Ageman yang Terlihat dari Perilaku Mengukur Nilai dari Laku Kehidupan

Ageman yang Terlihat dari Perilaku

Mengukur Nilai dari Laku Kehidupan

Oleh: Thonang Effendi

 

Ada pengalaman yang tidak selesai ketika kita meninggalkan sebuah tempat. Ia tinggal dalam ingatan, sesekali muncul kembali, lalu mengajak kita memikirkan sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya kita pahami saat mengalaminya.

Saya masih mengingat sebuah pengalaman di Taman Budaya Surakarta, ketika menyaksikan sebuah peristiwa seni yang mempertemukan ekspresi kontemporer dengan ingatan kebudayaan Jawa. Saya memasuki sebuah lorong gelap. Tirai-tirai hitam membatasi sisi kanan dan kiri. Langkah kaki membawa saya semakin jauh ke dalam ruang yang senyap. Di ujung lorong, sebuah cermin menunggu.

Suara macapat Pangkur mengalun, membawa bait pertama Serat Wedhatama karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV:

Mingkar-mingkuring angkara,

akarana karenan mardi siwi,

sinawung resmining kidung,

sinuba sinukarta,

mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,

kang tumrap ing tanah Jawa,

agama ageming aji.

 

Bait itu telah lama dikenal, tetapi mendengarnya dalam lorong gelap, lalu berhadapan dengan cermin di ujung perjalanan, menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ketika sampai di depan cermin, tubuh saya terlihat utuh. Tidak ada lagi bayangan orang lain yang perlu diamati. Yang hadir justru diri sendiri.

Cermin tidak memberikan penilaian. Ia tidak memuji, tidak pula mencela. Ia hanya memantulkan apa yang berada di hadapannya. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah muncul pertanyaan yang lebih dalam: jika agama disebut sebagai ageming aji, sudahkah agama benar-benar menjadi ageman dalam kehidupan yang saya jalani?

Pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan mengingat ajaran, mengulang nasihat, atau menunjukkan identitas. Ia meminta sesuatu yang lebih nyata: memeriksa cara kita hidup.

Agama Bukan Sekadar yang Dikenakan

Ungkapan agama ageming aji dalam Serat Wedhatama mengandung gambaran yang kuat. Agama diibaratkan sebagai ageman, sesuatu yang dikenakan dan menyertai kehidupan. Namun, dalam pemaknaan reflektif ini, ageman bukan sekadar sesuatu yang terlihat dari luar. Nilainya terletak pada bagaimana pedoman itu menyertai seseorang ketika menjalani kehidupan.

Pakaian dapat dikenakan untuk menghadiri suatu acara, tetapi nilai yang diyakini tidak semestinya hanya hadir pada kesempatan tertentu. Kejujuran tidak cukup ditampilkan ketika berbicara di hadapan orang banyak. Amanah tidak cukup diucapkan ketika meminta kepercayaan. Kesantunan tidak cukup dijaga ketika berhadapan dengan orang yang dihormati.

Nilai menemukan maknanya ketika tetap menjadi pedoman dalam keadaan yang tidak selalu menguntungkan: ketika berkata jujur membawa risiko, menunaikan amanah membutuhkan pengorbanan, berlaku adil berarti menahan kepentingan diri sendiri, atau meminta maaf mengharuskan seseorang mengakui kesalahan yang ingin disembunyikannya.

Di situlah agama bergerak dari sesuatu yang diyakini menuju sesuatu yang dijalani.

Tentu saja, kehidupan beragama tidak dapat direduksi menjadi penampilan perilaku semata. Ada keyakinan, niat, ibadah, pergulatan batin, dan proses panjang yang tidak seluruhnya terlihat oleh orang lain. Namun, nilai yang dihayati juga memiliki konsekuensi dalam cara seseorang memperlakukan kehidupan. Keyakinan yang tumbuh semestinya memberi arah bagi pilihan dan tindakan.

Karena itu, pertanyaan tentang agama sebagai ageman tidak cukup berhenti pada, “Apa yang kita yakini?” Pertanyaan itu perlu dilanjutkan dengan, “Bagaimana keyakinan tersebut membimbing kita ketika harus memilih, bertindak, dan mempertanggungjawabkan akibatnya?”

Laku sebagai Jejak Nilai

Dalam kehidupan Jawa, gagasan tentang nilai yang dijalani dapat didekati melalui kata laku: tindakan, cara menjalani, dan praktik kehidupan. Nilai tidak berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran. Ia memperoleh bentuk melalui tindakan yang dilakukan berulang kali, hingga menjadi bagian dari kebiasaan dan karakter.

Seseorang dapat berbicara panjang tentang kejujuran. Namun, kejujuran menemukan wujudnya ketika ia menyampaikan keadaan sebagaimana adanya, termasuk saat fakta itu tidak menguntungkan dirinya. Amanah pun bukan sekadar sesuatu yang diajarkan, melainkan sesuatu yang dibuktikan ketika tugas diselesaikan dengan sungguh-sungguh, hak orang lain dijaga, dan kepercayaan tidak dipakai untuk kepentingan pribadi.

Demikian pula keadilan. Ia bukan sekadar kata yang indah dalam pidato atau dokumen resmi. Keadilan diuji ketika seseorang memiliki kewenangan untuk menentukan nasib orang lain. Apakah keputusan diambil berdasarkan pertimbangan yang patut, atau dipengaruhi kedekatan, keuntungan, dan kepentingan kelompok sendiri?

Kepedulian tidak selalu hadir dalam tindakan besar. Ia dapat dimulai dari kesediaan mendengarkan orang yang sedang kesulitan, tidak mempermalukan mereka yang melakukan kesalahan, membantu tanpa merendahkan, serta menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memberi manfaat.

Nilai luhur tidak selalu membutuhkan panggung. Ia justru sering terlihat dalam keputusan sederhana yang dilakukan berulang kali: mengembalikan sesuatu yang bukan hak kita, mengakui kekeliruan, memenuhi janji, menghormati hak orang lain, atau menolak keuntungan yang diperoleh dengan cara tidak patut.

Jejak moral tidak selalu berupa sesuatu yang besar dan mudah dikenang. Kadang-kadang ia hadir sebagai kepercayaan yang tumbuh, rasa aman yang dirasakan orang lain, atau masalah yang tidak jadi membesar karena seseorang memilih bersikap bijaksana. Jejak itu mungkin tidak meninggalkan nama, tetapi dapat meninggalkan manfaat.

Ujian Sesungguhnya: Ketika Tidak Ada yang Melihat

Ada perbedaan antara melakukan sesuatu karena takut diketahui orang dan melakukannya karena menyadari bahwa tindakan itu memang benar. Keduanya mungkin menghasilkan perilaku yang sama dalam suatu kesempatan. Namun, ketika pengawasan menghilang, perbedaan itu dapat menjadi nyata.

Di tempat kerja, misalnya, seseorang dapat terlihat disiplin ketika atasannya berada di dekatnya. Akan tetapi, bagaimana ia menggunakan waktu, menjaga fasilitas, menyelesaikan tanggung jawab, dan menyampaikan laporan ketika tidak ada yang mengawasi? Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat tampak santun di hadapan orang yang dihormati. Namun, bagaimana ia berbicara kepada orang yang tidak memiliki kuasa untuk membalas perlakuannya?

Pertanyaan semacam ini membawa kita pada konsep ihsan dalam ajaran Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, ihsan dijelaskan sebagai keadaan ketika seseorang beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihat-Nya; dan jika ia tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatnya.

Ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan tidak hanya berlangsung di hadapan pandangan manusia. Ada tanggung jawab batin yang menyertai tindakan, termasuk ketika tidak ada pujian, teguran, atau pengawasan sosial.

Kesadaran ini memberi kedalaman pada integritas. Seseorang tidak menjaga kejujuran semata-mata agar reputasinya tetap baik. Ia menjaganya karena kejujuran merupakan nilai yang patut dijalankan. Ia tidak menunaikan amanah hanya untuk memperoleh pengakuan, tetapi karena amanah memang perlu dipertanggungjawabkan.

Nilai, dengan demikian, bukan sekadar aturan yang ditaati ketika ada risiko hukuman. Nilai menjadi pedoman yang membantu seseorang menentukan tindakan, bahkan ketika ia memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya.

Namun, kesadaran spiritual tidak memberi manusia kewenangan untuk memastikan kadar iman orang lain. Kita dapat menilai suatu tindakan sebagai jujur atau tidak jujur, adil atau tidak adil, membawa manfaat atau menimbulkan kerugian. Kita juga dapat mengingatkan dan meminta pertanggungjawaban. Tetapi kita tidak mengetahui sepenuhnya pergulatan batin seseorang, seluruh niatnya, atau bagaimana Allah menilai dirinya.

Karena itu, ihsan sebaiknya pertama-tama membawa kita kepada pemeriksaan diri. Sebelum bertanya apakah orang lain telah menjalankan nilai yang diyakininya, kita dapat bertanya: bagaimana dengan diri sendiri ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan?

Rupa, Citra, dan Dampak Kehidupan

Kehidupan modern menyediakan semakin banyak ruang bagi manusia untuk menampilkan dirinya. Melalui media sosial, seseorang dapat memilih kata-kata, gambar, dan peristiwa yang ingin diperlihatkan kepada dunia. Citra diri dapat dibangun dengan rapi. Ungkapan kebajikan dapat disampaikan dengan meyakinkan. Kepedulian dapat ditampilkan melalui dokumentasi yang menarik.

Semua itu tidak dengan sendirinya keliru. Menyebarkan pesan baik dapat memberi inspirasi. Mendokumentasikan kegiatan sosial dapat mengajak orang lain berbuat serupa. Menampilkan identitas keagamaan juga merupakan bagian dari kebebasan seseorang.

Persoalan muncul ketika citra menjadi lebih penting daripada substansi, ketika kesan tentang kebaikan menggantikan usaha untuk berbuat baik, atau ketika kata-kata yang luhur tidak diikuti kesediaan menanggung tanggung jawab.

Kita dapat mengunggah pesan tentang kejujuran, tetapi tetap perlu memeriksa apakah laporan yang kita buat benar. Kita dapat berbicara tentang persaudaraan, tetapi tetap perlu melihat apakah kita menghormati orang yang berbeda pendapat. Kita dapat menyampaikan pesan kepedulian, tetapi kepedulian itu juga perlu hadir dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan orang lain.

Cermin digital memperlihatkan bagian diri yang sengaja kita tampilkan. Kehidupan sehari-hari memperlihatkan bagaimana kita bertindak ketika keadaan tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut.

Ukuran keluhuran bukan seberapa sering seseorang berbicara tentang kebaikan, melainkan kesediaannya untuk terus mengupayakan kebaikan itu dalam kenyataan. Bukan berarti manusia tidak boleh memiliki kelemahan atau melakukan kesalahan. Setiap orang dapat keliru, gagal, dan harus belajar kembali. Yang penting adalah kesediaan mengakui kesalahan, memperbaiki akibatnya, dan tidak menjadikan nilai luhur sekadar hiasan untuk menutupi perilaku.

Agama sebagai ageman bukan tuntutan agar manusia tampak sempurna setiap saat. Ia merupakan panggilan untuk terus menyelaraskan keyakinan, perkataan, dan perbuatan.

Jejak yang Ditinggalkan bagi Sesama

Laku kehidupan tidak hanya membentuk pribadi. Ia juga memengaruhi mutu kehidupan bersama. Kejujuran membangun kepercayaan. Keadilan menjaga hubungan agar tidak dikuasai kesewenang-wenangan. Tanggung jawab membuat pekerjaan dan kehidupan sosial berjalan lebih baik. Kepedulian membantu manusia bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Sebaliknya, ketidakjujuran yang dianggap kecil dapat merusak kepercayaan. Penyalahgunaan kewenangan dapat membuat orang lain kehilangan kesempatan. Kebiasaan merendahkan sesama dapat menciptakan lingkungan yang tidak aman. Jika perilaku semacam ini dibiarkan menjadi kebiasaan bersama, kerugiannya melampaui persoalan pribadi.

Dalam cakrawala kearifan Jawa, gagasan memayu hayuning bawana mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri. Ada dunia bersama yang perlu dirawat, hubungan yang perlu dijaga, dan kehidupan yang perlu diupayakan agar semakin baik. Keluhuran bukan hanya perkara bagaimana seseorang merasa dirinya baik, melainkan juga bagaimana kehadirannya ikut memberi ruang bagi kebaikan.

Dalam keluarga, laku itu terlihat ketika anggota keluarga saling menghormati dan bersedia bertanggung jawab. Dalam pekerjaan, ia hadir ketika seseorang menjalankan tugas secara profesional dan tidak mengambil hak orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, ia tercermin melalui kepatuhan pada aturan yang adil, kepedulian terhadap kepentingan umum, serta keberanian memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan penghormatan terhadap sesama.

Nilai luhur memiliki dimensi pribadi sekaligus sosial. Ia menata hubungan manusia dengan keyakinannya, sekaligus memengaruhi cara manusia hidup berdampingan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang ageman tidak hanya berkaitan dengan apa yang kita kenakan atau ucapkan, melainkan juga dengan apa yang tumbuh dalam kehidupan karena kehadiran kita. Apakah orang lain merasa lebih aman atau justru dirugikan? Apakah kepercayaan bertambah atau terkikis? Apakah tindakan kita membantu memperbaiki keadaan atau malah menambah persoalan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan alat untuk menghakimi seluruh diri seseorang. Ia merupakan cara untuk menguji dampak tindakan dan membuka kemungkinan perbaikan.

Kembali ke Cermin

Cermin di ujung lorong tidak pernah menjelaskan siapa orang yang berdiri di hadapannya. Ia hanya memantulkan sosok yang datang. Penilaian, pertanyaan, dan keputusan untuk berubah tetap berada pada orang yang bercermin.

Barangkali demikian pula perjalanan memahami agama ageming aji. Kita dapat mempelajari ajaran, mengenali kearifan leluhur, dan mengagumi nilai-nilai luhur yang diwariskan. Namun, semua itu memerlukan kelanjutan dalam laku. Nilai yang diyakini perlu dibawa ke ruang keluarga, tempat kerja, pergaulan, ruang digital, dan setiap kesempatan ketika kita harus memilih tindakan.

Tidak ada manusia yang selalu berhasil menjalankan seluruh nilai luhur tanpa cela. Karena itu, bercermin bukan berarti mencari pembenaran bahwa diri sudah baik, melainkan berani melihat bagian yang masih perlu diperbaiki. Kejujuran dimulai ketika kita bersedia mengakui keadaan diri. Keluhuran bertumbuh ketika pengakuan itu diikuti usaha untuk berubah.

Kita memang tidak dapat membaca seluruh isi batin orang lain. Akan tetapi, kita dapat terus memperbaiki laku sendiri, meminta maaf ketika merugikan, menunaikan amanah, menjaga keadilan, dan berusaha menghadirkan manfaat. Di sanalah nilai memperoleh wujudnya dalam kehidupan yang dapat dirasakan bersama.

Agama sebagai ageman bukan sekadar sesuatu yang melekat pada identitas. Ia adalah pedoman yang terus diuji dalam perjalanan hidup. Bukan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan untuk membimbingnya agar lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, dan kehidupan.

Setelah belajar bahwa nilai perlu diwujudkan dalam laku, perjalanan belum selesai. Kita masih perlu belajar membaca kehidupan dengan lebih cermat: mengamati peristiwa, mengenali pola, membedakan kebetulan dari kecenderungan, serta mengambil pelajaran tanpa tergesa-gesa menyimpulkan.

Dalam tradisi Jawa, salah satu jalan untuk melatih kepekaan semacam itu dikenal melalui titen—kesediaan memperhatikan, mengingat, dan belajar dari apa yang berulang dalam kehidupan.

Dari agama sebagai ageman, kita bergerak menuju titen sebagai cara membaca kehidupan. Sebab, untuk menata laku dengan lebih bijaksana, manusia tidak hanya memerlukan nilai sebagai pedoman, tetapi juga kejernihan dalam mengamati kenyataan.

Dan perjalanan itu, sebagaimana bercermin di ujung lorong, selalu dapat dimulai dari diri sendiri.

Biografi Singkat Penulis

Thonang Effendi adalah Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII, Master Trainer BNSP, dan praktisi Learning & People Development. Ia juga pemerhati kebangsaan dan pendidikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *