Pilah Sampah dari Rumah

Oleh: Thonang Effendi*)

 

Tanggal 21 Februari 2026, bangsa ini kembali memperingati Hari Peduli Sampah Nasional. Momentum ini hadir di tengah situasi yang tidak ringan. Data tahun 2025 menunjukkan Indonesia menghasilkan lebih dari 70 juta ton sampah per tahun, dan jumlah itu diproyeksikan dapat mencapai 82 juta ton pada 2045 jika tidak ada perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan pengelolaannya. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan peringatan keras bahwa persoalan sampah telah memasuki fase darurat. Tidak mengherankan jika Presiden Prabowo Subianto menyerukan “perang melawan sampah” sebagai agenda nasional yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan.

Namun di balik besarnya persoalan itu, solusi sesungguhnya bisa dimulai dari ruang paling sederhana: rumah.

Pagi hari selepas subuh, kabut tipis masih menyelimuti udara dingin di sebuah rumah sederhana di timur Ibu Kota. Seorang ibu menyerahkan kantong sampah kepada putranya. “Kak, sebelum dibuang dipilah dulu ya,” pesannya lembut. Sang anak mengangguk, lalu memisahkan botol plastik, kertas, dan sisa makanan ke tempat yang berbeda. Botol plastik dimasukkan ke keranjang khusus, kertas ke wadah tersendiri, dan sisa makanan ke tong sampah organik. Kebiasaan ini dilakukan setiap hari secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga. Sederhana, namun penuh makna.

Peristiwa kecil itu menggambarkan bagaimana pengelolaan sampah dapat dimulai sejak awal dari lingkungan keluarga. Setiap keluarga memiliki dinamika dan cara hidup masing-masing, tetapi satu hal yang pasti: sampah selalu hadir dalam setiap aktivitas kehidupan. Sampah bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan manusia, melainkan konsekuensi dari aktivitas sehari-hari. Karena itu, sampah tidak cukup hanya dibuang, tetapi harus dikelola.

Pengelolaan sampah dari rumah dapat dilakukan dengan prinsip 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle. Sampah dipilah sejak awal menjadi kategori organik dan non-organik. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik seperti plastik dan kertas dapat dikumpulkan untuk didaur ulang. Barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipisahkan dan disalurkan kembali melalui jalur yang tepat. Dari kebiasaan memilah, kita belajar bahwa sampah bukan semata limbah, tetapi juga bisa menjadi sumber manfaat jika dikelola dengan bijak.

Langkah berikutnya adalah memperluas praktik baik ini ke tingkat lingkungan. Dari rumah ke RT dan RW, program Bank Sampah dapat menjadi solusi kolektif. Warga bekerja sama mengumpulkan barang bekas yang masih bernilai, kemudian bermitra dengan pengepul barang bekas. Pola ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bersama bahwa pengelolaan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif.

Tentu saja, semua ini membutuhkan keteladanan dan konsistensi. Memilah sampah setiap hari bukan pekerjaan yang spektakuler, tetapi justru di situlah karakter dibentuk. Nilai peduli terhadap lingkungan, kedisiplinan, ketekunan, serta semangat rukun, kompak, dan kerja sama yang baik tumbuh dari kebiasaan sederhana tersebut. Ketika seluruh anggota keluarga terlibat, anak-anak belajar bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar perintah, melainkan bagian dari tanggung jawab moral.

Lebih jauh, kebiasaan memilah sampah secara konsisten merupakan media pendidikan karakter yang konkret dan aplikatif. Dari aktivitas sederhana itu, generasi muda dilatih bertanggung jawab atas dampak tindakannya, berpikir jangka panjang, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Pembiasaan inilah yang menjadi fondasi penting dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045—generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan peduli terhadap masa depan bangsanya.

Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa aktivitas konsumsi masyarakat terus meningkat. Gaya hidup instan, penggunaan kemasan sekali pakai, dan budaya serba cepat memperbesar volume sampah secara signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat berubah menjadi sumber persoalan serius: lingkungan tercemar, saluran air tersumbat, banjir, hingga gangguan kesehatan. Sampah yang diabaikan hari ini berpotensi menjadi beban bagi generasi mendatang.

Karena itu, langkah besar harus dimulai dari aksi nyata yang kecil. Ada ungkapan, think global, act local. Memikirkan persoalan secara luas, tetapi bertindak dari lingkungan terdekat. Keluarga, RT, dan RW adalah titik awal perubahan. Kuncinya bukan pada seberapa besar programnya, melainkan pada konsistensi dan keberlanjutannya dalam jangka panjang.

Bayangkan jika seluruh keluarga di republik ini memilah sampah sejak dari rumah. Volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir akan berkurang secara signifikan. Sampah yang semula dianggap masalah perlahan berubah menjadi sumber kreativitas, inovasi, bahkan peningkatan ekonomi masyarakat.

Namun lebih dari itu, gerakan memilah sampah sejatinya adalah wujud nyata budaya gotong royong yang menjadi jati diri bangsa. Persoalan sampah bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika setiap rumah mengambil peran, ketika setiap warga merasa memiliki kepedulian yang sama, maka semangat kolektif itulah yang akan menguatkan “perang melawan sampah”. Gotong royong dalam mengelola sampah bukan sekadar kerja bakti, tetapi kesadaran bersama untuk menjaga bumi sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Cita-cita Indonesia dalam pengelolaan sampah sejatinya selaras dengan visi Indonesia Emas 2045: lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pertanyaannya, apa kontribusi yang sudah kita dan keluarga kita lakukan mulai hari ini? Sudahkah sampah kita pilah dari rumah?

Indonesia yang bersih bukanlah mimpi, jika setiap rumah mengambil peran.

*) Penulis:

Thonang Effendi

Ketua Deaprtemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan

 

One thought on “Pilah Sampah dari Rumah Oleh: Thonang Effendi”
  1. Alhamdulillah kami sudah memulai dan mengawali program zero waste sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan luas semoga dengan program zero waste bangsa Indonesia terbebas dari bencana sampah aamiin yra ajzkh pak Thonang atas pencerahan nya semoga bermanfaat dan barokah untuk kita semua aamiin yra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *