Refleksi Lebaran: Merajut Silaturahim dan Saling Memaafkan

Oleh: Thonang Effendi*)

Lebaran selalu datang dengan cara yang sama, tetapi rasa yang dibawanya tak pernah benar-benar serupa. Di antara koper mudik yang penuh, pesan-pesan singkat yang berseliweran, dan antrean panjang di jalan, ada satu hal yang diam-diam dirindukan: kesempatan untuk kembali merajut yang sempat renggang.

Suasana Lebaran sejatinya telah terasa bahkan sejak awal Ramadan. Sidang isbat baru saja menetapkan awal puasa, tetapi percakapan tentang hari raya sudah memenuhi ruang-ruang keluarga. Rencana mulai disusun: ke mana akan pulang, siapa saja yang akan dikunjungi, pakaian apa yang akan dikenakan, hingga daftar bingkisan yang akan dibagikan. Puasa baru berjalan sehari, tetapi bayang-bayang kebersamaan di hari kemenangan sudah terasa begitu dekat.

Bagi para pekerja, baik aparatur sipil negara maupun karyawan swasta, Tunjangan Hari Raya menjadi bagian dari perencanaan kebahagiaan itu. Sementara para pengusaha telah jauh hari menyiapkan kewajiban bagi karyawan dan relasi usaha. Di sisi lain, para pedagang dan pekerja mandiri pun memiliki cara sendiri—menabung sedikit demi sedikit agar dapat merayakan Lebaran dengan layak. Ada denyut ekonomi yang bergerak, tetapi lebih dari itu, ada harapan yang disemai bersama.

Pada titik tertentu, Lebaran telah melampaui batas ritual keagamaan. Ia menjelma menjadi ruang kebudayaan bersama bangsa Indonesia. Negara menghadirkan cuti bersama, perusahaan menyesuaikan ritme kerja, dan masyarakat dari berbagai latar belakang turut menyambutnya. Tradisi mudik, halal bihalal, hingga open house pejabat publik memperlihatkan bahwa Lebaran bukan hanya milik umat Muslim, tetapi telah menjadi milik bersama sebagai bangsa.

Ucapan selamat pun mengalir tanpa sekat. Dari sahabat, kolega, hingga tetangga yang berbeda keyakinan. Semua larut dalam suasana hangat silaturahim. Dalam momen seperti ini, sekat-sekat sosial seakan mencair, digantikan oleh kesadaran bahwa kita adalah bagian dari satu nusa, satu bangsa, Indonesia.

Namun, di balik kemeriahan itu, Lebaran menyimpan makna yang lebih dalam: keberanian untuk saling memaafkan. Dalam dinamika kehidupan, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan luka batin kerap tak terhindarkan. Ada hubungan yang perlahan menjauh hanya karena kata yang tak sempat diluruskan. Ada pula diam yang terlalu panjang hingga membentuk jarak yang tak kasatmata.

Tidak semua orang mudah meminta maaf, sebagaimana tidak semua orang mudah memberi maaf. Ego, gengsi, dan luka yang belum pulih sering kali menjadi penghalang. Namun Lebaran menghadirkan energi yang berbeda. Ada dorongan yang menguatkan untuk menundukkan hati, mengakui kesalahan, dan membuka ruang keikhlasan. Di saat yang sama, ada kelapangan untuk menerima, memaafkan, dan merelakan.

Dalam perspektif yang lebih luas, nilai ini selaras dengan hakikat penciptaan manusia yang beragam. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan agama bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan ruang untuk saling mengenal dan bekerja sama. Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman itu—yang dirajut oleh semangat persatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Di sinilah Lebaran menemukan relevansi kebangsaannya. Ia bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum sosial yang memperkuat ukhuwah basyariyah dan ukhuwah wathaniyah—persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaan. Tradisi mudik, kunjung-mengunjungi, dan saling memaafkan melintasi batas-batas identitas, menghadirkan harmoni yang memperkuat sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Silaturahim pun sejatinya dimulai dari lingkaran terdekat: keluarga inti, kerabat, hingga sahabat yang lama tak bersua. Dalam setiap jabat tangan, pelukan, dan percakapan hangat, tersimpan energi yang mempererat ikatan emosional dan sosial. Bahkan sebagaimana dipahami bersama, silaturahim diyakini membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur.

Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi juga kembali kepada hati yang lapang—hati yang mampu menerima, memaafkan, dan menyambung kembali yang sempat terputus.

Sudahkah kita berkunjung, atau setidaknya menyapa, mereka yang pernah dekat dalam hidup kita?

Penulis*)

Thonang Effendi

Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Trainer dan Praktisi Learning & People Development. Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan.

 

One thought on “Refleksi Lebaran: Merajut Silaturahim dan Saling Memaafkan Oleh: Thonang Effendi*)”
  1. Alhamdulillah Momentum idul fitri menjadi jln pembuka pintu maaf yg luas luasnya semua bisa terwujud dengan mengedepankan rasa rendah hati dan tawadhu sehingga tidak ada rasa gengsi di dlm memulai kalimat mohon maaf yg keluar dari lubuk hati yang paling dalam
    Terima kasih banyak ajzkh atas pencerahan nya pak Thonang semoga bermanfaat dan barokah untuk kita semua aamiin yra 🤝🤝🤝🙏🏻🙏🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *