Pers, Pendidikan Karakter, dan Masa Depan Bangsa Indonesia

Oleh Thonang Effendi*)

Hari Pers Nasional bukan sekadar penanda usia sebuah profesi, melainkan momentum untuk kembali merenungkan peran strategis pers dalam perjalanan bangsa. Di tengah dinamika demokrasi dan derasnya arus informasi, pers tetap memikul tanggung jawab historis dan moral yang tidak ringan: menjaga akal sehat publik sekaligus menumbuhkan karakter bangsa.

Dalam sistem demokrasi modern, pers kerap disebut sebagai pilar keempat. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Pers hadir sebagai penyampai informasi yang akurat, pengawas sosial terhadap kekuasaan, pembentuk opini publik, sekaligus promotor nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pemberitaan, tajuk rencana, dan opini, pers tidak hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi juga membantu publik memahami makna di balik peristiwa.

Di titik inilah pers bekerja pada wilayah yang lebih dalam: wilayah nilai. Apa yang dipilih untuk diberitakan, bagaimana suatu peristiwa ditulis, serta sudut pandang yang digunakan, secara langsung maupun tidak langsung membentuk cara pandang masyarakat. Pers, dengan demikian, tidak pernah benar-benar netral secara nilai. Ia selalu membawa konsekuensi edukatif—baik disadari maupun tidak.

Jika kita menengok ke belakang, peran edukatif pers telah mengakar kuat sejak era pra-kemerdekaan. Salah satu tokoh yang memahami betul fungsi ini adalah HOS Tjokroaminoto. Bagi pemimpin Sarekat Islam tersebut, pers bukan sekadar alat propaganda politik, melainkan sarana pencerahan dan pendidikan rakyat. Melalui tulisan-tulisan di media, kesadaran kebangsaan ditumbuhkan, nalar kritis diasah, dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan disemai.

Pers pada masa itu berperan sebagai “guru bangsa”. Ia mengajarkan keberanian berpikir, keberanian bersuara, serta keberanian bermimpi tentang Indonesia yang merdeka dan bermartabat. Nilai-nilai kejujuran, pengorbanan, solidaritas, dan cinta tanah air ditanamkan bukan melalui ceramah, melainkan melalui narasi yang membangkitkan kesadaran kolektif. Sejarah ini menunjukkan bahwa sejak awal, pers Indonesia lahir dengan watak edukatif dan keberpihakan pada pembentukan karakter bangsa.

Memasuki era digital, peran pers menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Kecepatan informasi, media sosial, dan algoritma telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi berita. Informasi beredar tanpa saringan, opini bercampur dengan fakta, dan sensasi sering kali mengalahkan substansi. Dalam situasi seperti ini, pers tidak cukup hanya bersaing soal kecepatan. Pers justru diuji pada kedalaman, akurasi, dan tanggung jawab etiknya.

Di tengah banjir informasi digital, pers modern dituntut untuk adaptif tanpa kehilangan jati diri. Platform boleh berubah, medium boleh bergeser, tetapi nilai dasar jurnalistik harus tetap dijaga. Di sinilah pers memiliki peran strategis sebagai sarana edukasi publik dan peningkatan literasi digital. Melalui pemberitaan yang berimbang, analisis yang jernih, serta narasi yang beradab, pers dapat membantu masyarakat—terutama generasi muda—membedakan antara fakta dan opini, antara kritik dan ujaran kebencian, antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial.

Lebih dari itu, pers memiliki peluang besar untuk kembali meneguhkan perannya dalam pendidikan karakter bangsa. Di ruang digital yang sering kali bising dan dangkal, kehadiran konten-konten yang mengangkat nilai kejujuran, kerja keras, empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial menjadi semakin penting. Pers dapat menghadirkan kisah-kisah inspiratif, teladan sosial, serta refleksi kebangsaan yang membumi dan relevan dengan kehidupan generasi hari ini.

Tanpa upaya sadar menghadirkan konten edukatif yang bernilai, generasi muda berisiko tumbuh sebagai generasi yang tercerabut dari akar jati dirinya. Globalisasi dan budaya digital memang membuka cakrawala, tetapi tanpa fondasi karakter yang kuat, keterbukaan justru dapat melahirkan kebingungan identitas. Dalam konteks inilah pers berperan sebagai jembatan—menghubungkan nilai-nilai luhur bangsa dengan realitas global yang terus berubah.

Refleksi ini membawa kita pada kesadaran bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas karakter warganya. Pers, sebagai salah satu aktor penting dalam ekosistem pendidikan publik, memiliki kontribusi nyata dalam proses ini. Melalui pilihan kata, sudut pandang, dan keberpihakan pada nilai kebenaran, pers ikut membentuk wajah Indonesia di masa depan.

Pada akhirnya, tanggung jawab membangun karakter bangsa tidak hanya berada di pundak pers. Para pendidik, pemerhati pendidikan, dan praktisi pendidikan karakter memiliki peran yang sama pentingnya. Namun pers memiliki keunggulan strategis: jangkauan yang luas dan daya pengaruh yang besar. Ketika nilai-nilai luhur bangsa dihadirkan secara konsisten di ruang publik, ia akan menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat.

Bagi generasi muda, meluangkan waktu untuk membaca dan mengakses konten-konten pendidikan karakter bukanlah aktivitas yang sia-sia. Ia adalah investasi kepribadian—bekal untuk menjadi generasi unggul yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Dan bagi pers Indonesia, Hari Pers Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita, selalu ada tanggung jawab untuk ikut menjaga masa depan bangsa Indonesia.

*Penulis:
Thonang Effendi
Ketua Departemen Umum dan Pelatihan DPP LDII
Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *