Komunitas Rumah Pencerah untuk Kesekian Kalinya Meluncurkan Buku Hasil Karyanya

Jakarta, Beritakotanews.id — Bertempat di Rumah Joglo Anies Baswedan, Jalan Lebak Bulus Dalam II No. 42,6, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026), Komunitas Rumah Pencerah (KRP) kembali meluncurkan buku hasil karya komunitasnya. Buku berjudul 22 Hari Belajar Parenting yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga tersebut sekaligus dibedah dalam sebuah acara yang mempertemukan para penulis, pemerhati parenting, pendidik, serta sejumlah undangan.

Ketua Komunitas Rumah Pencerah, Sri Rahayu, S.Si., mengatakan, peluncuran dan bedah buku 22 Hari Belajar Parenting merupakan bagian dari perjalanan panjang KRP dalam melahirkan karya-karya yang berangkat dari pengalaman, pengetahuan, dan kepedulian terhadap dunia pendidikan keluarga.

Dalam sambutan pembukaan, Sri Rahayu mengungkapkan rasa syukurnya karena KRP untuk kesekian kalinya dapat menghasilkan sebuah karya yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya para orang tua.

Sebelumnya, KRP sudah beberapa kali menghasilkan karya berupa buku dengan judul yang berbeda. Maka, kepada semua pihak, saya sebagai Ketua KRP menyampaikan terima kasih atas semua dukungan dan support-nya. Kepada anggota komunitas, teruslah bersemangat untuk berbagi ilmu-ilmunya,” ujar Sri Rahayu, yang akrab disapa Yayu.

Menurut Yayu, buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan buah dari semangat para anggota komunitas untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Dari pengalaman itulah kemudian lahir gagasan yang dirangkai menjadi sebuah buku yang dapat menjadi teman belajar bagi para orang tua.

Sementara itu, Fery Farhati, S.Psi., M.Sc., sosok inspirator sekaligus pendiri Komunitas Rumah Pencerah, memberikan apresiasi terhadap proses kreatif yang dilakukan para anggota KRP dalam merangkum berbagai pengalaman orang tua ke dalam sebuah buku.

Menurut Fery, kekuatan buku 22 Hari Belajar Parenting terletak pada kisah-kisah pengalaman orang tua dalam mendidik anak yang disampaikan secara menarik, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan tidak terkesan menggurui.

Saya mengapresiasi apa yang sudah dikerjakan oleh teman-teman KRP untuk merangkum sebuah buku yang isinya adalah pengalaman-pengalaman orang tua dalam mendidik anak-anaknya, disampaikan dalam kisah-kisah yang menarik dan tidak menggurui, tetapi sebuah kisah yang bisa kita petik pengalamannya,” tutur Fery.

Ia menegaskan bahwa menjadi orang tua merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Tidak ada satu titik yang dapat membuat seseorang merasa telah menjadi orang tua yang sepenuhnya ahli, sebab tantangan dalam mendidik anak terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Menjadi orang tua itu tidak akan pernah bisa dikatakan sebagai ahli. Sebagai orang tua, sampai kita selesai menjadi orang tua, prosesnya terus berjalan karena kita menghadapi situasi yang terus berubah dari hari ke hari, dari zaman ke zaman. Anak kita juga bertumbuh di lingkungan yang mungkin berbeda dengan ketika kita bertumbuh,” jelasnya.

Karena itu, menurut Fery, orang tua perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar mampu merespons kebutuhan anak yang senantiasa berkembang.

Ia juga mengutip pandangan Anies Baswedan yang menyebut orang tua sebagai pendidik yang paling tidak tersiapkan. Hal itu karena tidak ada pendidikan formal khusus yang benar-benar mempersiapkan seseorang menjadi orang tua.

Untuk menjadi orang tua, kita harus terus memperbarui keahlian dan keterampilan kita sesuai dengan kebutuhan. Orang tua itu adalah pendidik yang paling tidak tersiapkan karena memang tidak ada sekolah formalnya dan tidak ada teorinya yang benar-benar baku, sebab semuanya terus berubah,” ungkap Fery.

Menurutnya, meskipun menjadi orang tua tidak memiliki jalur pendidikan formal, orang tua tetap dituntut untuk memiliki kemauan belajar, berkembang, dan bertumbuh. Dengan demikian, orang tua dapat merespons perubahan zaman sekaligus mendampingi anak-anak menghadapi lingkungan kehidupan yang terus berubah.

Buku 22 Hari Belajar Parenting sendiri menawarkan perspektif baru mengenai dunia pengasuhan anak. Buku ini tidak menempatkan orang tua pada tuntutan untuk menjadi sempurna, tetapi mengajak mereka membangun pola asuh yang hadir, penuh kasih sayang, dan konsisten.

Buku ini menawarkan perspektif baru tentang dunia parenting yang tidak menuntut kesempurnaan. Namun, buku ini mengajarkan pola asuh yang hadir, penuh kasih, dan konsisten untuk membangun karakter anak yang kuat,” demikian salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Peluncuran dan bedah buku itu turut dihadiri perwakilan Penerbit Erlangga, Pengurus PKK dari tingkat  Provinsi DKI Jakarta, Kecamatan hingga Kelurahan, pengamat parenting Sarin, Pengawas KRP Hj. Nana Maznah Prasetyo, para guru, serta sejumlah undangan lainnya.

Kehadiran para peserta menjadi bagian penting dari perjalanan buku tersebut. Sebab, pada akhirnya, sebuah buku tentang parenting bukan hanya berbicara mengenai teori mendidik anak, tetapi juga tentang perjalanan manusia dalam belajar menjadi orang tua.

Melalui 22 Hari Belajar Parenting, Komunitas Rumah Pencerah kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan pengalaman sebagai sumber pembelajaran dan pengetahuan sebagai jembatan berbagi. Dari ruang-ruang percakapan sederhana tentang keluarga, lahir gagasan yang kemudian tumbuh menjadi karya dan diharapkan dapat menemani para orang tua dalam menjalani proses panjang mendidik generasi masa depan.(Fin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *