Osik–Gumregah: Bangkit, Bertindak, dan Menjaga Ketangguhan Diri

Osik–Gumregah: Bangkit, Bertindak, dan Menjaga Ketangguhan Diri

Oleh: Thonang Effendi

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, manusia membutuhkan ketangguhan psikologis untuk menghadapi tekanan, keberanian untuk memulai kembali, dan lingkungan organisasi yang mendukung proses bertumbuh.

Ada situasi yang mungkin pernah dialami banyak orang di tempat kerja: menyadari bahwa keadaan sedang berubah, tetapi belum tahu harus mulai dari mana. Teknologi berkembang semakin cepat. Kecerdasan buatan mulai digunakan dalam berbagai proses pekerjaan. Cara kerja yang dahulu dianggap efektif perlahan perlu disesuaikan. Kompetensi yang selama bertahun-tahun menjadi andalan pun mungkin tidak lagi sepenuhnya menjawab kebutuhan.

Kesadaran tentang perubahan sebenarnya sudah tumbuh. Informasi mudah diperoleh, berbagai pelatihan tersedia, dan peluang mempelajari keterampilan baru semakin terbuka. Namun, mengetahui bahwa perubahan sedang terjadi tidak selalu membuat seseorang siap menghadapinya.

Ada yang khawatir tertinggal, takut tidak mampu mengikuti perkembangan, atau terlalu lama memikirkan kemungkinan buruk hingga kesulitan mengambil langkah pertama. Dalam pembahasan psikologi dan pengambilan keputusan, keadaan ketika seseorang terlalu lama menganalisis hingga tertahan untuk bertindak dikenal dengan istilah analysis paralysis.

Situasi ini memperlihatkan bahwa tantangan pengembangan sumber daya manusia bukan hanya persoalan pengetahuan dan keterampilan. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni kesiapan mental menghadapi ketidakpastian, kemampuan mengelola tekanan, dan keberanian untuk terus belajar meskipun tidak selalu berhasil pada percobaan pertama.

Dalam pembacaan atas kearifan Jawa, Osik–Gumregah dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami proses tersebut. Dalam tulisan ini, keduanya merupakan interpretasi reflektif atas kearifan lokal, bukan istilah teknis atau rumusan baku dalam psikologi. Osik dimaknai sebagai kesadaran batin yang mulai menggerakkan seseorang, sedangkan Gumregah menggambarkan kebangkitan untuk mengambil tindakan nyata. Keduanya menjadi gambaran perjalanan manusia dari kesadaran menuju tindakan.

Perubahan tidak cukup hanya disadari dan dipahami. Perubahan membutuhkan manusia yang mampu bangkit, mengambil tindakan, dan menjaga ketangguhan dalam menjalani prosesnya.

Osik: Keberanian Mengakui Kenyataan

Osik dapat dimaknai sebagai gerak batin atau dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang mulai memperhatikan keadaan. Bukan sekadar mengetahui bahwa sesuatu sedang terjadi, melainkan menyadari bahwa keadaan tersebut memiliki arti dan menuntut respons.

Dalam konteks pengembangan diri, Osik dapat dimulai dari keberanian mengajukan pertanyaan: apakah cara kerja yang selama ini digunakan masih relevan? Apakah kompetensi yang dimiliki sesuai dengan tuntutan pekerjaan? Adakah kebiasaan yang perlu diperbaiki? Ataukah selama ini seseorang lebih banyak mempertahankan kenyamanan daripada mempersiapkan diri menghadapi perubahan?

Pertanyaan tersebut tidak selalu mudah dijawab. Seseorang mungkin perlu mengakui bahwa dirinya belum menguasai keterampilan tertentu. Pengalaman panjang pun tidak dengan sendirinya menjamin kemampuan menghadapi keadaan baru. Bahkan, pengalaman dapat membuat seseorang terlalu nyaman dengan pola lama.

Di sinilah Osik menjadi penting. Ia mengajak manusia melihat keadaan secara jujur dan mengenali jarak antara kemampuan yang dimiliki dengan tuntutan yang berkembang.

Kesadaran semacam ini berkaitan dengan self-awareness, yakni kemampuan mengenali kondisi, kekuatan, keterbatasan, serta respons diri sendiri. Dalam praktik pengembangan manusia, kesadaran tersebut dapat dibangun melalui refleksi, dialog pengembangan, coaching, dan umpan balik konstruktif. Melalui pertanyaan yang tepat, seseorang didorong memahami situasinya, melihat persoalan dari sudut pandang lebih luas, dan mengenali potensi yang dapat dikembangkan.

Namun, Osik tidak boleh berhenti sebagai kesadaran. Seseorang dapat memahami kekurangannya, mengetahui apa yang perlu diperbaiki, bahkan memiliki banyak rencana. Tanpa langkah berikutnya, kesadaran itu hanya menjadi wacana dalam pikiran. Osik perlu menemukan kelanjutannya dalam Gumregah.

Gumregah: Mengubah Kesadaran Menjadi Tindakan

Gumregah menggambarkan keadaan ketika seseorang bangkit, menggerakkan diri, dan mulai melakukan sesuatu. Ada energi untuk keluar dari kebuntuan, meninggalkan sikap pasif, serta mengambil langkah meskipun belum seluruh persoalan memiliki jawaban pasti.

Dalam kehidupan kerja, Gumregah tidak selalu dimulai dengan perubahan besar. Tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten justru sering menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas.

Seorang staf administrasi, misalnya, mulai menyadari bahwa sebagian proses pekerjaannya dapat berubah karena penggunaan aplikasi digital dan kecerdasan buatan. Ia khawatir karena belum memahami teknologi tersebut. Jika berhenti pada kekhawatiran, ia mungkin terus membayangkan risiko tanpa memperoleh pengalaman baru.

Namun, ketika kesadaran itu diterjemahkan menjadi tindakan, situasinya mulai berbeda. Ia dapat mempelajari satu aplikasi yang relevan dengan pekerjaannya, mengikuti pelatihan singkat, mencoba menggunakannya untuk tugas sederhana, atau meminta pendampingan rekan kerja yang lebih menguasai teknologi.

Langkah tersebut mungkin tampak kecil. Namun, di dalamnya terdapat perubahan penting: dari merasa terancam menjadi berusaha memahami; dari menunggu keadaan berubah menjadi mengambil bagian dalam perubahan.

Dalam pengembangan SDM, pendekatan seperti ini dapat dilakukan melalui pembelajaran singkat (micro-learning) dan praktik langsung (learning by doing). Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung dalam program pelatihan panjang. Ia dapat hadir melalui praktik pekerjaan, percobaan pendekatan baru, diskusi dengan rekan, dan evaluasi hasil.

Tindakan kecil memberi kesempatan bagi seseorang membangun kepercayaan diri secara bertahap. Ia tidak dituntut langsung menguasai seluruh teknologi atau kompetensi baru. Yang lebih penting adalah kemauan memulai, kesediaan belajar, dan keberanian memperbaiki kesalahan.

Osik tanpa Gumregah berisiko berhenti sebagai kesadaran. Sebaliknya, Gumregah tanpa Osik berisiko menjadi tindakan yang tidak terarah. Keduanya perlu berjalan bersama: kesadaran memberikan arah, sedangkan tindakan membawa perubahan menjadi kenyataan.

Resiliensi: Bukan Tidak Pernah Jatuh, tetapi Mampu Bangkit

Perjalanan dari kesadaran menuju tindakan tidak selalu berjalan mulus. Seseorang mungkin telah mengikuti pelatihan, mencoba teknologi baru, atau menerapkan cara kerja berbeda, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Ada kesalahan, penolakan, kegagalan, bahkan kekecewaan.

Pada titik inilah ketangguhan psikologis atau psychological resilience menjadi penting.

Resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan menghadapi tekanan, menyesuaikan diri terhadap kesulitan, memulihkan diri, belajar dari pengalaman, dan kembali melanjutkan langkah. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak pernah merasa takut, sedih, kecewa, atau lelah. Bukan pula kemampuan untuk selalu terlihat kuat dalam setiap keadaan.

Manusia tetap memiliki keterbatasan. Ada saat ketika seseorang membutuhkan waktu untuk memulihkan diri, berdiskusi, atau meminta bantuan. Kemampuan mengenali batas diri dan mencari dukungan justru merupakan bagian dari respons yang sehat dalam menghadapi tekanan.

Karena itu, resiliensi tidak tepat dimaknai sebagai tuntutan agar seseorang terus bekerja tanpa mengenal batas. Ketangguhan bukan berarti mengabaikan kebutuhan beristirahat, kesejahteraan, atau memendam persoalan sendirian.

Resiliensi lebih tepat dipahami sebagai kemampuan untuk tetap memiliki daya lenting ketika menghadapi perubahan. Ketika rencana tidak berjalan, seseorang mampu mengevaluasi dan memperbaiki. Ketika keterampilan belum memadai, ia bersedia belajar. Ketika menghadapi tekanan, ia mampu mengelola respons dan mencari dukungan yang diperlukan.

Dalam konteks perubahan teknologi, kemampuan ini semakin relevan. Perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi bukan hanya menuntut pengetahuan teknis, tetapi juga kesiapan menghadapi ketidakpastian. Seseorang perlu belajar melepaskan sebagian cara lama, menerima bahwa dirinya belum mengetahui semuanya, dan membangun kompetensi baru secara berkelanjutan.

Resiliensi dengan demikian bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan juga kemampuan bertumbuh melalui pengalaman.

People Development: Mengembangkan Manusia, Bukan Sekadar Memberikan Pelatihan

Jika Osik merupakan kesadaran dan Gumregah merupakan tindakan, People Development memiliki peran mendampingi keduanya tumbuh dalam lingkungan kerja.

Pengembangan manusia tidak cukup dilakukan dengan menyediakan pelatihan, kemudian menganggap persoalan kompetensi selesai setelah peserta meninggalkan ruang kelas. Perubahan perilaku membutuhkan proses lebih panjang. Seseorang perlu memperoleh kesempatan mempraktikkan pengetahuan, menerima umpan balik, memperbaiki cara kerja, dan mengembangkan kebiasaan baru.

Dalam praktiknya, People Development mencakup berbagai ranah yang saling berkaitan. Pengembangan motivasi dan perilaku membantu individu mengenali dorongan serta kebiasaan yang memengaruhi kinerjanya. Pelatihan efektivitas pribadi membantu seseorang mengelola waktu, prioritas, energi, dan tanggung jawab. Sementara itu, pengelolaan stres (stress management) dan kesadaran penuh (mindfulness) dapat memperkuat kemampuan mengenali tekanan, mengelola respons, serta menjaga kualitas kehadiran dalam pekerjaan.

Program seperti Positive Mental Attitude, Self-Motivation, dan Personal Effectiveness berkontribusi membangun sikap dan efektivitas diri. Adapun Stress Management dan Mindfulness dapat membantu individu mengelola tekanan serta menjaga keseimbangan dalam menjalankan tanggung jawab.

Ranah berikutnya berkaitan dengan kemampuan berinteraksi dan mengelola orang lain. Coaching, counseling, dan mentoring dapat membantu individu menghadapi persoalan pekerjaan, menemukan alternatif pemecahan masalah, serta merumuskan langkah pengembangan yang lebih terarah. Bagi pemimpin, kemampuan tersebut penting agar pengembangan tidak berhenti pada instruksi dan pengawasan, tetapi juga mencakup pendampingan serta pemberdayaan anggota tim.

Demikian pula pengelolaan kinerja karyawan (Managing Staff Performance). Pengelolaan kinerja tidak semata-mata berbicara tentang pencapaian target. Di dalamnya terdapat proses menetapkan harapan, memberikan arahan, memantau perkembangan, menyampaikan umpan balik, dan membantu karyawan meningkatkan kemampuannya.

Jika dihubungkan dengan Osik–Gumregah, berbagai ranah tersebut saling berkaitan. Pengembangan motivasi, refleksi, dan kesadaran diri membantu menumbuhkan Osik. Penguatan efektivitas pribadi, pembelajaran keterampilan, coaching, dan mentoring dapat mendorong Gumregah. Sementara itu, pengelolaan stres dan mindfulness turut berperan menjaga ketangguhan psikologis.

Namun, program pelatihan tidak boleh berdiri sendiri. Keberhasilannya perlu dilihat dari perubahan setelah pembelajaran berlangsung: apakah pengetahuan mulai diterapkan, perilaku kerja membaik, dan individu lebih mampu mengelola tantangan?

Karena itu, siklus pengembangan perlu mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Evaluasi tidak cukup berhenti pada kesan peserta setelah mengikuti pelatihan. Perlu diperhatikan pula penerapan hasil belajar dalam pekerjaan dan perubahan perilaku pada periode berikutnya.

Dengan pendekatan tersebut, People Development bukan hanya penyelenggara pelatihan, melainkan bagian dari strategi organisasi untuk membangun manusia yang memiliki kesadaran berkembang, keberanian bertindak, dan ketangguhan menghadapi perubahan.

Organisasi yang Bertumbuh, Manusia yang Diberdayakan

Meskipun resiliensi sering dibicarakan sebagai kemampuan individu, ketangguhan manusia tidak tumbuh dalam ruang hampa. Lingkungan organisasi turut menentukan apakah seseorang memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan berkembang.

Karena itu, organisasi tidak cukup hanya meminta karyawan lebih tangguh menghadapi perubahan. Organisasi juga perlu membangun kondisi yang memungkinkan ketangguhan tersebut tumbuh.

Kepemimpinan menjadi salah satu faktor penting. Pemimpin yang menjelaskan arah perubahan secara terbuka membantu mengurangi ketidakpastian. Komunikasi yang jelas membuat karyawan memahami mengapa perubahan diperlukan, apa dampaknya terhadap pekerjaan, dan kompetensi apa yang perlu dipersiapkan.

Organisasi juga perlu menyediakan akses pembelajaran yang relevan, ruang untuk mencoba pendekatan baru, serta pendampingan ketika karyawan menghadapi kesulitan. Kesalahan dalam proses belajar tidak selalu perlu dipandang sebagai kegagalan. Sepanjang dilakukan secara bertanggung jawab dan dievaluasi, kesalahan dapat menjadi sumber pembelajaran.

Perhatian terhadap kesejahteraan karyawan (employee well-being) tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun resiliensi. Beban kerja yang tidak proporsional, komunikasi buruk, ketidakjelasan peran, dan minimnya dukungan dapat memperbesar tekanan psikologis. Sebaliknya, lingkungan kerja yang sehat, kepemimpinan suportif, hubungan kerja yang baik, dan kesempatan berkembang dapat memperkuat keterlibatan karyawan (employee engagement).

Ketangguhan individu dan kualitas lingkungan kerja dengan demikian saling berkaitan. Karyawan memiliki tanggung jawab mengembangkan diri. Namun, organisasi juga bertanggung jawab menciptakan ruang yang memungkinkan proses tersebut berlangsung.

Pengembangan manusia pada akhirnya bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan bagian dari strategi organisasi untuk menjaga keberlanjutan kinerja sekaligus memanusiakan manusia yang bekerja di dalamnya.

Dari Kesadaran Menuju Kebangkitan

Perubahan zaman akan terus bergerak. Teknologi berkembang, kebutuhan pekerjaan berubah, dan kompetensi yang dianggap memadai hari ini mungkin perlu diperbarui pada masa mendatang. Tidak semua perubahan dapat dikendalikan. Namun, manusia tetap memiliki ruang untuk menentukan bagaimana meresponsnya.

Di sinilah pembacaan reflektif atas Osik–Gumregah menemukan relevansinya. Osik mengajak manusia membangun kesadaran dan keberanian melihat kenyataan. Gumregah menggerakkan kesadaran itu menjadi tindakan. Sementara itu, resiliensi menjaga agar manusia tetap mampu belajar, menyesuaikan diri, dan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Ketiganya membentuk perjalanan pengembangan diri yang saling berkaitan. Kesadaran tanpa tindakan tidak membawa perubahan. Tindakan tanpa ketangguhan mudah terhenti ketika menghadapi hambatan. Sebaliknya, ketangguhan tanpa kesadaran dan arah dapat membuat seseorang sekadar bertahan tanpa mengetahui ke mana harus melangkah.

Jika dirangkai dengan dua gagasan sebelumnya, perjalanan ini membentuk alur yang utuh. Owah Gingsiring Jaman mengingatkan manusia untuk menyadari bahwa perubahan merupakan kenyataan. Moco Kahanan mengajak manusia membaca situasi, memahami konteks, dan menentukan arah. Selanjutnya, Osik–Gumregah menggerakkan manusia untuk bangkit, bertindak, dan menjaga ketangguhan dalam menjalani perubahan.

Sadar akan perubahan. Mampu membaca keadaan. Kemudian bangkit dan bertindak.

Inilah perjalanan yang perlu terus dibangun dalam pengembangan sumber daya manusia. Kualitas manusia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai atau seberapa tinggi keterampilan yang dimiliki. Kualitas itu juga terlihat dari kemampuan mengenali perubahan, belajar dari pengalaman, menghadapi tekanan, dan terus memperbaiki diri.

Manusia yang bertumbuh bukanlah manusia yang tidak pernah mengalami kesulitan. Ia adalah manusia yang mampu mengambil pelajaran dari kesulitan, menemukan kembali kekuatan dalam dirinya, dan melanjutkan langkah dengan arah yang lebih baik.

Osik menjadi awal kesadaran. Gumregah menjadi wujud kebangkitan. Resiliensi menjadi daya yang menjaga manusia agar tetap bertumbuh di tengah perubahan.

 

Biografi Singkat Penulis

Thonang Effendi

Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Master Trainer BNSP dan Praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *