Tritura 1966: Ketika Pemuda Menyalakan Bara Perubahan
Oleh: Thonang Effendi*)
Bara semangat pemuda adalah kekuatan yang mampu mengguncang sejarah, membakar stagnasi, dan menyalakan perubahan. Seperti kata Presiden Sukarno, “Beri Aku 10 Pemuda, maka akan aku guncang dunia.” Kata-kata itu bukan sekadar retorika, tetapi cerminan keyakinan bahwa energi, keberanian, dan kegelisahan generasi muda bisa menjadi pemicu transformasi bangsa. Bara yang menyala itu, jika diarahkan dengan bijak, bukan hanya menghangatkan sekitarnya, tetapi mampu menyalakan api perubahan yang menuju Indonesia sejahtera dan berkeadilan.
Pada tanggal 10 Januari 1966, ribuan mahasiswa di seantero nusantara turun ke jalan, membawa satu semangat yang sama: ingin melihat Indonesia sejahtera. Demonstrasi yang kemudian dikenal dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) lahir bukan dari keinginan semata, melainkan dari keresahan yang membara—dari lelah melihat rakyat kelaparan, harga bahan pokok melambung, hingga kondisi politik yang memanas pasca peristiwa G30S/PKI. Saat itu, Kabinet Dwikora masih mengakomodasi unsur-unsur PKI, dan pemerintah tampak lamban dalam menangani tragedi 30 September 1965, bahkan cenderung menganggapnya sebagai sekadar dinamika politik biasa.
Dalam ketegangan itulah, mahasiswa dan pemuda berdiri. Mereka membawa suara rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk perubahan yang lebih besar. Selama beberapa hari, terutama puncaknya pada 10 hingga 13 Januari 1966, aspirasi itu dituangkan dalam aksi yang monumental, menegaskan bahwa pemuda adalah penggerak perubahan. Tritura bukan sekadar tuntutan politik; ia adalah simbol bara semangat yang, jika diarahkan dengan benar, mampu membakar apa pun yang menghalangi keadilan dan kesejahteraan. Salah satu slogan mereka yang terus dikenang adalah:
“Tuntutan rakyat adalah suara nurani bangsa!”
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa setiap perubahan besar selalu diwarnai oleh energi pemuda. Sedikit mundur ke masa pra-Proklamasi Kemerdekaan, peristiwa Rengasdengklok menjadi pemicu bagi Sukarno-Hatta untuk membacakan Proklamasi. Tritura sendiri menjadi tonggak penting peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Semangat yang sama kembali terlihat pada tahun 1998, saat pemuda menyalakan gelora perubahan menuju era Reformasi.
Refleksi dari perjalanan ini jelas: pemuda memiliki energi luar biasa yang strategis bagi bangsa. Bara semangat yang muncul dari kegelisahan dan ketidakpuasan bisa menjadi bencana jika disalurkan tanpa arah, atau bisa menjadi nyala api produktif bila diarahkan dengan tepat. Nyala itu, seperti api di kompor, mampu mendidihkan air untuk secangkir kopi, menghangatkan dari dingin, atau menggoreng pisang untuk dinikmati bersama. Dalam konteks bangsa, bara itu harus dikelola oleh seluruh stakeholder: pemerintah, pendidik, tokoh masyarakat, dan generasi itu sendiri, agar energi pemuda menjadi kekuatan konstruktif, bukan destruktif.
Hari ini, ketika kita mengenang 60 tahun Tritura, pesan yang perlu diteruskan jelas: pemuda adalah tonggak perubahan Indonesia, dan semangat mereka harus dikelola agar membawa bangsa menuju kesejahteraan. Bara yang dulu membakar jalanan kini bisa menjadi nyala inspirasi untuk generasi emas Indonesia 2045, generasi yang akan menata masa depan dengan inovasi, kejujuran, dan dedikasi berbasis karakter luhur bangsa.
Tritura bukan hanya catatan sejarah, tetapi pengingat bahwa suara pemuda selalu relevan. Sejarah telah membuktikan, bila bara itu dirawat dengan bijak, ia mampu menyalakan perubahan yang berkesinambungan—menjadi energi positif yang menggerakkan Indonesia menuju cita-cita sejahtera dan adil bagi seluruh rakyatnya.**
*Penulis
Thonang Effendi
Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII
Pemerhati Kebangsan dan Pendidikan

