CARA LELUHUR MEMBACA KEHIDUPAN Dari Pengamatan Menjadi Pengetahuan

CARA LELUHUR MEMBACA KEHIDUPAN

Dari Pengamatan Menjadi Pengetahuan

Oleh: Thonang Effendi

 

Ada pengetahuan yang tidak lahir dari ruang kelas, tidak bermula dari laboratorium, dan tidak tersimpan dalam lembaran buku. Pengetahuan itu tumbuh dari kebiasaan memperhatikan kehidupan: langit yang berubah warna, angin yang berganti arah, tanah yang mulai mengering, tumbuhan yang menunjukkan tanda tertentu, atau perilaku hewan yang tidak sama dari hari ke hari.

Bayangkan seorang petani pada masa lalu. Ia tidak memiliki aplikasi prakiraan cuaca, citra satelit, ataupun perangkat pengukur kelembapan tanah. Namun, ia tidak serta-merta bekerja tanpa pertimbangan. Ia mengamati, mengingat, membandingkan, lalu mengambil keputusan. Kapan tanah mulai diolah, kapan benih ditanam, dan kapan pekerjaan tertentu sebaiknya dilakukan, semuanya dipertimbangkan berdasarkan pengalaman yang terkumpul selama bertahun-tahun.

Pengetahuan itu mungkin tidak tersusun dalam tabel statistik. Tidak selalu pula disampaikan melalui uraian ilmiah. Ia hidup dalam ingatan, kebiasaan, petuah orang tua, dan pengalaman yang diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dalam tradisi Jawa, salah satu cara membaca kehidupan semacam itu dikenal melalui istilah titen.

Kata ini mengingatkan kita bahwa mengetahui tidak selalu dimulai dengan teori. Ada kalanya pengetahuan justru berawal dari kesediaan memperhatikan sesuatu yang berulang, mengenali tanda yang khas, dan mengingat apa yang pernah terjadi.

Pertanyaannya, bagaimana pengamatan sederhana dapat berkembang menjadi pengetahuan yang bertahan lintas generasi? Dan apa yang dapat kita pelajari dari cara leluhur membaca kehidupan, ketika manusia modern justru hidup di tengah limpahan informasi?

Dari Melihat Menjadi Niteni

Melihat dan memperhatikan bukanlah hal yang sepenuhnya sama.

Setiap hari manusia melihat banyak hal. Langit mendung, jalanan basah, daun menguning, burung terbang, atau angin bertiup lebih kencang. Namun, tidak semua yang dilihat akan diingat. Lebih sedikit lagi yang diperhatikan secara saksama, dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya, lalu dijadikan bahan untuk mengambil keputusan.

Di sinilah makna niteni menjadi menarik.

Dalam khazanah bahasa Jawa, kata niteni berkaitan dengan kegiatan mengingat dan mengenali sesuatu melalui tanda atau ciri tertentu. Ada proses perhatian di dalamnya. Seseorang tidak sekadar melihat sebuah peristiwa, tetapi berusaha mengenali apa yang membedakannya dari peristiwa lain.

Seorang petani, misalnya, mungkin memperhatikan bahwa perubahan tertentu pada tumbuhan sering muncul menjelang perubahan musim. Seorang nelayan mengingat arah angin, keadaan gelombang, dan tanda-tanda cuaca sebelum melaut. Orang yang tinggal di lereng gunung belajar mengenali perubahan suara aliran air, kondisi tanah, atau tanda lingkungan lain yang dapat berkaitan dengan risiko alam.

Contoh-contoh itu tidak berarti setiap tanda selalu benar atau mempunyai hubungan sebab-akibat yang pasti. Justru yang menarik adalah proses belajar di baliknya. Pengalaman yang semula berdiri sendiri perlahan dibandingkan dengan pengalaman lain. Dari sana, manusia mulai menemukan keteraturan.

Satu kali melihat belum tentu menghasilkan pengetahuan. Satu kali mengalami belum tentu cukup untuk menjadi pedoman. Namun, ketika kejadian serupa diamati berkali-kali, manusia memperoleh kesempatan untuk mengenali pola, menilai kegunaannya, dan memperbaiki pemahamannya.

Dengan demikian, titen bukan sekadar kemampuan mengingat. Ia juga merupakan kesediaan untuk memperhatikan kehidupan secara berulang dan belajar dari apa yang diperhatikan.

Ketika Pengalaman Menemukan Pola

Pengetahuan tradisional sering kali lahir dari pertanyaan yang sederhana: apa yang biasanya terjadi ketika keadaan tertentu muncul?

Pertanyaan itu dekat dengan kehidupan manusia sejak dahulu. Mengapa hasil panen berbeda dari satu musim ke musim lain? Mengapa laut pada waktu tertentu lebih berisiko? Mengapa suatu tanaman tumbuh baik di tempat tertentu, tetapi tidak di tempat lain? Mengapa perubahan lingkungan tertentu diikuti oleh perubahan lain?

Jawaban tidak selalu datang dengan cepat. Kadang-kadang manusia baru menemukan petunjuk setelah mengalami kejadian serupa berkali-kali. Ada percobaan yang berhasil, ada perkiraan yang meleset, dan ada pengalaman yang mengharuskan seseorang mengubah cara berpikirnya.

Proses tersebut dapat kita gambarkan melalui urutan sederhana: observasi, pengenalan pola, pengalaman, kesimpulan, lalu pewarisan pengetahuan.

Mula-mula manusia mengamati. Ia kemudian mengingat dan membandingkan. Dari perbandingan itu muncul dugaan mengenai pola tertentu. Dugaan tersebut digunakan dalam tindakan, lalu hasilnya menjadi pengalaman baru. Jika dinilai berguna, pengetahuan itu dapat disampaikan kepada orang lain.

Pengetahuan pun berkembang melalui lingkaran pembelajaran yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, proses tersebut memiliki arti penting. Pengetahuan tentang alam bukan sekadar bahan percakapan, melainkan bekal untuk bertahan hidup. Kesalahan membaca keadaan dapat membawa kerugian, bahkan membahayakan keselamatan. Karena itu, kemampuan memperhatikan tanda dan belajar dari pengalaman menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh yang dikenal dalam masyarakat Jawa ialah pranata mangsa, yaitu sistem penanggalan musim yang digunakan sebagai pedoman berbagai kegiatan, terutama pertanian. Pengetahuan ini berkaitan dengan pengamatan terhadap tanda-tanda alam, seperti posisi matahari, arah angin, keadaan cuaca, serta perilaku tumbuhan dan hewan.

Buku Pranata Mangsa dalam Tinjauan Sains yang diterbitkan Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tersebut dapat dikaji melalui perspektif ilmiah. Artinya, warisan budaya tidak harus ditempatkan berlawanan dengan ilmu pengetahuan. Ia dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana manusia mengamati lingkungan, menyusun pengetahuan, dan menggunakannya dalam kehidupan.

Di balik sistem semacam itu terdapat perjalanan panjang dari pengalaman menuju pemahaman. Apa yang hari ini tampak seperti aturan atau petuah mungkin berawal dari pengamatan yang dilakukan oleh banyak orang, dalam rentang waktu yang panjang, lalu diwariskan melalui bahasa dan kebiasaan.

Otak yang Belajar dari Keteraturan

Menariknya, proses belajar dari pengulangan pengalaman juga menjadi perhatian dalam psikologi kognitif.

Penelitian mengenai statistical learning membahas kemampuan manusia mempelajari keteraturan atau pola dari informasi yang diterimanya. Sementara itu, implicit learning berkaitan dengan proses belajar ketika seseorang dapat menyerap sebagian pola tanpa sepenuhnya menyadari apa yang sedang dipelajarinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami hal serupa. Seseorang yang telah bertahun-tahun bekerja di suatu bidang kadang mampu merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa, meskipun ia belum segera dapat menjelaskan alasannya. Seorang mekanik berpengalaman dapat mendengar suara mesin dan menduga adanya gangguan. Seorang petani mengenali perubahan keadaan tanaman yang terasa berbeda dari biasanya. Seorang pengemudi berpengalaman dapat membaca situasi jalan dan mengantisipasi risiko.

Kepekaan itu tidak muncul begitu saja. Pengalaman yang berulang memberi kesempatan bagi manusia untuk mengenali perbedaan, mengingat kejadian sebelumnya, dan membangun perkiraan terhadap apa yang mungkin terjadi.

Tentu, contoh-contoh tersebut bukan bukti bahwa titen dan statistical learning merupakan konsep yang sepenuhnya sama. Keduanya tumbuh dalam kerangka yang berbeda. Namun, psikologi kognitif memberi sudut pandang untuk memahami bahwa kemampuan belajar dari keteraturan merupakan bagian penting dari cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya.

Di sini kita menemukan jembatan yang menarik antara kearifan leluhur dan pengetahuan modern. Manusia masa lalu belajar melalui pengalaman yang dikumpulkan sepanjang kehidupan. Manusia modern juga melakukan hal serupa, meskipun kini dapat dibantu oleh pengukuran, pencatatan, statistik, dan teknologi.

Perbedaannya bukan semata-mata pada siapa yang lebih cerdas, melainkan juga pada alat, cara mendokumentasikan pengalaman, dan kemampuan menguji kesimpulan.

Leluhur mengandalkan pengamatan langsung dan ingatan kolektif. Ilmu pengetahuan modern berusaha membuat pengamatan lebih sistematis, hasilnya dapat diperiksa oleh orang lain, dan kesimpulannya terbuka untuk diuji kembali. Keduanya dapat berdialog tanpa harus dipertentangkan.

Pengetahuan yang Diwariskan, Bukan Sekadar Diingat

Pengalaman seseorang belum tentu menjadi pengetahuan bersama. Agar dapat diwariskan, pengalaman perlu disampaikan, dijelaskan, dicontohkan, atau dilekatkan pada kebiasaan masyarakat.

Di sinilah peran bahasa dan kebudayaan menjadi penting.

Petuah orang tua, istilah lokal, penanggalan tradisional, cerita tentang alam, hingga kebiasaan dalam mengolah lahan dapat menjadi sarana penyimpanan pengetahuan. Tidak semua pengetahuan ditulis dalam buku. Sebagiannya hidup dalam ungkapan yang singkat, tetapi menyimpan pengalaman panjang.

Generasi yang lebih muda kemudian menerima pengetahuan itu bukan hanya melalui penjelasan, melainkan juga melalui keterlibatan langsung. Mereka melihat bagaimana orang tua memperhatikan keadaan, mendengar alasan di balik suatu keputusan, mencoba sendiri, lalu belajar dari hasilnya.

Proses ini membuat pengetahuan menjadi bagian dari kehidupan, bukan sekadar informasi yang dihafalkan.

Namun, pewarisan pengetahuan tidak berarti bahwa setiap hal yang diwariskan harus diterima tanpa pertanyaan. Pengalaman satu generasi dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya, tetapi keadaan alam dan masyarakat dapat berubah. Apa yang dahulu cukup akurat belum tentu selalu berlaku dengan cara yang sama pada masa kini.

Perubahan iklim, misalnya, menghadirkan tantangan bagi pembacaan musim yang hanya mengandalkan pola masa lalu. Pengetahuan tradisional tetap dapat memberikan petunjuk, tetapi penerapannya perlu mempertimbangkan perubahan kondisi lingkungan dan informasi ilmiah yang tersedia.

Sikap semacam ini justru menghormati semangat titen. Jika leluhur belajar dengan memperhatikan kenyataan, generasi penerus pun perlu melakukan hal yang sama. Mengulang petuah tanpa memperhatikan perubahan keadaan berisiko mengubah pengetahuan yang hidup menjadi kebiasaan yang kehilangan daya guna.

Warisan terbaik bukan hanya kumpulan kesimpulan yang ditinggalkan leluhur, melainkan juga cara mereka belajar: memperhatikan, mengingat, membandingkan, dan bersedia mengambil pelajaran dari pengalaman.

Menghormati Kearifan, Menguji Kesimpulan

Ada satu hal yang perlu dijaga ketika kita membicarakan ilmu titen: tidak semua pola yang terlihat berulang otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

Dua peristiwa dapat terjadi berdekatan tanpa berarti yang satu menyebabkan yang lain. Sebuah perkiraan mungkin beberapa kali terbukti tepat, tetapi keberhasilan itu belum tentu menjamin ketepatan pada kesempatan berikutnya. Ingatan manusia pun memiliki keterbatasan. Kita cenderung mengingat kejadian yang sesuai dengan dugaan, sementara kejadian yang menyimpang kadang terlupakan.

Karena itu, pengetahuan yang baik tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah ini pernah terjadi?” Ia juga perlu bertanya, “Seberapa sering hal ini terjadi? Dalam keadaan seperti apa? Adakah penjelasan lain? Apakah pola tersebut tetap terlihat ketika keadaan berubah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk merendahkan kearifan leluhur. Sebaliknya, pertanyaan tersebut membantu kita memilah pengalaman yang berguna, dugaan yang masih perlu diperiksa, dan keyakinan yang tidak dapat langsung diperlakukan sebagai pengetahuan empiris.

Kita dapat menghargai tradisi tanpa harus menganggap seluruh isinya sebagai kebenaran mutlak. Kita juga dapat menggunakan ilmu pengetahuan modern tanpa meremehkan pengalaman panjang masyarakat yang hidup dekat dengan alam.

Sikap yang diperlukan adalah keterbukaan yang disertai ketelitian. Pengalaman menjadi bahan belajar; pengamatan menjadi dasar penilaian; dan kesimpulan tetap terbuka untuk diperbaiki ketika ditemukan bukti yang lebih kuat.

Dalam pengertian ini, titen bukanlah mistisisme instan. Ia lebih tepat dipahami sebagai salah satu jalan manusia membangun pengetahuan melalui pengamatan dan pengalaman. Ia tidak menjanjikan bahwa manusia dapat mengetahui seluruh masa depan. Ia membantu manusia membaca tanda, mengenali kemungkinan, dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

Membaca Alfabet Alam Semesta

Bagi manusia beriman, keteraturan alam juga mengundang perenungan yang lebih dalam.

Pergantian siang dan malam, peredaran musim, pertumbuhan tanaman, serta hubungan antara berbagai unsur kehidupan menunjukkan bahwa alam memiliki keteraturan yang dapat diamati. Manusia mempelajari keteraturan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengurangi risiko, dan memahami lingkungan tempatnya berada.

Dalam perspektif keimanan, keteraturan tersebut dapat direnungkan sebagai bagian dari sunnatullah, yakni ketetapan atau hukum Allah dalam kehidupan dan alam semesta. Perenungan ini tidak menggantikan pengamatan empiris. Justru, keyakinan dapat mendorong manusia untuk memperhatikan ciptaan dengan lebih sungguh-sungguh, sementara ilmu membantu manusia memahami apa yang dapat dijelaskan melalui bukti.

Kearifan leluhur mengingatkan kita bahwa pengetahuan sering kali dimulai dari kesediaan untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Alam tidak selalu berbicara melalui peristiwa besar. Kadang-kadang ia memberi petunjuk melalui perubahan kecil yang hanya terlihat oleh orang yang bersedia memperhatikan.

Di zaman sekarang, manusia memiliki perangkat yang jauh lebih canggih untuk membaca kehidupan. Data dapat dihimpun dalam jumlah besar, pola dianalisis dengan komputer, dan perkiraan dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Namun, kecanggihan alat tidak otomatis menjadikan manusia bijaksana. Data tetap memerlukan penafsiran, kesimpulan tetap membutuhkan pengujian, dan keputusan tetap memerlukan pertimbangan.

Barangkali di sinilah relevansi titen bagi manusia modern. Kita tidak perlu kembali hidup seperti leluhur untuk belajar dari cara mereka membaca kehidupan. Kita dapat mengambil semangat pengamatannya, memadukannya dengan pengetahuan yang berkembang, dan tetap rendah hati ketika berhadapan dengan kenyataan yang belum sepenuhnya kita pahami.

Leluhur kita tidak sedang meramal masa depan ketika niteni tanda-tanda alam; mereka sedang membaca alfabet alam semesta yang polanya telah ditulis oleh Sang Pencipta secara berulang.

Tugas kita bukan sekadar menghafal apa yang pernah mereka baca, melainkan meneruskan kesediaan untuk mengamati, belajar, dan menguji pemahaman. Sebab, kehidupan selalu bergerak, dan pengetahuan yang bermanfaat adalah pengetahuan yang terus bersedia belajar dari kenyataan.

Dari agomo sebagai sumber nilai, kita kini memasuki titen sebagai cara membaca kehidupan. Nilai memberi arah; pengamatan membantu kita memahami keadaan. Keduanya diperlukan agar manusia tidak hanya memiliki keyakinan tentang bagaimana kehidupan seharusnya dijalani, tetapi juga kecermatan dalam membaca kenyataan yang dihadapinya.

Dan mungkin, perjalanan menuju kebijaksanaan memang bermula dari hal yang sederhana: mau memperhatikan, tidak lekas menyimpulkan, dan bersedia belajar kembali.

 

Biografi Singkat Penulis

Thonang Effendi
Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *