Tegal, Beritakotanews.id : Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau posko pengungsian korban bencana tanah bergerak di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Adalah 2, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (06/02/2026). Kunjungan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar penanganan bencana dilakukan secara cepat, terpadu, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.
Wapres didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman meninjau langsung kondisi lapangan serta berdialog dengan para pengungsi di lingkungan pesantren yang dipimpin K.H. Tasrifin Salim, untuk memastikan kondisi pengungsi serta penanganan darurat berjalan dengan baik dan terkoordinasi.
Kepada warga dan santri, Wapres menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama pemerintah.
“Sekarang prioritasnya adalah keselamatan warga, keselamatan para santri. Jadi jangan memaksakan diri untuk kembali ke atas atau berusaha untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di atas. Ini keselamatan para itu semua, santri-santri semua ini yang nomor satu,” tegas Wapres.
Wapres menekankan bahwa kondisi alam di lokasi terdampak sudah tidak memungkinkan untuk dihuni kembali sehingga relokasi menjadi langkah strategis demi keselamatan bersama.
“Pokoknya sekali lagi ini yang di nomer satu kan, keselamatan warga, serta para santri semua,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Bupati Tegal menyampaikan bahwa wilayah terdampak masih sangat berbahaya karena pergerakan tanah masih berlangsung.
“Itu sangat berbahaya sekali untuk kembali ke sana. Jadi mohon jangan dipaksakan untuk kembali ke sana,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penanganan Darurat Wilayah I BNPB, Agus Riyanto, menjelaskan bahwa penanganan bencana dilakukan melalui asesmen terpadu bersama Badan Geologi dan pemetaan wilayah terdampak sebagai dasar penentuan kebijakan relokasi.
“Ini konsepnya relokasi, yang penting bagaimana supaya masyarakat, alhamdulillah, sekarang selamat dan ke depan tentu, sampai depan Pusat Geologi bakal kembali, ya, relokasi,” ujar Agus.
Sementara, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Adalah, Idatun Nachriyah, menyampaikan bahwa evakuasi santri telah dilakukan lebih awal untuk menghindari risiko korban jiwa. Ia berharap pemerintah dapat membantu pemulihan sarana pendidikan yang terdampak bencana.
“Harapannya nanti kita dapat pencerahan. Bisa dibantu lokasi ruang kelas kami. Sudah hilang semuanya. Itu gedung SMA. Ruang kelasnya mereka sudah hilang. Harapannya mereka ada tempat untuk tinggal. Tinggal sementara ada rumah singgah. Dan juga ruang pelajar,” ungkapnya.
Sebagai informasi, jumlah pengungsi yang berada di Posko Pengungsian Pondok Pesantren Al-Adalah 2 mencapai 526 jiwa yang merupakan santri Pondok Pesantren Dawuhan Padasari, terdiri dari 234 santri putra dan 292 santri putri. Seluruh santri tersebut saat ini berada dalam penanganan terpadu pemerintah pusat dan daerah, dengan pemenuhan kebutuhan dasar meliputi tempat tinggal sementara, logistik, layanan kesehatan, serta pendampingan psikososial sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. (Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Wakil Presiden).

