Jakarta, Beritakotanews.id : Dalam Plenary Address pada Simposium Penulisan Ulang Sejarah Islam Indonesia yang diadakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menyampaikan prasaran berjudul “Menulis Ulang Asal-Usul Nasionalisme Indonesia: Pendidikan Islam, Jaringan Pesantren, dan Pembentukan Kesadaran Kebangsaan—Studi Kasus K.H. Sholeh Darat. Guru Besar Undip Semarang, Prof.Dr. Drs.Singgih Tri Sulistiyono, M.Si menyampaikan bahwa Tema simposium ini tidak hanya menyangkut sejarah Islam, tetapi juga menyentuh fondasi historiografi Indonesia. Di tengah kemajuan penulisan sejarah nasional, masih terdapat satu pertanyaan mendasar: dari manakah sesungguhnya nasionalisme Indonesia berakar?.

“Selama lebih dari satu abad, asal-usul nasionalisme umumnya dijelaskan melalui Politik Etis, pendidikan Barat, lahirnya kaum terdidik, dan organisasi-organisasi modern awal abad ke-20. Penjelasan tersebut memiliki dasar historis yang kuat, tetapi belum sepenuhnya menerangkan bagaimana kesadaran kebangsaan (national consciousness) tumbuh di tengah masyarakat. Karena itu, saya mengajak kita membaca kembali asal-usul nasionalisme Indonesia melalui perspektif yang lebih luas,”Jelas Prof.Singgih.

Ia selanjutnya menjelaskan, melalui studi kasus K.H. Sholeh Darat, Prof.Singgih berargumen bahwa pendidikan Islam, jaringan pesantren, tradisi literasi, dan jaringan ulama merupakan bagian penting dalam pembentukan kesadaran kebangsaan. Dengan demikian, menulis ulang sejarah Islam Indonesia berarti sekaligus merekonstruksi historiografi nasionalisme Indonesia agar lebih utuh, lebih inklusif, dan lebih Indonesia-sentris.

Apabila pendidikan Islam dan jaringan pesantren merupakan fondasi pembentukan kesadaran kebangsaan, maka K.H. Sholeh Darat (1820–1903) menunjukkan bagaimana proses tersebut bekerja dalam praktik sejarah. Beliau bukan sekadar ulama besar Semarang, melainkan bukti historis bahwa pendidikan Islam mampu membangun kesadaran kolektif jauh sebelum nasionalisme memperoleh artikulasi politik melalui organisasi-organisasi modern.

“Dalam hal ini, KH. Sholeh Darat diposisikan bukan sebagai objek biografi, melainkan sebagai studi kasus historiografis mengenai apa yang saya sebut Islamic Intellectual Nationalism, yakni tradisi perjuangan yang membangun bangsa melalui pendidikan, literasi, dan jaringan intelektual. Bahkan, beliau dapat dipandang sebagai salah satu penyemai proto-nasionalisme Indonesia,” ujar Prof.Singgih.

Kontribusinya tampak dalam empat hal, lanjut Guru Besar Undip Semarang yang juga Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Pertama, menjadikan pendidikan sebagai sarana emansipasi intelektual. Kedua, melalui Tafsir Faidh al-Rahman berbahasa Jawa beraksara Pegon, beliau melakukan dekolonisasi sekaligus demokratisasi pengetahuan agar Al-Qur’an dapat dipahami masyarakat luas. Ketiga, hubungan intelektualnya dengan R.A. Kartini turut menginspirasi gerakan pencerahan pribumi. Keempat, melalui murid-muridnya seperti K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari, pesantren melahirkan kepemimpinan yang kemudian menjadi motor pembaruan Islam, pendidikan, dan kebangsaan. Dengan demikian, kasus K.H. Sholeh Darat memperkuat tesis bahwa pendidikan Islam dan jaringan pesantren merupakan salah satu akar intelektual nasionalisme Indonesia yang selama ini belum memperoleh tempat yang proporsional dalam historiografi nasional.(fin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *