidak membalas dengan kebencian membabi buta. Beliau memilih hijrah untuk menyelamatkan masa depan peradaban.

Di sinilah pelajaran besarnya: orang besar bukanlah mereka yang tidak pernah ditekan, tetapi mereka yang mampu mengubah tekanan menjadi jalan kebangkitan.

Dari Gua Tsur Menuju Pusat Peradaban Dunia

Sejarah dunia mencatat sesuatu yang luar biasa. Perjalanan yang dimulai dari persembunyian di Gua Tsur justru melahirkan salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia.

Di Madinah, Rasulullah membangun sesuatu yang melampaui zamannya.

Beliau membangun masyarakat berbasis meritokrasi ketika dunia masih dikuasai aristokrasi kesukuan.

Beliau membangun persaudaraan lintas suku saat dunia hidup dalam fanatisme kesukuan yang brutal.

Beliau membangun sistem ekonomi yang berkeadilan ketika riba dan eksploitasi menjadi norma.

Beliau membangun Piagam Madinah — sebuah kontrak sosial yang diakui banyak ilmuwan modern sebagai salah satu fondasi awal tata masyarakat multikultural.

Hijrah bukan sekadar menyelamatkan umat Islam saat itu, tetapi melahirkan paradigma baru tentang bagaimana manusia hidup bermartabat.

Karena itu, hijrah sesungguhnya adalah transformasi peradaban.

Dunia Modern Sedang Mengalami Krisis Hijrah

Hari ini dunia mengalami kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama mengalami kekeringan moral yang mengkhawatirkan.

Manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi gagal mengendalikan keserakahan alami. Ekonomi tumbuh, tetapi ketimpangan sosial semakin tajam. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Gedung makin tinggi, tetapi empati makin rendah.

Krisis terbesar dunia modern sesungguhnya bukan krisis energi atau pangan, tetapi krisis arah hidup.

Manusia modern bergerak sangat cepat, tetapi banyak yang tidak tahu sedang menuju ke mana.

Dalam konteks inilah pesan hijrah menjadi sangat relevan. Dunia membutuhkan hijrah kolektif:

hijrah dari materialisme menuju spiritualitas,

hijrah dari politik kebencian menuju politik kemanusiaan,

hijrah dari eksploitasi menuju keberlanjutan,

hijrah dari korupsi menuju amanah,

hijrah dari budaya pencitraan menuju budaya keteladanan.

Tanpa hijrah moral, kemajuan teknologi justru dapat menjadi alat penghancur kemanusiaan.

Bangsa Ini Tidak Kekurangan Orang Pintar

Indonesia hari ini sesungguhnya dipenuhi orang-orang cerdas. Kampus bertambah. Gelar akademik meningkat. Teknologi berkembang cepat.

Namun mengapa korupsi masih tumbuh? Mengapa hoaks lebih cepat dipercaya daripada ilmu? Mengapa kebencian lebih mudah viral daripada persatuan? Mengapa sebagian elite lebih sibuk mempertahankan kekuasaan dibanding memperjuangkan keadilan?

Karena ilmu tanpa hijrah akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.

Kita sering ingin perubahan besar, tetapi enggan meninggalkan kebiasaan kecil yang buruk. Kita ingin negeri yang bersih, tetapi masih nyaman dengan ketidakjujuran sehari-hari. Kita ingin pemimpin ideal, tetapi belum selesai memimpin diri sendiri.

Hijrah mengajarkan bahwa perubahan bangsa selalu dimulai dari perubahan karakter manusianya.

Hijrah Adalah Keberanian Memutus Lingkaran Kegelapan

Ada orang yang bertahun-tahun hidup dalam kemarahan. Ada yang terjebak dalam kesombongan jabatan. Ada yang hancur karena ambisi dunia. Ada yang kehilangan makna hidup di tengah limpahan materi.

Maka 1 Muharam seharusnya menjadi momentum keberanian untuk berkata: “Cukup. Saya harus berubah.”

Hijrah adalah keberanian memutus rantai masa lalu. Hijrah adalah keberanian meninggalkan lingkungan yang merusak. Hijrah adalah keberanian memperbaiki diri meski harus dimulai sendirian.

Sebab tidak ada masa depan baru tanpa keberanian meninggalkan keburukan lama.

Peradaban Besar Selalu Dimulai Dari Manusia-Manusia yang Berhijrah

Sejarah membuktikan, semua perubahan besar lahir dari orang-orang yang berani melawan arus.

Hijrah Rasulullah mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu dimulai dari kekuatan besar, tetapi dari keyakinan besar.

Madinah tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari perjuangan, kesabaran, pengorbanan, dan visi jangka panjang.

Maka jangan pernah meremehkan proses perubahan kecil dalam hidup kita. Sebab mungkin dari hijrah pribadi itulah lahir keluarga yang kuat. Dari keluarga kuat lahir masyarakat yang sehat. Dan dari masyarakat sehat lahir bangsa yang bermartabat.

1 Muharam Harus Menjadi Titik Kebangkitan

Sudah terlalu lama sebagian umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriyah sekadar seremoni. Padahal pesan hijrah jauh lebih besar daripada sekadar spanduk, pawai, atau ucapan formalitas.

Hijrah adalah revolusi mental dan spiritual. Hijrah adalah gerakan membangun manusia unggul. Hijrah adalah energi untuk membangkitkan kembali etos ilmu, kerja keras, persatuan, dan keadilan sosial.

Dan mungkin, yang paling penting: Hijrah adalah kesadaran bahwa keberhasilan besar selalu diawali oleh keberanian meninggalkan keburukan.

Sebagaimana Rasulullah meninggalkan Makkah untuk menyelamatkan masa depan umat manusia, maka hari ini kita pun harus berani meninggalkan: ego menuju kebijaksanaan, kemalasan menuju produktivitas, perpecahan menuju persaudaraan, dan keputusasaan menuju harapan.

Karena masa depan tidak dibangun oleh orang yang nyaman dengan keadaan, tetapi oleh mereka yang berani berhijrah menuju perubahan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *